Neokolonialisme Coronaisasi
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Neokolonialisme Coronaisasi

INILAMPUNG
Jumat, 20 Maret 2020

"Saya akan membuat early and rapid diagnostic dan vaksin dari virus strain Indonesia secara mandiri."

KALIMAT itu saya kutip dari buku "Saatnya Dunia Berubah" karya Siti Fadilah Supari, halaman 23. 

Setelah dia menjelaskan, tidak akan mengirim sampel virus Flu Burung ke WHO selama mekanismenya, mengikuti GISN. Sebab, tidak adil. Negara terdampak justru dipaksa membayar mahal dari barang yang mestinya, dimiliki negara itu.

Pernyataan yang langsung membuat dunia kesehatan gempar. Banyak media menulis, perlawanan perempuan dari Solo, Jawa Tengah yang jadi dokter ahli jantung ini. Tetapi, media luar negeri. Media dalam negeri saat itu, lebih sibuk menyiarkan rilis dari WHO soal suspek Flu Burung.

Badan Kesehatan Dunia, kaget. Ternyata, ada perlawanan dari negara miskin yang biasanya, takhluk dan tertunduk atas intervensi negara maju pada bidang apa pun. 

Saat itu, Uskup Jakarta Romo Darmaatmadja berkomentar, tentang perjuangan seorang perempuan Indonesia melawan ketidakadilan yang muncul dari kapitalisme global dan berakibat buruk bagi dunia kesehatan di negerinya. 

Termasuk, alm Gus Solah. Memberikan testimoni, Siti Fadilah Supari melawan ketidakadilan WHO dengan gagah berani. 

Kita bisa mengamati, rilis dan pemberitaan sekarang. Sikap WHO yang mendikte pemerintah sejak awal munculnya wabah Corona ini sama dengan dimulainya suspek Flu Burung atau virus H5N1. 

Pemerintah yang tanggap dan berani, bertindak cepat dan tepat. Merespon taktis sesuai dosis, sangat penting. Dibutuhkan. Sebab, masyarakat hanya bisa pasrah. Nrima ing pandhum. Bahwa kemudian, sekujur hidup sosial dari Siti Fadilah Supari yang khilaf dikejar dan dicari-cari kesalahan agar mendapat efek jera akibat melawan dominasi penjahat adikuasa. Sudah diprediksi sehingga judul kisah buku itu, meneguhkan adanya subjudul. "Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung".

Perempuan sederhana yang melakukan lobi untuk menggalang dukungan negara-negara berkembang, agar berani menjadi sponsor gugatan kepada WHO dan menelurkan "Deklarasi Jakarta" pada 2007 itu. Digambarkan, bukan sebuah jalan perlawanan yang mudah. Sebab, negara seperti Vietnam, Thailand, Singapura yang pasti dirugikan atas kebijakan dzalim WHO, ternyata menjadi utusan agar Indonesia membatalkan tuntutan. 

Apa pun keinginannya, dituruti agar virus sharing tidak disuarakan delegasi RI di Jenewa.

Kisah itu menjelaskan pada kita, bangsa ini cukup banyak punya pejuang nasionalisme dan penyokong kedaulatan negara di semua bidang. Sampai saat ini. Hanya mungkin, kita tidak tahu dan tidak semua pejuang mau tampil diabadikan dalam sejarah. Atau memilih kalah. Sebab takut pada kesulitan hidup di masa tuanya. Seperti Siti Fadilah Supari. Menang melawan WHO. Mengalahkan delegasi Amerika. 

Namun kaki tangan negara adikuasa, masih kokoh. Mengejar masa pensiunnya. Menghabisi secara sadis integritasnya. Dipenjara karena dianggap korupsi pengadaan Alkes. 

Jangan-jangan, alat kesehatan yang diadakan Siti Fadilah Supari hingga menjerumuskannya ke penjara itu, sebagai usaha agar bangsa ini mandiri dan bisa menangani pembuatan vaksin sendiri di Balitbangkes yang jadi cita-citanya. 

Berdikari di bidang farmasi, pasti membahayakan bisnis negara maju yang sudah lama menangguk untung dari kebodohan dunia kesehatan kita. 

Orang Indonesia, flu biasa hanya cukup dengan tolak angin atau kerokan. Namun itu semua, tidak cocok bagi dunia modern. 

Satu contoh. Masih ingat kasus pemalsu vaksin yang dikerjakan pasutri di rumahnya beberapa tahun lalu? 

Kita layak bertanya pada ahli soal virus. Jangan-jangan "vaksin palsu" yang dibuat suami istri yang digrebek polisi itu, lebih layak diinjeksikan ke bayi Indonesia dibanding yang dibagikan gratis oleh Posyandu. Hanya memang, pembuat vaksin tak bisa mengurus izin dari instansi berwenang atau justru, vaksin palsu itu mengganggu laba perusahaan besar dari negara maju?

Atau kita lihat gigihnya aparat menggrebek produksi rumahan jamu Cilacap. Sampai musnah. Minuman dari rempah, jahe, kunyit, dan beragam tumbuhan, diganti kemasan model extrajoss atau kratingdeng. Ikon Mbah Marijan bahkan jadi iklan, minuman kemasan penambah stamina. Bukan wedang uwuh atau beras kencur.

Entahlah. Kadang dunia memang tidak adil. Namun pasti, ada standar moral yang diterapkan secara merata. Kalimat di film IP-Man 3 itu terngiang. 

Rakyat yang baik dan berjuang untuk kebaikan, dibutuhkan negara. Akan tetapi yang lebih dibutuhkan bangsa ini adalah pejabat dan pemegang tampuk kekuasaan, bukan hanya baik moral, tapi juga kuat. Tegar menjaga amanah dan kedaulatan. 

Lebih dari itu, mewaspadai ancaman neokolonialime dari Coronaisasi. 

Semoga kita kuat, lolos dari ujian dua ancaman jahat yang menindas kemanusiaan ini. Amin. (*)

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng

LIPSUS