Nonton Film Outsiders
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Nonton Film Outsiders

INILAMPUNG
Kamis, 12 Maret 2020

SAYA sedang berada di Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Asyik menonton drama bersambung di HOOQ

Film seri yang mengesankan. Sinetron yang diterbitkan WGN Amerika pada 2016 itu, dinilai buruk dan membosankan oleh The New York Times

Film itu juga jadi perdebatan karena dianggap penuh vandalisme, terlalu liar, dan tidak mewakili suku pedalaman di Amerika. 

Judul film yang saya tonton adalah, Outsiders. Berbeda dengan film The Outsider yang diangkat dari buku Stephen King yang baru rilis di HBO awal tahun 2020.

Outsiders yang ditulis Petter Mattei, berkisah tentang benturan antara peradaban masyarakat yang tinggal di Gunung Shay, Kentucky dengan warga di perkotaan, bermukin di kaki gunung. 

Ketika musim dingin tiba, tak ada manusia mampu bertahan tinggal di pucuk. Kecuali klan dan keturunan dari Keluarga Farrel. Orang-orang gunung Appalachian. Membuat masyarakat luar menasbihkan sebagai “orang liar” yang penuh misteri. 

Di bawah, masyarakat sudah lebih modern.

Seperti lazimnya kota kecil di kaki gunung, pejabat dan aparat negara merupakan potret dari kerakusan dan yang "merasa" paling berhak atas sumber daya alam. Begitu juga Keluarga Farrel di puncak gunung, merasa sudah dijadikan tempat tinggal selama dua ratus tahun, turun-temurun.

Deputi Sheriff Wade Houghton yang diperankan Thomas M. Wright, polisi di distrik itu adalah pecandu alkohol, banyak meminum obat penenang, menjadi polisi paling baik. Dibanding rekan-rekannya. Ada yang korup, dan rela disuap untuk jadi antek perusahaan. 

Sheriff Wade banyak tampil dalam setiap episode, seolah jadi tokoh utama mewakili masyarakat modern. Semua menggambarkan kalau Wade berpihak dan jadi pendukung Keluarga Farrel, kadang-kadang, terlihat sebagai pecandu yang linglung. Sempurna sekali Wade berperan dengan karakter polisi di tengah kota kecil yang penuh mitos. 

Drama di film Outsiders ini menghadirkan romansa, mistisisme, intrik dan pertikaian aneh.

Korban terbunuh karena konflik, termasuk Ellon, anak Big Foster yang mati tertembak, mengesankan jadi adegan biasa saja. 

Lalu penonton diseret pada arwah Ellon yang jadi danyang gunung bersama anak perempuan yang sering muncul di tengah hutan, seperti peri pengawas, membuat anomali. Alur filmnya yang lambat, menyimpan kejutan-kejutan di luar pakem. Percintaan tabib cantik di film ini, Gwinveer yang diperankan Gillian Alexy misalnya, berpacaran dan jatuh cinta dengan Asa, kumpul kebonya dengan Lil Foster. Giliran menikah, memilih jadi istri Big Foster yang juga ayah dari Lil Foster. 

Keluarga Farrel sendiri menjadi semacam, subaltern dari kultur masyarakat gunung yang masih sangat tradisional. Anti dunia luar dan mengharamkan uang. Bertahan hidup dengan cara menyatu dengan alam, berburu, bertani, dan menggelar perayaan, ritual lewat api unggun, upacara, pesta dan doa-doa yang mutlak berbasis legenda dari titah seorang Brenin. Tentu disertai menenggak alkohol dan berhubungan seks.

Farrels Family juga mampu membuat arak putih yang sangat halus dan kuat pengaruhnya. 

Begitu arak dijual secara rahasia ke warga di luar Keluarga Farrel, remaja yang meminumnya langsung membunuh ayahnya. Orang tua yang minum, langsung telanjang di pinggir jalan dan bunuh diri. Begitu juga ibu rumah tangga yang kesepian, begitu minum arak dari gunung itu, di saat mencuci piring langsung membanting semua piringnya, mengambil pisau dapur untuk bunuh diri.

Keluarga Farrel dipimpin Brenin. Semacam raja atau kepala suku, didampingi dewan adat. Tidak ada alat tukar dan bahan bacaan. Mereka dalam satu komunitas, satu dapur, meski banyak kepala keluarga dan banyak anak kecil. 

Keluarga Farrel kemudian menjadi kacau, setelah perusahaan tambang masuk, berusaha mengintervensi, menimbulkan konflik. Perebutan jadi penguasa atau Brenin termasuk di dalamnya. 

Big Foster yang berambisi jadi Brenin, menggantikan ibunya Lady Ray yang diperankan Phyllis Somerville. Brenin Lady Ray terkesan tidak merestui karena merasa ada nubuat kalau yang bakal menggantikannya jadi Brenin adalah Asa Farrel, anak yang hilang dan telah kembali. Dipenjara sebagai penebus dosa, membuang pengaruh iblis.

Sikap Lady Ray itu, membuat Big Foster (David Morse) akhirnya mempercepat proses naik tahta dengan membunuh ibunya sendiri.

Sampai puncaknya, perusahaan batu bara semakin menunjukkan watak asli, sebagai teroris, memakai drone untuk mengintai Keluarga Farrel, lalu mencemari air, menyemprot tanaman dengan racun tanah. Semua langsung mati, tak bisa lagi ditanami tumbuhan apa pun. Kucing dan kera di pinggir sungai, juga ikan-ikan, mati. 

Perusahaan juga menginfiltrasi dengan hadirnya Kaum Kinah, suku perempuan liar  yang ada di gunung untuk membuat gejolak di Keluarga Farrel. Termasuk membakar lumbung dan dapur umum yang berisi bahan makanan, persiapan musim dingin.  

Korporasi melalui Humas Big Cola sudah mulai mengadu domba warga, menyuap pejabat, menyewa aparat, dan memakai semua teknik kehumasan demi tujuan perusahaan. Yakni, mengusir Keluarga Farrel dari gunung dan mengeruk batu bara di dalamnya. 

Namun masih ada Polisi Wade, meski sikapnya seperti pecandu yang kebingungan, masih menjadi polisi jujur dan punya ikatan historis dengan warga gunung. Dia berhenti mabok dan mengonsumsi obat penenang. Adiknya, menjadi aktifis yang menolak penambangan batu bara. Drama dalam film Outsiders, kembali ke konflik klasik, ternyata para pecinta lingkungan yang teriak berpihak pada ekologi, sebenarnya juga bagian dari antek perusahaan. 

Pemerintah, gubernur dan jajaran aparat hanya alat untuk melegalkan perusahaan, bersinergi dan berkolaborasi demi mengusir Keluarga Farrel. "Dunia butuh batu bara, kita butuh listrik, semua dipasok dengan batu bara, bayangkan kacaunya dunia jika kita tak bisa menggali tambang." 

Narasi itu terus diulang Humas Perusahaan, lalu mengumpulkan banyak warga dengan menjanjikan bisa kerja di areal tambang. Dimana lapangan kerja, kian menyempit. Banyak ayah jadi pengangguran, dan laki-laki bekerja serabutan dengan cara kotor. 

Hasl Farrel potret anak gunung yang mencoba berbaur, hidup di tengah kota. Lantaran cinta dengan perempuan penjaga waralaba, Sally Ann. Namun dia memilih perlindungan dari bandar narkoba dan hidup dalam dunia gelap, menjadi petarung di arena adu jotos ilegal.

Film ini sungguh kotor. Bar-bar dan melodramatis. Menontonnya dipaksa berpihak, antara membaca kebaikan Keluarga Farrel atau setuju dengan hebatnya perusahaan yang mampu menjadikan warga sebagai budak kerakusan atas eksploitasi alam. 

Bumbu magis dan munculnya impian-impian, gangguan ketakutan, seolah ada makhluk halus yang irasional yang menjaga alam. Seperti, misalnya, Humas Perusahaan yang dianggap gila. Dan karena membahayakan perusahaan, dibunuh di dalam rumahnya. Menjadi antitesis sebuah perlawanan pada korporasi besar, yaitu pasrah pada kesadaran magis. Sebab, kesadaran kritis dan bahkan kesadaran naif, sangat mudah ditakhlukkan dengan tawaran "bisa kerja" di tambang. Adik ipar Wade adalah contohnya. Mati mengenaskan, terbunuh dalam konflik antara perusahaan dengan Keluarga Farrel.


Sheriff Wade kembali hadir, seperti umumnya polisi yang bertugas di desa yang ada perusahaan besar. Hanya berfungsi sebagai alat legitimasi dan tersiksa atas usaha dirinya menjadi manusia baik-baik. Yang terseok-seok untuk dapat menegakkan hukum dan berpihak pada yang benar. 

Benar dan jahat, di film Outsiders ini sangat tipis batasannya. Tergantung dari sudut mana perspektifnya. Termasuk mandor yang sebentar-sebentar teriak, istirahatlah, minum dulu. Panas. Mengesankan, mandor itu berlaku sangat baik dan manusiawi. Begitu waktu pembayaran, ternyata minum dan istirahat yang ditawarkan dengan ramah, dimaksudkan untuk bisa memotong bayaran pekerja. 

Hasl Farrel pun, menelan ludah kekecewaan. Gegar budaya dari gunung yang tentram ke kota yang serba beli.

Begitu berat hidup dengan mengandalkan uang sebagai nilai tukar, itulah kenapa dia merayu Sally Ann agar ikut pindah, tinggal di gunung yang lebih damai. Meski ternyata, di gunung juga mulai banyak konflik internal yang dipengaruhi infiltrasi perusahaan batu bara. 

Menonton film Outsiders di Tanjung Enim, saya merasakan ada sesuatu yang aneh. Dus, ironis. 

Begitu nikmat dan bebas teriak; “Ged-ged yah, Ged-ged yah” di sini. (*) 

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng

LIPSUS