Pak Tua Di Sudut Pasar
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Pak Tua Di Sudut Pasar

INILAMPUNG
Rabu, 18 Maret 2020




Oleh: Dalem Tehang

BELUM lagi ayam jantan berkokok, tanda sang mentari akan menjelang, pria lanjut usia itu sudah membuka pintu rumahnya. Keluar menuju lokasi pasar.

Setelah menyusuri jalan nan sepi sekitar 1 Km, tibalah ia di pasar tradisional yang ditujunya.

Suasana pasar mulai ramai. Para pedagang berdatangan. Membuka kios dan tendanya masing-masing. Bersiap mengais percikan rejeki yang ditebar Tuhan dari langit.

Pria berusia 60 tahunan bernama Ma'ruf yang biasa disapa Pak Tua, mengawasi semua aktivitas di pasar. Ia berkeliling. Sesekali merapihkan tempat sampah yang terguling karena ulah anjing atau kucing.

Sampai kemudian, ia duduk di pos keamanan yang ada di sudut pasar. Pak Tua dikenal sebagai centeng di pasar itu sejak puluhan tahun silam. Lahan yang menjadi lokasi pasar, tak lain hibah dari orang tuanya yang dikenal sebagai tuan tanah.

Meski telah berusia cukup lanjut, Pak Tua masih tampak gagah. Badannya gempal. Sorot matanya tajam bak mata elang. Di tangan kanannya melingkar gelang dari akar bahar. Mengkilat. Menandakan terawat. Di jari telapak kanan dan kirinya melingkar cincin dengan batu nan menawan.

Wajahnya yang dingin, membuat para pedagang dan yang akan mengganggu di pasar itu menjadi segan.

Namun, wajah dingin itu berubah sumringah saat seorang pedagang menghantarkan segelas kopi dan sepiring kue pancong.

Sambil menyeruput kopi, Pak Tua mengeluarkan sebatang rokok kretek dari dalam kantong jaket jeans lusuhnya. Dihidupkannya rokok itu. Diisapnya dalam-dalam. Sambil matanya terus mengawasi pedagang yang mulai menggelar jajaannya.

Sampai kemudian, seorang pemuda menyapanya: "Pak Tua dari mana aja. Sudah lama nggak kelihatan?!"

"Kamu, Arief. Ngapain pagi-pagi kesini? Bukannya siap-siap sekolah, malah main ke pasar," kata Pak Tua sambil memandangi anak muda yang berdiri di depan pos keamanan.

"Arief ini sudah tamat sekolah, Pak Tua. Sekarang bantu-bantu ibu dagang. Dari pada nganggur, baikan cari kesibukan sekalian dapet pahala," jawab Arief seraya duduk di kursi sebelah Pak Tua.

"Lha, bukannya kemarin kamu masih kelas 2 SMA? Cepet amat tamatnya?!" ucap Pak Tua.

"Itu tahun kapan, Pak Tua? Sekarang Arief sudah tamat. Makanya tadi Arief tanya, Pak Tua selama ini kemana aja, kok nggak pernah kelihatan?!" kata Arief lagi, sambil tersenyum.

"Syukur kalau sudah tamat SMA, Rief. Pak Tua seneng lihat kamu mau bantu ibumu dagang begini. Jadi kamu bukan pengangguran terdidik," ucap Pak Tua, mengacungkan jempolnya.

"Ibu kan sudah tua, kalau bukan Arief yang bantu,  siapa lagi. Lagian mau kuliah, nggak ada biayanya. Ngomong-ngomong emang Pak Tua selama ini ngilang kemana sih?!" tanya Arief.

"Pak Tua abis di penjara, Rief," kata Pak Tua dengan entengnya.
"Abis di penjara? Emang Pak Tua ngapain?" tanya Arief lagi, dengan nada tak percaya.

"Iya, bener. Pak Tua baru 3 hari ini bebas dari penjara. Kasus togel, Rief. Dihukum 18 bulan. Makanya selama ini Pak Tua nggak pernah kelihatan di pasar," jelasnya.

"Kasus togel? Kok bisa sih? Emang Pak Tua sering masang togel tah?" sela Arief. Masih dengan nada tak percaya.

"Ya bener. Kasus togel. Waktu itu ada kawan minta pasangin togel, nitip uang Rp 16.000. Sepulang dari pasar, Pak Tua pasangin. Pas Pak Tua lagi di warung beli lauk buat makan istri dan anak di rumah, dateng polisi. Langsung ngegeledah. Bukan cuma badan dan kantong pakaian yang diperiksa. Jok motor juga dibukain. Nggak ditemuin apa-apa," urai Pak Tua.

"Terus gimana?!" tanya Arief, penasaran.
"Pas polisi ngebuka hp, disitu ada sms nomer togel yang Pak Tua pesen ke bandar. Pak Tua kan nggak ngerti gimana ngehapus sms, jadi itulah yang dijadiin barang bukti sama polisi," lanjutnya.

"Pak Tua dibawa ke Polsek abis itu ya?!"
"Yang nangkep bukan dari Polsek, Rief. Tapi dari Polda. Keren kan Pak Tua, urusan masang togel belasan ribu aja yang nangkep orang Polda," ujar Pak Tua sambil melepas tawa.

"Bandarnya ikut ditangkep juga ya?" sela Arief.

Pak Tua menggeleng. Tampak ada kepahitan di wajahnya yang dingin. Meski ditutupi dengan senyuman.

"Kok bandarnya nggak ditangkep? Kan ada bukti sms-nya dengan Pak Tua?" Arief makin penasaran.

"Mana ada cerita bandar ditangkep, Rief. Mau bandar apa aja, selama masih bisa saling memahami, nggak bakal ditangkep. Itu sudah hukum alamnya. Yang beli togel dan orang-orang kecil aja yang ditangkepin," kata Pak Tua.

"Urusan beli togel Rp 16.000 aja Polda yang nangkep? Ini Pak Tua yang hebat, apa polisinya ngejer target asal dapet tangkepan warga yang lagi ngelanggar hukum ya?" ucap Arief dengan raut wajah penuh keheranan.

"Ya nggak tahu, Rief. Yang pasti, Pak Tua ditangkep sama orang Polda. Uniknya, di tahanan Polda, Pak Tua ketemu dengan 4 orang lagi yang kasusnya sama. Sama-sama pembeli togel. Sama-sama belinya dibawah Rp 20.000. Bahkan kemudian, sama-sama dituntut jaksa 2,5 tahun penjara dan akhirnya sama-sama divonis hakim 18 bulan penjara.

Hebatnya lagi, kami berlima berumur 60 tahunan semua. Serba kebetulan aja kali ya, Rief. Nasibnya juga sama, sama-sama rasain hidup di penjara," urai Pak Tua. Kali ini sambil tertawa ngakak.

"Sudah gila penerapan hukum di kita ini, Pak Tua. Masak pemasang togel belasan ribu dihukum seberat itu. Bandarnya bebas-bebas aja," kata Arief.

Ada amarah atas ketidakadilan yang menggelegak dari nada suaranya.
"Mau kamu bilang dunia hukum kita sudah gila apa nggak, Pak Tua nggak paham, Rief.

Yang pasti, ya itulah yang Pak Tua alami. Sebenernya, hukuman Pak Tua bisa lebih ringan kalau punya duit. Tapi duit dari mana. Buat hidup sehari-hari aja ngandelin salaran pedagang pasar," kata Pak Tua seraya melempar senyum. Pahit.

"Emang bisa diatur-atur gitu hukumannya, Pak Tua?" tanya Arief, masih dengan nada penasaran.

"Apa yang nggak bisa diatur sih, Rief. Mau dia polisi, jaksa maupun hakim itu kan sama aja dengan kita. Sama-sama manusia. Yang perlu dan mau duit. Jadi nggak usah heran kalau yang kena kasus itu orang-orang berduit, hukumannya pasti ringan, sebaliknya kalau orang miskin yang berkasus pasti dihukum berat," kata Pak Tua sambil beranjak dari kursinya, keluar pos keamanan dan keliling pasar. Menjaga keamanan dan kenyamanan pedagang juga pembeli di pasar tradisional yang tak pernah sepi itu.

Tinggallah Arief sendiri. Termangu di pos keamanan. Sambil matanya menatap langkah kaki Pak Tua yang tetap mantap. Yang baru keluar dari penjara namun pembawaannya santai-santai saja. "Dunia memang sudah terbalik-balik," desah Arief. (*)


*) Pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di bandarlampung

LIPSUS