PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (60)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (60)

bdy
Selasa, 03 Maret 2020





ADZAN Subuh dari Masjid Taqwa dekat stasiun kereta api baru selesai, lima menit lagi qomat. Aku masuki masjdi itu, dan  usai salat aku ke parkiran mobil. 

Dinda meneleponku. Kira-kira 40 menit lagi kereta yang ditumpangi masuk stasiun.

"Ya Nda. Kamu langsung ke parkiran mobil sebelah kiri ya. Kalau bawaanmu banyak, aku nunggu di depan pintu kedatangan," kataku.

"Hanya 1 koper kecil kok. Cuma aku beli pempek dan dodol Jambi, dalam satu tas lain," jawabnya.

"Oke. Aku tunggu depan pintu keluar ya..."

"Terima kasih Busy," jawab Dinda, telepon pun ditutup.

Masih bisa satu batang rokok. Pikirku. Kunyalakan rokok. Menimati udara pagi. 

Banyak warga dekat stasiun berolahraga: joging dan senam. Sebagian jamaah Taqwa langsung pulang, lainnya jalan pagi. 

Kurang 10 menit dari perkiraan kereta dari Kertapati sampai, aku menuju pintu keluar kedatangan penumpang. Di situ sudah banyak penjemput. Juga para ojek online dan supir taksi. 

Dinda terlihat. Segera tanganku melambai dan mengacung-acung. Dia menyambut. Tersenyum. Wajahnya tanpa lipstik dan makeup. Natural.

Aku suka kamu tampil tanpa solek. Gumamku.

Kutatap lekat. Dadaku berdegup. Ah, entahlah apa yang berkecamuk dalam diriku?

Kusambut Dinda. Tas kopernya kuambil. Sesaat kami berpelukan seolah baru bertemu setelah lama berpisah. 

"Kamu sehat?" tanyaku.

Dia mengangguk.

"Kamu juga sehat kan, Busy?"

Aku mengiyakan.

"Tapi kamu kelihatan kurus, pucat, dan kurang istirahat. Kamu ada masalah? Bagaimana Rena?" 

"Aku sehat. Mungkin beberapa hari ini aku kurang tidur. Kurang urus diri. Banyak pikiran," jawabku. "O ya aku dapat kerjaan lagi, buat novel politik. Bekerja sama dengan Joshua. Ada funding dari luar negeri yang sepakat mendanai," lanjutku.

"Lalu novelnya nanti dibagi-bagi gitu aja?" tanyanya.

"O tidak. Masak gratis, Nda," potongku setelah mobilku di jalan raya.

"Malah ada anggaran untuk didiskusikan di beberapa daerah di sini. Ada 8 kota dan kabupaten," sambungku.

"Syukurlah..." balas Dinda. "Aku bisa bantu ya, bagian repot-repot," katanya lagi. Ia tertawa.

Aku juga tertawa.

"Tentu. Siapa lagi."

Kemudian diam. Kami susuri jalan Radin Inta, lalu belok kiri sebelah Gramedia. Jalan Sriwijaya. Kubelok ke kanan. Di samping Taman Gajah, aku menepi. Parkir. Di sini ada bubur ayam yang enak. Juga nasi uduk ataupun ketupat sayung masakan Padang.

"Sarapan dulu ya Nda. Tentu kau sudah lapar..."

"Sangat. Aku harus makan. Bubur ayam saja," jawab Dinda sambil membuka pintu mobil dan turun.

"Pesankan aku ketupat sayur," pintaku.

"Ok Busye..."

Kami nikmati sarapan. Taman Gajah sebelum pukul 07.00 ramai. Marahari mulai semburat. Dinda tampak lapar. Semangkuk bubur ayar dia tambah lontong sayur.

"Maaf Busy, semalam di kereta aku tak makan. Aku malas banget mengunyah. Kepikiran cepat sampai dan ketemu kamu," ujarnya lirih.

Aku menatapnya. Sedikit mengangguk demi memakluminya tidak makan di kereta. Padahal salah satu kesan tak terlupakan di atas kereta adalah memesan dan makan. Biar pun hanya nasi goreng, mie goreng, atau segelas kopi.

Tetapi soal, 'Kepikiran cepat sampai dan ketemu kamu' kata Dinda, ada apa gerangan? Apakah itu ucapan dari hatinya?

"Aku pernah nonton film roman Indonesia, ada ucapan menarik dari dua tokoh yang sama bsnar: 'hati tak pernah memilih, melainlan dipilih'. Ya aku ingat! Dialog itu dalam film 'Perahu Kertas'. Ya benar, aku tak salah!" kata dia.

"Aku sepakat. Kalau pun dipaksa, hati tak merasa dipilih akan selalu tersiksa. Soal hati memang bukan untuk memilih dan memilah."

Apakah ucapanku itu benar, masuk akal, aku tidak tahu. Tetapi yang kurasakan selama ini, aku selalu memilih dan akibatnya tak pernah tertangkap. Serupa aku hendak menangkap burung, sebelumnya memilih ini dan itu. Tetapi nyatanya yang ditangan lepas, yang terbang jauh menghilang.

Kenapa aku tak mencoba untuk tidak memilih? Aku dipilih atau aku terpilih dari sekian lelaki?

"Maka aku tak pernah lari dari orang yang telah dipilih hatiku!" desah Dinda.

"Maksudmu?"

"Enahlah Busye. Tapi semoga kau paham dengan kata-kataku. Dengan perasaan hatiku yang tak memilih...."

Aku semakin jauh dari yang bisa kupahami. Memasuki labirin tiada rambu satu pun. Begitu pekat dan tak teraba.

"Sudahlah Busy. Sementara ini tak perlu bisa segera kau pahami. Mungkin saja butuh proses. Seperti kita memahami sebuah puisi, proses pemahamannya pun bisa beragam. Cepat atau lambat. Penuh misteri. Sebaģaimana kau bilang, memahami perempuan begitu misteri," ucapnya kemudian.

"Memahami cinta semakin rumit dan sulit terselami. Tapi kuyakini cinta tak akan menyakiti, menyiksa, dan membuat orang prustasi. Karena cinta adalah nyanyia. Sebuah stambul. Musik terindah," balasku.

Dia menatapku dalam. Seolah ingin masuk ke mataku. Paling dalam. Memasuki labirin dan sampai pada hatiku.

"Aku tak mau seseorang ingin padaku, karena melalui proses memilih. Aku ingin dipilih. Sebab itu adalah sebuah pilihan," katanya setelah lama kami terdiam.

Dua gelas mineral sudah ludes. Segelas kopi sudah kuhabisi. Aku kembali membakar sebatang rokok. 

Sebentar lagi kedai-kedai kecil di Taman Gajah ini akan tutup. Tenda-tenda ini akan dilipat. Kembali seperti siang sebelumnya. Rapi. Tanpa sampah dan hiruk.

Aku biarkan ucapannya tergantung. Seolah aku tak paham. Biarlah waktu kelak menjawab dari misteri itu.

"Setelah mengantarku, kau mau ke mana?"

Aku menggeleng. Karena aku sendiri tidak punya agenda. Tak tahu kubawa ke mana diriku bersama mobilku.

"Kalau ke rumah kosku?" 

Tiba-tiba Dinda menawarkan untukku singah.

"Mungkin kamu perlu istirahat. Aku baru pindah mengambil paviliun. Ada dua kamar, satu kutempati. Kalau kamu sudah istirahat dan fiks boleh kau jalan lagi...."

"Kamu ragu dengan diriku, Nda?"

"Tak. Namun jangan menembus sesuatu yang tak bisa kita lakukan. Manusia punya keterbatasan. Itulah kekurangan sekaligus kelemahan," katanya. Kalimatnya teratur, bersayap. Narasinya puitik. Filosofis.

Sementara biarlah semuanya menggantung. Tergantung di awan bagai himpunan air yang kelak menjadi hujan ataukah banjir. Biarkan misteri itu kutitip di langit tinggi. Kelak ada yang mengurainya.

Apakah kita dipilih atau memilih?

Di batinku, selama ini, ada Dinda, Rema, Nita, Sani, Santi. Juga ada kawan-kawanku lainnya: Sur, Ojal, Amrin, Ebi, Gustaf, Panjir, juga Yos yang politisi itu.

Apakah merka memang karena aku pilih bukan aku memilih dari untung-rugi. Kebaikan atau keburukan.

Ya! Mencintai harus bisa menerima kekurangan dan mensyukuri kelebihan.

Aku kali ini benar-benar belum mampu menjawab. 


Di kamar paviliun Dinda tak juga bisa kupejamkan mata. Pikiranku ke belakang. Ke kejadian sebulan lalu.

Aku ribut besar. Rena tak mau kularang agar urung ke Bali. Ia berkeras. Alasannya tiket Garuda sudah dibelinya. Tetapi kesalahannya, kenapa sebelum memesan tak bertanya dulu denganku?

Ia mengatakan, siapa pun tak ada yang berhak melarangku. Bahkan kedua orang tuaku, kekasihku sekalipun. 

"Aku hidup bebas. Paling tak suka dilarang; begini dan begitulah. Sepertinya aku tak lagi punya pendirian. Lagi pula aku hanya urus masalahku yang harus kuselesaikan..." kata Rena kala itu.

"Tapi bisakah kau tunda 10 hari lagi. Sekalian dengan kegiatanku. Sur sudah beli tiket. Segala sesuatu di Bali sudah ready. Jangan-jangan kamu...."

"Jangan menuduh Busy. Aku semakin tak suka!" entak Rena.

"Lagi pula apakah programmu pasti jadi? Sampai hari ini aku belum lihat tiket itu. Bisa jadi Sur batalkan programmu. Karena Dinda sepertinya tak tertarik dengan Sur?"

"Eh kamu yang berprasangka buruk dengan Dinda dan Sur. Apa sih yang semayam di pikiranmu, ha?!"

"Tak seburuk itu prasangkamu. Aku selalu positif thinking sama kalian. Hanya kamu yang berpikir tak baik padaku!" Suara Rena makin tinggi.

Ia terlihat emosi sekali. Gelas di meja ia jatuhkan. Pecah berserpihan. Hampir mengenai kakiku.

Ia beranjak. Menyeret kopernya. Semula aku ingin mencegahnya. Dia bagai melesat. Membuka pintu mobil. Keluar. Ke bandara. Tidak kutahu di mana ia titip parkir mobilnya. Rena menutup seluruh akses komunikasi. 

Aku tak berniat mencari tahu dirinya. 




(Bersambung)




#isbedy
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan zs





LIPSUS