PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (62)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (62)

bdy
Rabu, 04 Maret 2020



KAFE Gedung Meneng, Sabtu malam. Dinda belum datang. Dia berjanji akan datang setelah pukul 20.00, karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.

Rena sudah sebulan di Bali. Tak pernah berkabar ke nomor kontak WatsAppku. Aku juga tak berniat menanyakan dirinya. Kini tiada hariku tanpa Dinda. Bagai pranko dengan muka amplop. 

Selanjutnya Dinda banyak menolongku. Seperti menyiapkan segala sesuatu untuk roadshow buku novelku ke Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Aku berulang mengirim surat-surat yang diketik Dinda ke panitia setempat. Di Bali aku berurusan dengan Kadek, Yogya dengan Triadi, Bandung kepada Sontak, dan Jalarta dengan Rinda.

Ketika ingin kukirim desain undangan ke panitia di empat kota itu, email Rena masuk. Kubaca waktu kiriman: dini hari pukul 02.11. Begitu panjang, ia narasikan begini.

Setelah aku tinggalkan kamu, Busye, di rumahku, pikiranku kalut. Aku merasa bersalah. Bahkan amat berdosa. Aku memikul dosa itu ke mana aku pergi.

Mobil kutitip di rumah temanku dekat bandara. Setelah itu aku naik grab ke bandara. Transit di Cengkareng, tiga jam kemudian aku terbang ke Bali.

Sebetulnya aku mau bertemu mantan suamiku di satu hotel di Nusa Dua. 

Kenapa kukatakan mantan? Sebab sudah 2 tahun ia tak ke Indonesia, dan setahun tak lagi mengirim uang untuk kebutuhan hidupku. Kecuali yang ada dalam rekening atas namanya, dan buku tabungannya diserahkan padaku. Tetapi harus dicairkan di salah satu bank di Bali. Maka aku mesti ke sini jika aku membutuhkan.

Kamu tak mau tahu diriku. Kamu hanya menerimaku secara fisik, bukan batin. Apalagi kekurangan yang kupunya. Kamu mau tahu, aku masih punya keluarga yang harus kusumbang dana. Selain ibuku yang menjanda karena ayahku meninggal yang mesti kubantu. Juga dua adikku.

Ketika itu, adik bungsuku mengidap kanker payudara. Harus dioperasi. Ia singel parrent. Aku jadi tumpuannya. Aku wajib menolongnya dari kematian. Itulah kenapa aku stres. Aku merasa frustasi melihat kenyataam keluargaku. 

Ingin kuajak hidup bersamaku. Namun ibu menolak.

"Kamu saja belum bisa mengurus dengan baik. Masih suka jarang di rumah. Kamu masih kan nongkrong di kafe, ke salon, dan nonton?" kata ibu kemudian.

Ia menatapku lama. Ingin cepat mendengar jawabanku. Tetapi aku berbalik memandang ibu. 

Ia masih cantik. Manis. Meski tidak lagi memoles bibirnya dengan lipstik. Ibu juga jarang menggunakan makeup. Kecuali jika ingin ibadah pada Minggu pagi.

"Ya bu. Saya masih suka nongkrong di kafe, nonton, dan ke salon. Kalau tak begitu, aku takut kesepian. Tapi ibu jangan khawatir kalau tinggal bersamaku, pasti kujaga dan rawat. Aku masih bisa membayar pembantu khusus buat ibu. Bagaimana?" 

Ibu menggeleng. Ia bergeming. Tetap keukeh. Merasa nyaman tinggal di kampung. Tempatnya lahir dan remaja. Lalu ibu tinggal bertaun-tahun di Inggris dibawa ayahku. Kami pulang ke Indonesia ketika aku selesai SMA di London.

Ayah yang asli Inggris dan sudah menjadi Indonesia wafat saat aku sudah berkeluarga. Aku menikah dengan lelaki berkebangsaan Belanda. Ia hanya ke Indonesia saat kapal pesiarnya singgah. Terkadang di Tanjungpriok, bulan mendatang di Riau, dan enam bulan lagi di Lombok. Dan seterusnya. Di pelabuhan di Indonesia. Saat kapal turun jangkar, ia bisa menemuiku. Atau aku yang datang menyerahkan cintaku padanya.

Melelahkan? Membosankan? 

Boleh jadi. Cuma harus kulakonkan. Itu sudah risiko. Aku menerima dinikahinya. Berjanji setia dalam suka dan duka. Bersumpah di bawah kitab, bahwa aku istrinya dan ia suamiku. Saling melindungi di bawah kasih sayang Yesus Kristus.

Manusia bisa berjanji. Juga bersumpah setia. Tapi Tuhan memiliki kehendak. Dan itu tak bisa manuasia elakkan. Nyatanya mantan suamiku pulang ke negaranya. Pulang ke pelukan istri dan dua anaknya. Aku hanyalah Nyai. Kau tahu kan sebutan Nyai? Itu pernah ditulis Pramoediya Ananta Toer dalam "Bumi Manusia", yaitu Nyai Ontosoro. Dikawini tapi tak punya hak apa-apa terhadap diri dan marga. Bahkan anakku, jika ada, adalah milik ayahnya, van!

Aku tak jenuh merayu ibu agar mau tinggal bersamaku. Namun ibu tetap memilih tinggal di kampung kelahiran: Bagelen.

Aku sudah mengirim uang ke adik bungsuku 20 juta rupiah. Semoga uang itu cukup untuknya operasi. Kalau pun lebih, kuikhlaskan untuk hidup dia dan seorang anaknya yang kini kelas 3 SMA.

"Cukup mbakyu. Terima kasih sangat," kata Dina Christin, adik bungsuku ketika kutelepon.

"Syukurlah kalau cukup. Kamu jangan sungkan minta sama aku kalau kurang ya..." harapku.

"Inggih mbakyu."

*

Di Bali aku pernah bertemu Widas, temanmu yang bekerja di BB itu. Aku katakan pada dia, ada salam darimu.

"Salam kembali buat Busye. Kami sudah berteman sangat lama. Kabarnya ia mau meluncurkan novelnya di Bali. Di mana?" ujar Widas.

"Rencananya begitu. Entah di Ubud atau di Denpasar. Aku tak tahu pasti. Mungkin pula ada perubahan..." jawabku.

"Di BB saja. Biar kufasilitasi tempat dan akomodasi. Juga undangan serta pemberitaan. Asal undangan di desain dan bentuknya BB yang punya hajat. Kalau setuju, kabari aku secepatnya.

Busye, sebetulnya aku ingin memberi tahu kabar baik ini dari Widas. Hanya saja aku ragu. Mungkin kau masih marah padaku. Aku juga masih kecewa padaku.

Setelah kutimbang-timbang. Kemarahan dan kekecewaan usah dikelon lama. Akan merusak dan merugikan sendiri. Betapa banyak manusia tak lama usia karena memendam dendam, kecewa, marah, dan iri pada orang lain.

Aku tak mau mati membawa dendam, marah, kecewa, maupun iri. Apalagi penyebab kematian dikarenakan itu. 

Maka kuberanikan diri. Nekat katakanlah. Aku kirim peristiwa ini melalui email. Setidaknya aku tak tahu apakah emailku dibuka dan dibaca. Atau kau lesapkan di poder sampah.

Tak penting lagi bagiku.

*
Aku masih kerasan di sini, bukan lantaran aku masih memendam kecewa padamu. Bukan tipe aku pendendam. Sejam dari keributan kita itu, aku langsung melupakan.

Tidak direncanakan, suamiku yang telah kuanggap mantan itu, bertemu di sini. Jangan berprasangka buruk dulu.

"Oh Rena, kamu bersama siapa di pulau sejuta pura ini?" tanya dia.

"Sendiri," jawabku. "Kamu dengan siapa Robert?" 

"O aku bersama istriku. Kami ingin bernostalgia masa pacaran di sini..."

"Kalian pernah memadu cinta di Bali ini? Oh my god! Puji Tuhan!" balasku agak terkejut. "Mana Nyonya Robert. Kalau kamu tidak keberatan, kenalkan denganku. Katakan saja aku sahabatmu."

"Istriku tahu aku pernah hidup bersama wanita di Indonesia. Dia tahu namamu. Wajahmu karena kulihatkan," kata Robert. 

Ia mengundangku makan malam. Di reatoran mewah di Kuta. Menghadap pantai. Aku terkenang saat Robert menggumulku ketika usai sunset. Di atas pasir putih dan ombak membelai tubuh kami.

Seusai makan malam Robert dan istrinya mengajakku ke pub. Kami berdansa. Aku dibawa Robert ke lantai dansa, nyonya Robert asyik menikmati minuman. Setelah aku lelah, Robert menarik istrinya berdansa. Sampai sama-sama keletihan. Lalu kami mengobrol. Nyonya Robert sangat terbuka. Tidak canggung. Beberapa kali ia tinggalkan kami. Gesturenya tak berubah saat melihat suaminya mencium bibirku. Padahal lama.

"I am sorry. Sorry. Karena terbawa rindu," kataku malu dan takut.

"Oh no. No problem," jawabnya tersenyum.

Ia duduk. Gelasnya yang kosong ia isi kembali. Mengobrol denganku.

Ia berbisik, "kamu cantik. Eksotis."

"Terima kasih. Terima kasih sangat Nyonya Robert."

"Sama-sama Nyonya Robert," balasnya.

Aku terkejut. Aku disapanya 'Nyonya Robert'. Apakah ia masih mengakui aku bagian dari hidup Robert?

Terus terang aku bahagia, tapi yang terbayang dekat denganku sekarang adalah Busye.

Ya kamu. Kamu. Bukan lainnya.

Selepas pukul 06.00 kami keluar dari ruang gaduh semalaman itu. Robert dan istrinya menuju hotel yang dia inap. Dan aku memesan grab untuk mengantarku ke rumah kawan di kawasan Kuta. 

Malam yang riang meski melelahkan. 

Akan kusiapkan cerita lain dari Pulau Seribu Pur ini. Pulau bagi yang iingin menjadikan surga dunia. 

*

Dinda tiba dari janjinya. Ia sampai di KGM lebih 2 menit dari pukul 20.00. Surat elektronik dari Rena sudah kubaca dan kututup. Juga berkas rencana peluncuran novelku sudah terkirim.

Dinea mengambil kursi di sebelah kananku. Merogoh tasnya dan menyerahkan rokok untukku.

"Ini kubawa untukmu Busye. Biar lancar ngobrolnya," katanya. "O ya apa kau sepakat, kita ngobrol dengan gembira malam ini. Tanpa diganggu gawai?" lanjut dia.

"Oke. Aku setuju. Siapa ragu?" 



(Bersambung)




#isbedy stiawan zs
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan zs








LIPSUS