PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (66)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (66)

bdy
Selasa, 10 Maret 2020



SURAT elektronik kedua dari Rena kuterima. Segera dan cepat kubaca, sebelum Dinda kembali dari kamar kecil. Narasi kali ini, seperti yang pertama. Inilah isinya.

Sepulang dari Sanur pekan lalu, aku langsung ke Ubud. Ada janji pertemuan soal bisnis. Sekalian membuka peluang peluncuran diskusi novel Busye. 

Soal membuka bisnis di Ubud tak ada masalah. Tinggal kesepakatan di lembar MoU. Sedangkan peluncuran dan diskusi novel, sarannya di acara UWRF. Lebih tepat sasarannya. 

Sementara aku setujui, dengan catatan aku akan minta persetujuan dari Busye.

"Oke," kata dia. 

"Secepatnya kukabari," balasku.

Dia mengangguk.

Orangnya enak. Dia kenal dekat orang-orang UWRF. Meskipun ia tak menjanjikan disetujui atau tidak.

"Tapi selama ini yang saya ketahui bisa, sebagai bagian dari UWRF. Teman-teman dari Jakarta beberapa kali meluncurkan dan diskusi buku sastra di UWRF," kata dia lagi.

Lalu kutinggalkab Ubud. 

Mungkin aku akan lama di Bali. Aku betah dan peluang kerja di sini terbuka. Berbeda di sana. Aku tak bisa apa-apa. Tak ada kolega untuk berbisnis.

Apa mungkin aku selamanya hidup dengan mengandalkan tabungan dari Robert? Tidak kan? Tak masuk akal kalau aku bergantung pada Busye? Seharusnya senima itu hanya berpikir bagaimana ia mencipta dan mencipta. Berkarya dan berkarya. Segala sesuatu untuknya sudah ada yang mengatur. Sudah disediakan.

Dari senimanlah dunia ini menjadi indah. Seniman akan selalu memperjuangkan harmonisasi, keadilan, dan ketenteraman. 

Jika politik bengkok, seni (puisi) yang meluruskan. Itu pernah diucapkan Presiden Amerika Serikat Jhon F. Kennedy. 

Tetapi sayangnya, nasib seniman tak tercatat oleh negara mana pun. Seperti tak ada tempat dari banyaknya kebijakan yang dilakukan. Negara selalu tidak hadir jika persoalan seni budaya. Akibatnya, kehidupan senibudaya jadi melempem. Pemerintah hanya mengutamakan politik dan ekonomi. Padahal politik kita sudah amburadul, ekonomi juga carut-marut. Keduanya sulit diharapkan dapat membangun marwah bangsa. 

Andai aku milyarder, akan kurawat para seniman. Mereka hanya berkarya dan berkarya. Mencipta dan mencipta. Urusan kebutuhannya aku yang menanggung. Begitulah semestinya. Dari seniman, kritik kecompangan negara harus digelorakan.

Sehingga bangsa tahu. Negara yang korup dan zalim terbongkar. Sebab seniman melihat sesuatu dengan hati atau insting. 

*
Sampai di situ kututup email Rena. Di bagian akhir ia kirim buku cerpenku Aku Betina Kau Perempuan. Katanya, "teman Minggu malamku."

Aku malas membacanya hingga habis. Bukan sebab khawatir dibaca Dinda, tapi terlalu memuja kesenian dan seniman. 

Seakan insan seni terlalu suci. Tanpa kesalahan apa pun. 

Padahal, seniman juga manusia. Ia sama dengan lainnya, rentan salah dan melakukan kesalahan. Punya cinta juga dendam. Memiliki hati yang mengasihi, tapi juga kerap iri.

Sangat merendah hati, namun pula sering congkak.

"Hei Busy, Busy. Melamun ya?" 

Dinda membuyarkan pikiranku. Laptop sudah kututup beberapa menit lalu. 

"Eh kamu sudah datang," jawabku. "Gak kok, aku tak melamun. Aku lagi baca berita di website ini. Para perempuan turun ke jalan. Mereka menolak pengesahan Undang-Undang yang baru," lanjutku.

"Apa isi statemen mereka?" tanya dia.

"Banyak. Melalui poster dan spanduk, mereka menulis: bagi kaum perempuan, 'Pakaian Gw Loe Urusin, Birahi Loe Loe Biarin'.  Lalu 'Kami memiliki apapun yang diperlukan untuk menjadi perempuan kuat tanpa rasa takut dan mampu berdiri sendiri'. 'Perempuan bekerja untuk berkarya bukan untuk digoda'."

Aku meneruskan, lebih keras lagi ada poster bertuliskan: "Aku lelah diperkosa negara".

"Aku pikir negara terlalu lebay. Sampai ke privasi juga mau dia urus. Harusnya urus saja soal ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Kurangi tenaga asing, terutama dari Cina, yang mau bekerja di sini. Perbaguslah politik kita, jangan tunjukkan yang gaduh saja," komentar Dinda setelah membaca berita di media daring itu.

"Artinya kau setuju dengan para perempuan yang berunjukrasa itu?"

"Sepakat," jawabnya singkat. Diam sesaat. "Tapi juga kaum perempuan juga harus jaga tubuhnya agar tak menjadi sasaran berahi lelaki. Berpakaianlah yang tidak mengundang berahi lelaki untuk memerkosa!"

Aku tersenyum.

Senyampangnya banyak perempuan ke pusat keramaian menggunakan pakaian yang pantas dikenakan di kamar tidur. Pulang malam. Lalu diperkosa. Lalu marah-marah. 

Para lelaki tergoda karena peluang itu diberikan oleh perempuan. Tanpa sengaja. Bukankah kejahatan muncul karena ada kesempatan?

Lama kami terdiam. 

Dari satu soal, percakapan pun berpindah topik. Termasuk soal virus corona yang tengah trending topic. Virus Wuhan. Sampai WNI diindikasi positif kena virus tersebut.

Siapa yang bisa kita salahkan? Negara? Tentu ia akan mengelak. Warga? Pasti tak mau. 

"Pada akhirnya pergaulan yang mesti pilih-pilih. Hubungan intim, saling bersentuhan. Kukira itu bisa jadi penyebab virus itu berkembang," kataku kemudian.

Dinda masih tak merespon. Ia hanya menatapku, kemudian melempar jauh.

"O ya, apa kabar Rena ya Busye?" 

Aku tersentak.

Ia masih di Bali. Baru saja kubaca emailnya. Tak panjang amat kali ini. 

Semoga dia selalu sehat. Selalu mendapat kelancaran dslam urusannya.

"Entah. Ia tak pernah berkabar," jawabku untuk mengalihkan percakapan.

"O ya? Wah sudah lupa ya?"

"Apa dia berkabar denganmu?"

"Taklah. Mana mungkin. Ia pasti menganggapku rivalnya. Seseorang yang mesti disingkirkan dari ring persaingan..."

"Rival? Saingan? Dalam hal apa kalian bersaing? Dalam politik, tak," tanyaku.

"Pura-pura tak tahu. Apa benar-benar kura?" Dinda bergurau.

"Benar-benar aku gak tahu, Nda..." jawabku segera. "Kuperhatikan kalian biasa-biasa saja selama ini," lanjutku.

"Bukan saingan di politik. Tapi cinta...." tukasnya.

Tersenyum sekilas. Dingin.

"Hmmm..."

"Kok hmm.  Sebel ah!"

"Kenapa, Nda?"

"Kamu tuh kurang sensitif."

(Bersambung)



#isbedy
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan zs



LIPSUS