PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (67)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (67)

bdy
Selasa, 10 Maret 2020



KAFE Dream suatu malam. Kali ini tanpa ditemani Dinda. Tiba-tiba saja aku ingin berkunjung ke kafe ini. 

Mungkin saja dari sini aku dapat inspirasi menulis tentang kafe. Satu hal lagi meski bernama kafe yang lazim sebagai tempat santai, kafe ini layaknya pub; bermabuk-mabukan.

Benar! Terjadi gaduh. Bersimbah darah. Berawal cekcok karena salah paham, akhirnya nyawa meregang. Kerusuhan di parkiran.

Aku bergidik. Ketakutan sangat. Lebih ngeri dibandingkan menyaksikan penjahat diseret oleh aparat kepolisian di era penembek misterius (petrus). Atau saat kulihat lelaki yang ditangkap di kafe lain sewaktu aku bersama Merichrist.

Saat cekcok adu mulut aku masih melihat. Tapi, aku langsung melempar pandang. Bahkan aku melipir ke kamar kecil lantaran tak sanggup melihat perkelahian. 

Satu jam kemudian, baru aku berani membaca beritanya di media daring. 

JAKARTA - Seorang pria bernama Zulmasri ditusuk hingga tewas oleh orang tidak dikenal saat sedang berada di Cafe Dream 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat (6/3/2020) dini hari.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menuturkan, awal mula kejadian saat itu korban sedang minum bersama teman-temannya. Kemudian para pelaku lewat di depan meja korban.
"Karena pelaku merasa dihalangi terjadi cekcok dan dilerai oleh teman pelaku," kata Yusri kepada wartawan.
Setelah terlibat adu mulut, korban kemudian keluar dari kafe itu dan saat sedang berada di parkiran ia kembali bertemu dengan para pelaku. Di situlah Zulmasri ditusuk dengan menggunakan senjata tajam.
"Korban ditusuk oleh sebilah senjata tajam hingga tersungkur," ujarnya.
Usai ditusuk, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja oleh para rekannya untuk mendapat penanganan medis. Namun sayang, sesampainya di sana nyawa korban tidak tertolong.
"Setelah sampai di RSUD Koja korban meninggal dunia," sambung Yusri.
Polisi sudah melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) untuk menyelidiki pelaku penusukan tersebut. "Membawa saksi dan laksanakan interogasi para saksi. Lidik pelaku," pungkasnya.

*
Sampai beberapa jam kemudian, aku hanya di dalam kafe. Padahal di halaman parkir, warga ramai yang mau melihat kejadian itu.

Entah kenapa beberapa tahun terakhir, aku begitu penjiri menyaksikan sadisme. Menonton penganiayaan, dan kekerasan sejenisnya. Akan terbayang-bayang. Aku pun lemas. Pernah aku pingsan, hanya tak sengaja melihat kecelakaan di jalan hinga mati di tempat. Tubuh korban bersimbah darah dilindas truk.

Sepanjang perjalanan dari kafe ke kafe, bersyukur lancar. Aku tak menyaksikan perkelahian antarpengunjung.

Ini pengalaman terburuk bagiku. Bagai seorang lelaki di dalam goa itu, saat diminta membaca. Sementara ia buta huruf dan tak bisa membaca. Gigil. Gemetar.

Perjalanan menuju rumah, aku telepon Dinda. Sekadar ingin memeroleh kekuatan.

"Ada apa Busy, kenapa telepon aku. Sudah jam dua pagi ini lo," sambut Dinda pasahal belum kuawali dengan "Haloo..."

"Aku mau kasih kabar, baru saja kusaksikan pertikaian hingga tewas..."

"Di mana? Di mana, Busy? Kamu gak apa-apa kan?"

"Aku gak apa-apa kok," jawbku cepat. "Tadi ada yang berkelahi dan di parkiran kafe berlanjut. Sampai tewas."

"Ih.  Ngeri. Untung kamu gak dekat kan?"

"Boro-boro dekat, aku gak mau lihat. Takut juga," jawabku sambil mengendalikan degup jantungku.

"Sekarang kamu di mana?" tanya Dinda.

"Di jalan mau pulang, Nda. Ya sudah kamu tidur lagi ya. Maaf aku ganggu," kataku.

"Ya gak apa-apa kok. Kamu hati-hati ya di jalan."

"Ya."

Kubawa mobilku menuju rumah. Tetapi ketika bertemu simpang tiga, aku belokkan mobil ke kanan. Aku ambil jalan pintas menuju Kafe Gedung Meneng.

Ini kafe yang boleh dibilang buka 24 jam!

Kalau aku ingin cari kawan mengobrol, KGM pilihanku. Dipastikan tidak pernah kosong. Setiba di KGM, aku disambut Andi, Alfa, dan Darto.

Aku langsung bergabung. Sebagai pendengar dulu, lalu turut berdiskusi.

Alfa membuka soal pembakaran kapal pengeruk di Labuhan Meringgai, Lampung Timur. "Kalau pemerintah tanggap, kemarahan nelayan di sana bisa dicegah," kata Alfa kemudian.

Dia memprediksi akan ada rakyat yang sarkas. Seperti bom, tinggal menunggu waktu. Meledak.

"Aku sepakat dengan pernyataan wakil rakyat itu. Bahwa 'tatkala instrumen negara dipandang tak mampu, rasanya saya tak akan menyalahkan rakyat yang terlanjur bertindak,"*) kata Alfa.

Dua memberi pandangan, pemerintah seakan melakukan pembiaran penggalian pasir di laut, perambahan hutan, sumber daya alam.

"Karena akan mengganggu mata pencarian rakyat, ya akibatnya mereka berang. Anarkis!" tandas Alfa.

Aku sepakat dengannya. Pemerintah cenderung tutup telinga dan mata. Sampai akhirnya terbelalak, begitu terjadi chaos. Setelah ada peristiwa baru cari solusi.

"Sudah gak penting lagi. Korban sudah berjatuhan, baru mikirin solusi," kataku.

"Ya benaŕ, Busy. Harusnya sebelum. Masak ya ada penyedotan pasir laut tak ada yang tahu. Lucu sekali," timpal Darto.

"Bukan tak tahu. Tapi benar yang dikatakan Alfa, pura-pura tak tahu," timpal Andi.

Lalu kubaca berita pembakaran kapal penyedot pasir. 

Di media daring tersebut, anggota dewan lain berkomentar.



LABUHAN MARINGGAI (Lampungpro.co): Ratusan nelayan tradisional Desa Margasari dan sekitarnya di Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, tetap menolak segala macam bentuk rencana  penyedotan pasir laut di sekitar Pulau Sekopong. Alasannya, karena di sekitar sekopong merupakan media berkembang biaknya rajungan dan ikan yang menjadi andalan mata pencarian nelayan.
Bahkan pasokan rajungan untuk Lampung terbesar berasal dari Labuhan Maringgai. Dua hari terakhir ini situasi sempat memanas bahkan pada Sabtu (7/3/2020) ratusan warga membakar kapal penyedot pasir yang berada kurang lebih 5 mil dari Pulau Sekopong sebagai ungkapan emosional.
Bahkan pada Jumat (6/3/2020), para nelayan berhasil menghalau  kapal tongkang yang diduga hendak menambang pasir di Pulau Sekopong. Terkait hal ini, anggota DPRD Lampung dari Fraksi PKB, H. Noverisman Subing menyanyangkan adanya oknum masyarakat dan oknum perusahaan yang hendak mengambil keuntungan pribadi tanpa melihat dampak yang akan ditimbukan pada tahun-tahun mendatang. 
Untuk itu, dia meminta Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas ESDM bertindak tegas menghentikan penambangan itu. "Kalau kejadian ini terus terulang kembali kasian masyarakat, mereka gelisah tidak tenang selalu dihantui rasa was-was dan ini bisa menimbulkan tekanan psikis pada mereka," kata Noverisman, Minggu (8/3/2020) 
Berdasarkan informasi yang beredar, kapal-kapal yang hendak menyedot pasir itu milik perusahaan PT 555 yang kabarnya juga izin operasionalnya akan berakhir 26 Septemner 2020. "Saya minta pemprov Lampung untuk tegas dan tidak memperpanjang izin operasional maupun izin lainya terhadap perusahaan itu," kata mantan Noverisman Subing yang juga mantan Wakil Bupati Lampung Timur periode 2005-2010 itu.
Begitu juga kepada Bupati Lampung Timur saat ini dan mendatang hendaknya tidak memberikan rekomendasi kepada perusahaan itu maupun perusahaan lain yang hendak menambang pasir khususnya di Pulau Sekopong. Izin PT 555 itu diberikan Pemprov Lampung setelah sebelumnya mendapatkan rekomendasi dari Bupati Lampung Timur saat dijabat Erwin Arifin.
Terkait hal ini, Kepala Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, Wahyu Jaya mengatakan, Sabtu (7/3/2020) sekitar pukul 13.00 WIB, ratusan nelayan yang berjumlah kurang lebih 200 orang mendatangi kembali kapal yang diduga menyedot pasir laut saat sedang engker sekitar 8 mil dari Pulau Sekopong.
“Sore itu kami berencana hendak mediasi dengan nelayan bersama anggota DPRD. Tapi ternyata ada ratusan nelayan lainya menuju sekitaran Sekopong untuk memastikan keberadaan kapal yang diduga menambang pasir. Info (kapal dibakar) itu juga kami terima setelah kejadian, dan ada satu ABK mekanik berinisial E alias A  diselamatkan kini berada di Mapolsek Labuhan Maringgai untuk dimintai keterangan," jelas Wahyu, Minggu (8/3/2020). (PRO1) **)

Selain wakil rakyat, Wahana Lingkungan Hdup juga mendesak Pemerintah Provinsi Lampung soal penyedotan pasir laut agar pro rakyat.

"Masalahnya, apa pemrov mau?" tanya Andi.

Nah! Kami diam. Tak ada yang menjawab. Waktu sudah mendekati subuh.



(Bersambung)

*) Yozi Rizal, anggota DPRD Provinsi Lampung dari Demokrat, di status FB-nya.
**) Lampung Pro 1




#isbedy
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan

LIPSUS