Terbuai Rindu
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Terbuai Rindu

INILAMPUNG
Minggu, 08 Maret 2020

Oleh: Dalem Tehang

TERMANGU. Diam tanpa kata. Matanya menatap langit. Mencoba menembus pintunya. Meski tak bisa. 

Senja yang ditingkahi rintik hujan, tak membuatnya terusik. 
Sesekali tangannya bergerak. Ke arah mulutnya. Sebatang rokok yang terjepit di jari, dimasukkannya. 

Dihisap dalam-dalam. Diembuskan asap putihnya dengan perlahan. Seakan mewakili dikeluarkannya beban dari sudut hatinya yang terdalam.

Dia terhentak dari kursinya. Saat suara petir tanpa kilat, mendadak menggelegar didepannya. 

"Ah petir. Kamu merusak kegalauanku saja," kata dia, sambil berjalan. Ke ujung beranda. Ditatapnya langit. Dilihatnya kilat dengan sinar terangnya muncul bersahutan. Namun tanpa suara. 

"Masuklah ke dalam, Dhika. Tidak baik menjelang maghrib begini duduk di teras rumah. Apalagi waktu ada hujan dan petir," sebuah suara teguran mengejutkannya.
Pria muda itu hanya mengangguk. Membalikkan badannya.

 Melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya menunduk. Seakan matanya tengah menghitung serat-serat kayu yang menjadi lantai rumahnya. 

"Duduklah disini, Dhika. Dekat ibu," suara pelan menghentikan langkahnya. Pria muda itu membelokkan arah jalannya. Ke dipan bambu yang ada di sudut ruangan. 

Seorang wanita tua terbaring lemah. Kurus badannya. Cekung matanya. Dhika duduk di samping sang ibu. Merapihkan kain usang untuk menutupi sepasang kakinya yang tinggal tulang berbalut kulit. 

"Ibu perhatikan, sejak pulang ke rumah seminggu lalu, kamu banyak melamun. Ceritalah pada ibu. Ada apa, Dhika?" kata wanita tua itu sambil tangan keriputnya memegang tangan Dhika.

Dhika melepas senyum. Hambar. Tanpa ekspresi. Menggelengkan kepalanya. 

"Ada apa, Dhika. Ceritalah pada ibu," katanya lagi.

Dhika kembali menggelengkan kepalanya. Tetap dengan melepas senyuman. Wajahnya menunduk. Menutupi matanya. Agar tak bertatapan dengan mata sang ibu yang begitu teduh.

"Pandangkan wajahmu ke ibu, Dhika. Ibu tahu kamu menyimpan beban perasaan. Tapi ibu tidak tahu seberapa dalamnya bebanmu kalau kamu menghindar dari menatap ibu," lanjut wanita itu dengan suara pelan. 

Telapak tangan ringkihnya memegang erat telapak tangan Dhika. "Kamu satu-satunya anak lelaki ibu. Bicaralah, jagoan ibu!" katanya lagi.

Dhika makin menundukkan wajahnya. Seakan ingin tenggelamkan wajahnya ke perut bumi. Sementara, suara hujan kian mengencang.

 Air dari langit yang ditumpahkan Tuhan, bersentuhan keras dengan genteng rumah panggung dari kayu itu. 

Sinar terang dari kilat masih terus bersahutan. Menerobos senja nan temaram yang segera berganti malam.

"Bicaralah, Dhika. Walau ibu sudah renta begini, ibu tetap bisa menjadi tempatmu mengadu seperti dulu. Ibu sangat sedih melihatmu begini. Ibu tahu, kamu pulang ke rumah ini karena ada yang mau kamu sampaikan pada ibu. 

Sampaikanlah, jagoan ibu. Bicaralah, biar beban batinmu berkurang dan lepas," ucapnya lagi.

 Tetap dengan suara pelan. 
Dhika masih diam. Selintas melepas senyuman. Tangan sang ibu memegang wajah Dhika yang terus menunduk. Dielusnya wajah anak laki satu-satunya itu. Penuh kasih sayang. Penuh ketulusan.

"Pandanglah ibu, Dhika. Tatapkan mata indahmu ke ibu. Biar ibu bisa baca isi hatimu," kata sang ibu.

Perlahan, Dhika mengangkat wajahnya. Sampai kemudian matanya bisa menatap mata sayu sang ibu. Keduanya pun larut dalam diam. Hanya mata mereka yang bicara. Sebutir air mengalir dari sudut mata sang ibu.

Tangan keriput nan lemah sang ibu, bergerak. Menarik kepala Dhika. Merengkuhnya.

 Menelungkupkan wajah sang anak ke dadanya.

"Subhanallah. Tak pernah ibu sangka kamu alami beban sedalam ini, Dhika. 

Padahal ibu selalu berdoa agar kamu terjauhkan dari semua tipu daya dunia," ucap sang ibu sambil terus memegang kepala Dhika yang terkulai di dadanya.

"Maafin Dhika, ibu. Semua salah Dhika. Yang tak kuat menahan rindu. Akhirnya, Dhika terbuai. Dan menduakan Dewi," sahut Dhika dengan suara bergetar.

"Kenapa kamu lakukan itu, anakku?"

"Dhika menikah lagi karena Dewi tidak mau dampingi selama tiga tahun ini Dhika mengabdi sebagai guru di Mesuji. 

Dewi lebih memilih tinggal dengan orang tuanya di Pesisir Barat, daripada ikut Dhika," lanjut Dhika. 

"Menikah lagi itu bukan pilihan terbaik, Dhika. Walau ibu mengerti kamu punya alasan kuat untuk melakukannya. Menikah lagi memang diperbolehkan oleh agama kita. Selama bisa berlaku adil. Tapi kamu tahu kan sumpah leluhur kita?!" kata sang ibu sambil mengusap rambut Dhika penuh dengan kasih sayang.

"Iya, Dhika tahu. Dhika mohon maaf telah melanggar sumpah leluhur. Dhika pulang ini untuk pertanggungjawabkan perbuatan Dhika yang tidak sesuai dengan pesan leluhur. Maafkan Dhika, ibu!" ucap Dhika sambil mencium kedua tangan keriput sang ibu.

Mendadak suara petir menggelegar di atas rumah. Kilat dengan apinya yang kuat dengan cepat menghanguskan rumah panggung beserta isinya. 

Dan, jasad sang ibu dengan anak lelakinya tak lagi bisa ditemukan. Karena menyatu dengan abu dan arang dari rumah panggung berbahan kayu itu. (*)

penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di bandarlampung.

LIPSUS