Tragedi Tewasnya Pekerja PT Bukit Asam yang Ditutupi
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Tragedi Tewasnya Pekerja PT Bukit Asam yang Ditutupi

INILAMPUNG
Minggu, 08 Maret 2020

INILAMPUNG.COM - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE) diduga sengaja menyembunyikan atau menutup-nutupi tragedi kecelakan kerja yang menewaskan pekerja.

Buktinya, hanya berselang 14 hari dari tewasnya Hartono (39) yang tergilas konveyor di Area Belt Conveyor TLS 3 Tambang IUP Bangko Barat, PTBA malah menerima penghargaan sebagai perusahaan dengan K3 terbaik.

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan prasyarat bagi perusahaan yang sudah meraih Proper Emas dari Kementerian LH dan Kehutanan.

Bahkan, PTBA sebagaimana yang disampaikan Direktur Utama PTBA Arviyan Arifien. Bersiap menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.

Arviyan mengungkapkan hal itu dalam sambutan ketika puncak peringatan HUT ke-39 PTBA di GOR, (2/3/2020).

Ungkapan suka cita jajaran karyawan dan manajemen PTBA pada perayaan hari ulang tahun itu berbanding terbalik dengan yang dirasakan jajaran buruh tambang.

Keluarga almarhun Tono–sapaan akrab Hartono–tahlilal atas 40 hari meninggalnya karyawan outsourcing itu, Kamis (5/3).
Usaha untuk menyembunyikan tragedi kecelakaan tambang yang menimpa Tono terbilang cukup sukses.

Melalui GM UPTE Suhedi, PTBA secara cepat memberikan santunan pada keluarga korban, termasuk menjanjikan beasiswa untuk kedua anak almarhum Tono.

“Istrinya (Istri Hartono) juga dijanjikan kerja di PTBA,” kata Wijayanto.

Ayah almarhum Tono di rumahnya, di kompleks BTN Air Paku, Blok T Nomor 27 tersebut menceritakan duka dan kehilangannya.

“Kasihan sama anak perempuannya,” ujar Wijayanto, (22/2).

Upaya menutup-nutupi kematian Tono, dibenarkan Kapolsek Lawang Kidul yang menaungi keamanan bagi masyarakat di Tanjung Enim.

“Saya belum tahu, tidak ada laporan,” ujar Kapolsek Lawang Kidul, AKP. Azizir Alim, SH.

Pihak kepolisian, sebagaimana dijelaskan Azizir yang didampingi jajaran dari Serse Polsek Lawang Kidul, menjelaskan kecelakaan di wilayah tambang memang sering menjadi rahasia perusahaan.

“Beda konteksnya dengan kecelakaan di jalan raya, kagek jangan kau salahkan polisi ya, karena kami memang tidak tahu,” ujar dia, (24/2).

“Mereka ini melapor ke Polsek juga idak, begitu ado masalah baru kami dilibat-libatkan,” kata dia.

Memastikan kabar itu, pihak Satuan Pengamanan PTBA, juga mengaku tidak tahu.

“Kalau soal kecelakaan tambang, kami tidak tahu. Dan lagi, soal itu urusan K3, pasti sudah beres, kami tidak punya kewenangan menjawab,” kata Asmen Operasi Security PTBA Joko Purwanto  di ruangannya, kompleks Kantor Pusat PTBA Tanjung Enim.

Pihak security PTBA menyarankan agar bertemu dengan pejabat yang berwenang, yaitu, GM Unit Pertambangan Tanjung Enim, Suhedi.

“GM UPTE itu merangkap sebagai ketua Teknik Tambang. KTT itu yang berhak memberikan keterangan, kalau kami di sini, pengamanan saja,” kata Joko.

GM UPTE sendiri, berusaha ditemui Kantor Pusat PTBA, namun mengakui sedang ke Jakarta.

“GM itu levelnya bupati, Pak. Susah ditemui, saya ikut mengawal beliau, sudah berkunjung ke rumah korban, sudah selesai lah,” kata Ali, bagian security yang sedang berjaga di palang pintu masuk kawasan kantor PTBA. (rmol/inilampung)

LIPSUS