Anto Narasoma Bidik Puisi Isbedy Stiawan ZS
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Anto Narasoma Bidik Puisi Isbedy Stiawan ZS

INILAMPUNG
Minggu, 12 April 2020

Kuingin Lihat Warna dan Garis Tubuhmu

*Isbedy Stiawan ZS

jika hujan kembali mengunjungimu
singkirkan jaket tebal itu
dan lupakan payung hitam yang kubeli
untukmu

kuingin melihatmu berkuyupkuyup, 
warna dan garis tubuhmu bisa terbaca;
mungkin ada jalan bagiku menuju 
persinggahan di sana

atau arah ke taman yang tak seorang
mengunjungi. aku adalah orang pertama
mengajakmu ke tempat itu

melucuti pakaianmu basah
mengganti selimut yang baru

kau gigil?
lebih ngeri dari wabah itu, bisikmu

2020

*****


MEMBURU JEJAK DAN BENTUK YANG TAK TAMPAK

KENGERIAN manusia atas kematian yang tak wajar ialah serangan corona  virus diseases (covid-19). Separuh masyarakat dunia saat merasa ngeri terhadap virus yang tak terlihat itu.
-------
Layaknya dedemit (hantu) yang tak terlihat, tiba-tiba orang yang terinfeksi covid-19 tewas dengan tubuh kejang-kejang sebelum maut marenggut nyawanya.

Bisa jadi penyair Isbedy Stiawan ZS ingin menyaksikan bagaimana bentuk virus corona sesungguhnya.

Terlalu banyak yang tumbang akibat virus tersebut. Sebagai manusia dhoif, penyair mencoba bertanya melalui rangkaian kata dalam puisinya (barangkali) bertajuk "Kuingin Lihat Warna dan Garis Tubuhmu".

Begitu kental keingin Isbedy untuk mengetahui bentuk dan corak si virus seperti apa ujudnya. Pada bait (larik) dua ditulisnya, ...kuingin melihatmu berkuyupkuyup/ warna dan garis tubuhmu bisa terbaca/mungkin ada jalan bagiku menuju persinggahan di sana...

Keinginan ini begitu memuncak sehingga memunculkan rasa penasaan penyair untuk mengetahui bentuk virus yang sempat menggetarkan dunia.

Berbagai cara bagi penyair untuk mengetahui ikhwal virus corona tersebut. Bahan dengan air (hujan) ia mencoba membasuh matanya agar terlihat jelas.

Usaha itu sebenarnya dituiis Isbedy dengan pemilihan kata  berkait yang memuat sejumlah diksi penuh makna (bahasa kias : konotasi).

Bait I itu dilakukan penyair untuk memulai melakukan hasratnya. Kalimat-kalimat yang ditulis untuk mendukung dan menguatkan bait II, dirangkai dengan simbol hujan, jaket tebal dan payung hitam.

Bisa jadi, konotasi yang disajikan itu untuk menjelaskan tentang "kekaburan mata". Karena sebesar dan sekecil apa virus corona yang tak terlihat, buktinya telah mencabut ribuan nyawa di permukaan jagat ini.

Seperti yang dikemukakan penyair dan filsuf besar India, Rabindranath Tagore, hasrat yang ada di dalam jiwa manusia itu seperti ketajaman mata pisau yang baru diasah. Ketika membelah sesuatu, maka benda yang dibelah akan langsung teriris dan unsurnya segera terkuak.

Keinginan itulah yang diharapkan Isbedy agar dirinya bisa langsung melihat bentuk virus corona yang telah menggegerkan persepsi masyarakat dunia tersebut.

Usaha untuk melihat itu ditulis dengan persepsi yang jauh pamggang dari api. Misalnya keinginan melihat itu penyair tulis di bait awal, ..jila hujan kembali mengunjungimu/ singkirkan jaket tebal itu/ dan lupakan payung hitam yang kubeli/ untukmu....

Secara estetik, dari tuturan yang mengundung unsur kiasan panjang (konotasi) tersebut, Isbedy mencoba membuka kepekatan pandangan matanya dengan air mata (hujan yang mengunjungimu) untuk membersihkan halang pandang (kelopak mata) dan unsur tipis di permukaan aorta yang tebal (jaket dan payung hitam).

Penyair begitu piawai merangkum kalimat indah yang berangkai dengan beragam kias.

Seperti dikemukakan B. Sorangkir-Simandjuntak, kalimat-kalimat seperti ini tidak memedulikan bantuk jang lazim dan disukai banjak orang. Sebab bahasa puisi seperti ini memuat limpahan kiasan dan bentuk tjurahannja (hal 92 buku Kesusteraan Indonesia : Jajasan Pembangunan Djakarta 1953).

Memang, puisi yang baik tidak mencari-cari kata indah hingga mengabaikan eksiatensi isi dan prinsip tujuan utamanya, yakni, menyampaikan arti (sens of poe).

Dalam konteks puisinya, penyair (Isbedy Stiawan ZS) memang piawai menggunakan bahasa kias dengan lapisan-lapisan arti.

Sebagai manusia, ia ingin sekali melihat arah dan keberadaan virus (corona) yang paling mematikan ini. Apalagi pengalaman menakutkan yang ia alami begitu mencengkeram perasaan. Karena Isbedy metuturkan kalimat lanjutan dengan bahasan, ...atau arah ke taman mana yang tak seorang mengunjungi/ aku adalah orang pertama/ mengajakmu ke tempat itu....

Sangat jelas, apabila virus corona dapat terlihat benerang, ia (penyair) akan mengajak Covid-19 pergi ke tampat lain agar tak menjangkiti korban lainnya.

Penyair Indonesia di masa penjajahan Jepang, Amal Hamzah, mengatakan," Poeisi meroepakan wadah kata-kata jang bebas berekspresi. Ia akan memoeat isi jang kadang-kadang melentjeng dari akal sihat" (Sedjarah Melajoe : penerbit Djambatan 1958).

Karena itu dengan lincahnya Isbedy berekspresi mengutarakan ketidakmampuannya melihat bentuk (covid-19) dengan referensi bahasa (kata) berkait yang kadang-kadang tidak diterima akal.

Bahkan di kalimat akhir puisinya, ia hanya menulis, ...kau gigil?/ lebih ngeri dari wabah itu, bisikmu...

Begitu takutnya penyair melihat keganasan virus corona ketika tempat persemayamanmya sudah "jatuh tempo", induk semangnya akan menggeliat dan mati secara mendadak.

Seperti dikemukakan penyair Inggris Percy Bysshe Shelley, puisi jenis ini mengungkap isi dan kiasan mendalam atas pengalaman batin yang ada di dalam dirinya.

Bagi saya, puisi "Kuingin Lihat Warna dan Garis Tubuhmu" yang ditulis penyair senior Isbedy Stiawan sangat menarik.

Tak hanya bentuk (tipografi) puisi yang ditulis dengan bahasa sederhana dan dalam persepsi, namun corak tulisannya "sengaja" diolah tak sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Misalnya, ..kuingin melihatmu berkuyupkuyup. Secara teknis, berkuyupkuyup dalam kata (bahasa) harus ada pemisahan, misalnya, berkuyup-kuyup.

Meski coraknya tidak mematuhi aturan bahasa, namun kalimat puisi yang bebas untuk menerjemahkan masalah isi, hal itu tetap ditulis penyair seperti itu.

Barangkali bagi Isbedy ingin menciptakan fonem bunyi dan bentuk estetika sebagai bahasa puisi. Dalam aturan kebebasan menciptakan bentuk, sepenuhnya ada di diri penyair. (*)

Tirta Bening, 12 April 2020

*) Anto Narasoma adalah penyair, esais, dan jurmalis Palembang, Sumatera Selatan.

LIPSUS