Dokter Lorna
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Dokter Lorna

INILAMPUNG
Rabu, 29 April 2020

PEREMPUAN yang kini jadi sorotan dunia itu, Dr. Lorna M Breen, berusia 49 tahun. Hampir semua media memberitakan. Profesinya dokter, punya jabatan di rumah sakit papan atas. Sebagai Direktur Medis dari Departemen Darurat di NewYork-Presbyterian Allen Hospital. 

Namun, popularitasnya melukiskan kemuraman semesta. Mengagetkan dunia. 

Dia yang berada di garis depan penanganan pasien Coronavirus, terpapar, lalu memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, Minggu, 26 April 2020.

Ayahnya, Dr. Philip C Breen mengatakan, bahwa Lorna cukup gigih merawat pasien Coronavirus itu. 

Dan pekerjaannya itulah yang hakekatnya sudah membunuhnya. 

Lorna, menurut ayahnya, layak disebut pahlawan.

Selain di Amerika, sebelumnya ada juga di Italia, tenaga medis yang bunuh diri. 

Adalah Daniela Trezzi yang berusia 34 tahun, perawat di San Gerardo Hospital, Monza. Trezzi bunuh diri setelah dinyatakan positif terjangkit Convid-19 pada Selasa, 24 Maret 2020.

Bunuh diri akibat terpapar Coronavirus juga dilakukan dokter klub Liga Prancis, Stade de Reims, yang bernama Dr. Bernard Gonzalez. Pria berusia 60 tahun itu memilih mengakhiri hidupnya pada Minggu, 5 April 2020.

Rangkaian fakta itu, menguatkan asumsi bahwa Coronavirus juga menyerang psikis. Khususnya para tenaga kesehatan yang ada di baris terdepan penanganan wabah. 

Berita ini menarik. Di Indonesia belum ada tenaga medis yang kita tahu, sangat terbatas APD-nya itu tewas akibat bunuh diri. Tidak ada. Meski dokter dan perawat yang terinfeksi dan meninggal, tercatat jumlahnya paling banyak di dunia.

Bagaimana dunia medis kemudian mampu menjelaskan, seorang dokter seperti Lorna, tanpa catatan penyakit mental, yang cerdas dan ahli di bidang pengobatan, memilih bunuh diri dan dari negara yang mengklaim modern, maju peradabannya, canggih tekhnologinya? 

Bunuh diri pasti erat kaitannya dengan keputusasaan. Fakta bunuh diri semacam inikah yang bakal menjadi awal lahirnya gerakan-gerakan mistisisme? Pencarian-pencarian spiritual, theosofi, atau jalan-jalan komunitas agama yang lebih menekankan pada kepasrahan dan peribadatan seperti era pasca wabah pes? 

Meski ada wacana awal Mei di beberapa negara mulai direncanakan masuk sekolah dan dibukanya beberapa industri yang tutup akibat Coronavirus, wabah ini belum menunjukkan selesai. Semakin hari justru menunjukkan kemuraman dan robohnya bangunan-bangunan psikis. 

Bisa jadi ada yang tak merasa terancam dan tenang-tenang saja, meski posisi rumahnya berada di zona merah. Namun membaca perkembangan di negara maju, tempatnya bersih, masyarakatnya terpelajar model Amerika saja kalang kabut, apa yang bisa kita lakukan melawan Coronavirus, selain lari pada mistisisme. Lebih tepatnya, mungkin, semakin mendekatkan diri pada Tuhan yang serba Maha dan punya 99 Nama. Yang Berkuasa tanpa batas. Memperbanyak dzikir dan syukur. Sebab, momentum Coronavirus tepat di bulan Ramadhan dimana waktu ideal untuk banyak bersabar, menahan diri. Makan, minum dan beragam laku halal saja harus ditahan. 

Jujur, saya ketakutan dan sangat gentar dengan Coronavirus ini. Betapa orang-orang hebat, berpangkat dan punya jabatan tinggi juga terjangkit wabah. Ada yang dikabarkan meninggal juga. Padahal mereka orang-orang kuat, terutama kuat ekonomi dan tentu, berdampak pada kuatnya fisik karena kesehatannya terjaga. 

Bukankah untuk bisa sehat itu sangat mahal? 

Lantas, bagaimana kita, masyarakat yang lemah di semua lini? 

Apakah Coronavirus hanya menyerang orang yang kuat. Yang lemah terbebas, atau jangan-jangan, banyak yang sudah mati dan tidak terdata positif mengidap Convid-19. 

Atau semua warga sudah terjangkit namun kebal. Sebab, siapa yang tak pernah merasakan__ tambahan gejala baru Coronavirus__ seperti nyeri otot, demam, sakit kepala, mual, batuk, ada bintik merah di kulit, bibir kebiruan, dlsb. 

Ah, mendadak kita semua rajin cuci tangan pakai sabun atau alkohol. Cenderung kompulsif. Kulit merah digigit semut pun, sudah membuat cemas. 

Satu hal yang saya syukuri akibat Coronavirus belakangan ini. Yakni, saya bisa berhenti merokok dan ngopi. 

Siang hari.(*)

ENDRI Y.
Penggiat Komunitas Gedong Meneng

LIPSUS