Ini, 2 Puisi Isbedy akan Dibacakan di Cinta Puisi #DirumahAja
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Ini, 2 Puisi Isbedy akan Dibacakan di Cinta Puisi #DirumahAja

INILAMPUNG
Senin, 20 April 2020

INILAMPUNG.COM - Arcana Foundation bekerjasama dengan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI mengadakan baca puisi melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/04) pukul 14.00 hingga selesai.

Sebanyak 15 penyair Indonesia diundang dalam kegiatan ini, termasuk Reda yang menyanyikan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, dan bintang tamu Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Sha Ine Febrianti, Inaya Wahid.

Dari 15 penyair itu, satunya dari Lampung, yakni Isbedy Stiawan ZS. Pengampu Lamban Sastra ini diundang untuk ambil bagian dalam pembacaan puisi dan diskusi yang dipandu Putu Fajar Arcana. Acara ini rencananya akan disiarkan di youtube.

Isbedy menjelaskan, kegiatan ini bagian dari mengisi masa di rumah saja karena Covid-19 dari penyair. 

Masih kata Isbedy, dari perbincangan melalui aplikasi Zoom yang sebelumnya di isi diskusi dan baca puisi. "Puncaknya pada Rabu 22 April 2020 pukul 14.00. Semoga saja berlanjut ke putaran kedua yang bisa mengundang banyak lagi penyair Indonesia," jelas Isbedy.

Penyaor berjuluk Paus Sastta Lampung ini pada Cinta Puisi #DirumahAja akan membacakan 2 puisi, berjudul "Bukan Malin Kundang" dan "Mengadu Pada Siapa". 

"Saya diminta panitia mengirim 2 puisi. Mungkin keduanya dinacakan nanti," ujarnya.

Inilah kedua puisi sastrawan senior Lampung ini:

BUKAN MALIN KUNDANG
Isbedy Stiawan ZS

ini bukan malin kundang
yang dikutuk-dibuang 
di pantai dikerubungi orang

serupa hewan laut 
terdampar dalam sujud

lalu tak dikenal
tanpa kenang dan dilupakan

hanya desir angin
gemuruh ombak 

kemudian tiba di kedai
disambut uni yang tak fasih
legenda kelak tersisih

pindah ke layar 

ini bukan malin kundang
yang dikaba-dendangkan

bukan lagi ibu mengutuk

malin telah dilupakan
ibu yang ditinggalkan

di sini, hanya kutatap
nanar setiap yang lesap

2020


***

MENGADU PADA SIAPA
Isbedy Stiawan ZS

semakin runcing matahari hunjam
telapak kaki. keringatku berdarah
sepi sekali jalan ini;

aku mengaduh. mengadu pada siapa
kecuali orangorang itu keluar rumah
dan menikmati matahari juga 

terlalu pagi. harusnya kutidurkan 
darahku agar tak mau mengalir
biarkan lain luka mengaduh

terlalu lama pintupintu buku terkunci
aku lupa kusimpan cara membuka
dan tubuhku tumbuh bersama rayap

tak ada lagi yang bisa kubeli
makanan sudah habis sejak 
dua hari lalu

"tatap saja meja itu
mungkin lapar bisa kehapus."

2020

(zal/inilampung)

LIPSUS