Memaknai Hari Fitri di Tengah Pandemi, Sambut New Normal dengan New Personal
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Memaknai Hari Fitri di Tengah Pandemi, Sambut New Normal dengan New Personal

bdy
Rabu, 20 Mei 2020


Ikhasuddin, (Ist)

Oleh: Ikhsanuddin

SAAT ini dunia masih dilanda kekhawatiran. Semua masih berjuang menyatukan harapan, melawan kebiasaan, dan saling menopang. 

Rasa-rasanya masih seperti mimpi, beberapa waktu silam kita masih bisa ketawa ke sana ke mari. Kini, rasa-rasanya, membuka bibir untuk tersenyum saja pun berat sekali. Bagaimana kita bisa tersenyum di antara duka dan luka saudara kita yang tengah berjuang, seperti para medis dan pasien covid 19. Juga semua yang terdampak karenanya. Rasanya satu situasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, apalagi kita harapkan.

Ini bukan mimpi, tapi inilah kenyataan hari ini, dimana semua dipaksa untuk berubah. Yang awalnya bisa berjumpa, berjabat tangan dan berpelukan kini semua terwakilkan dengan melakukannya via virtual. Kita memang berada dalam teknologi yang maju, namun untuk beberapa alasan kita adalah makhluk sosial yang berkebutuhan untuk tetap bisa berkumpul, merangkul secara nyata seperti biasanya. 

Hampir 5 bulan Indonesia melawan pandemi Covid-19, dan berbagai upaya diterapkan. Mulai dari pembatasan aktivitas hingga menerapkan pola hidup yang benar-benar baru. 
Bahkan untuk urusan ibadah sekalipun, ruang-ruang ibadah menjadi sepi. Terlebih di kala bulan Ramadan seperti sekarang ini. Kenangan akan Ramadan tahun lalu yang dipenuhi dengan suka cita, tahun ini kita bersama-sama merayakan dengan cara yang berbeda. Tidak ada namanya buka puasa bersama, iktikaf, sholat tawarih berjamaah di masjid maupun di surau-surau, hingga mudik kini juga dilarang.

Semua tentu terjadi bukan tanpa alasan. Pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum kunjung mereda, memaksa kita  untuk menyepakati peraturan baru. Tentu bukanlah perkara mudah, mengingat mengubah kebiasaan manusia dibutuhkan proses yang panjang dan tidak sebentar. 

Saat ini orang menyebutnya New Normal. Sederhananya bisa diartikan sebagai era hidup yang baru. Melalui new normal ini, secara langsung membuat kita merefleksikan banyak hal. Salah satunya merefleksikan proses ibadah kita selama ini.
Biasanya penuh dengan perayaan dan meriah, kini kita dipaksa untuk "sendiri" dan di rumah. Akan memupuk keikhlasan dan kekhusukan kita bermunajat kepada-Nya. Ditambah keadaan ekonomi yang bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja semakin membuat kita untuk membuang jauh-jauh khayalan terkait dengan perayaan-perayaan. 

Kini menjadi waktu yang tepat untuk bersama membaca diri kembali. Bertanya kembali pada diri, mengenai apa yang sudah dilakukan dan apa yang sudah membawa perubahan. Idul Fitri kali ini tidak ada mudik untuk silaturahim,  tidak ada baju baru, sandal, juga sepatu baru seperti Lebaran sebelumnya, sebagai salah satu penanda datangnya hari raya.

Melihat banyaknya warga yang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, bahkan untuk makan sekalipun susah, merupakan tamparan keras. Bahwa masih banyak di luar sana yang benar-benar membutuhkan. Tidak sepantasnya kita mengeluh. 

Karena itu, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk proses penyadaran diri, bahwa ibadah, lebaran bukan hanya sekadar perayaan. Lebih dari itu merupakan proses pemaknaan untuk bisa memaknai kata memaafkan yang diiringi dengan perubahan. 

Sepenggal kalimat dari Emha Ainun Najib, layaknya alarm keras saat ini, “Yang dimaksud Idul Fitri atau mudik atau kembali ke kampung asli mungkin adalah mengelupas secara bertahap kulit-kulit palsu kita. Manusia hari ini susah dicari, dan ia sendiri susah menemukan dirinya karena seluruhnya mereka sembunyikan dalam casing.”  

Untuk tidak pulang kali ini, mari kira rayakan dengan menjadi hari baru yang penuh empati, kepedulian baik pada diri sendiri serta baik kepada sesama. 

Meskipun demikian, kita tetap bisa saling berjabat tangan dan saling memaafkan tanpa harus berada di kerumunan. Karena sejatinya, memaafkan itu perihal keikhlasan. Mari sambut new normal dengan new personal. *


_____
* Ikhsanuddin (Ikhsan Aura) adalah penggerak litetasi di Lampung, ketua IKAPI Lampung, pemilik penerbit Aura Publisher. 

LIPSUS