Senyum Tak Lagi Bermakna
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Senyum Tak Lagi Bermakna

INILAMPUNG
Minggu, 31 Mei 2020

Ilustrasi: Nonton TV. (Net)

Oleh: Dalem Tehang

MATANYA fokus ke layar televisi yang terpasang di pos penjagaan. Sesekali ia tersenyum saat tayangan film India yang ditontonnya menggambarkan adanya pertentangan antar tokohnya. Yang dihiasi dengan nyanyian dan tarian.

"Serius bener kamu ini kalau sudah nonton film India, Umar!" tegur Bono, yang langsung duduk disamping pria muda bernama Umar itu.

"Asyik tahu nonton film India itu, Pakde," sahut Umar yang memanggil Bono dengan sebutan Pakde.

"Apa emang asyiknya nonton film India sih? Seumur-umur aku nggak pernah suka lo. Karena semua filmnya pasti pakai nyanyi-nyanyi dan tarian. Mosok lagi ribut juga nyanyi dan nari. Kan nggak masuk akal," kata Bono. 

"Justru disitu seninya, Pakde. Kita bisa belajar dari orang India. Serumit apapun masalah yang ada, tetep dihadapi dengan enteng. Sambil nyanyi dan nari. Dengan gaya itu, nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaiin," sahut Umar.

"Memangnya kamu sudah lama ya suka dengan film India?" sela Bono.

"Nggak juga. Ya sejak di penjara inilah aku nonton film India. Awalnya ya nggak suka, Pakde. Tapi karena itu-itu aja yang ditonton, lama-lama ya dinikmati aja. Dan ternyata asyik nonton film India dibanding film-film Korea," ucap Umar. 

"Ternyata ini ya yang buatmu selalu kelihatan ceria dan nggak pernah lepas senyum itu," kata Bono. 

Umar tersenyum. Sesaat dipandanginya wajah Bono. Pria setengah baya yang menjadi teman satu kamarnya di lembaga pemasyarakatan.

Sesaat keduanya terdiam. Sama-sama tengah fokus pada layar televisi 20 inc yang menjadi sarana hiburan para napi. 

"Kamu yakin bakal bisa terus ceria dan tersenyum gini selama jalani hukuman disini, Umar?" tanya Bono kemudian. 

"Di dunia ini nggak ada yang pasti, Pakde. Kepastian itu adanya justru dalam ketidakpastian," sahut Umar.

"Maksud kamu gimana?!" tanya Bono lagi.

"Ketidakpastian itu yang pasti di dunia ini. Nggak ada yang gitu-gitu aja dalam hidup ini. Semuanya berputar. Ada pagi, siang, sore dan malam. Ada matahari, bintang dan bulan. Jadi ya dibawa enjoy-enjoy aja hidup ini, dimana pun kita berada," ucap Umar.

"Umurmu berapa sekarang, Umar?!" Bono bertanya lagi.

"33 tahun, Pakde. Memangnya kenapa?" sahut Umar. 

"Masih muda tapi sudah bijak begini. Kenapa kamu kok bisa masuk penjara?" ujar Bono. 

"Ceritanya panjang, Pakde. Sejak kecil hidupku penuh warna. Kadang warnanya cerah, kadang hitam pekat," kata Umar sambil memulai ceritakan kisah hidupnya.

Tiga hari setelah lahir ke dunia, Umar diserahkan orang tuanya untuk diasuh orang lain. 

Bukan hanya karena kehidupan ekonomi orang tuanya yang memang sangat memprihatinkan, tapi juga ada pemahaman jika tidak segera diasuh orang lain, umur Umar tidak akan panjang. Empat kakaknya hanya berusia satu pekan setelah dilahirkan.

Beruntung Umar mendapatkan orang tua asuh yang sangat menyayanginya. Ia disekolahkan sampai lulus di SMA Panaragan, Tulangbawang Barat. 
Umar yang dididik disiplin dan mandiri oleh orang tua angkat, merasa cukup memiliki bekal untuk memulai  mencari penghidupan sendiri. Ia pun menjadi guru honor di sebuah SD di daerah Dipasena, Rawajitu, Tulangbawang. 

Tak puas dengan kondisi itu, Umar pun mengajak koleganya untuk meningkatkan pendidikan. Didekatinya pengelola Universitas Terbuka (UT). Berkat perjuangannya, belasan tenaga pendidik di Rawajitu menjadi mahasiswa UT.

Umar dipercaya untuk mengurus semua keperluan kuliah sejawatnya. Ia pun sibuk bolak-balik Rawajitu ke kampus UT di Bandarlampung. Ia difasilitasi oleh koleganya. Sampai akhirnya meraih gelar sarjana.

Umar bukan hanya berhasil meraih gelar sarjana bersama para sejawat yang diurusnya. Ia juga bisa membeli sebuah rumah di kompleks Perumnas Way Halim berkat ketekunannya mengurus semua keperluan sejawatnya menyelesaikan pendidikan di UT. 

Setelah meraih gelar sarjana, Umar memilih pulang kampung. Di sebuah desa terpencil di wilayah Tulangbawang. Ia kembali menjadi guru. Tapi bukan lagi di SD, melainkan di SMA. Status sebagai guru honorer tak dipersoalkannya. Bagi dia bisa membagi ilmu merupakan kebahagiaan tersendiri.

Perjalanan hidup Umar saat di kampungnya digelar pemilihan kepala desa. Pria bertubuh kecil namun gempal ini didorong warga untuk mencalonkan diri. Bahkan warga setempat sokongan dana untuk menjadikan Umar sebagai kepala desa.

Umar yang masih bujangan akhirnya terpilih sebagai kepala desa berkat dukungan nyata mayoritas warganya. 
Saat menjelang pelantikan, Umar tersadar jika ia membutuhkan istri sebagai pendamping. Ia pun mendekati teman keponakannya yang sudah lama dikenal. 

Terang-terangan Umar yang belum pernah berpacaran, langsung mengajak menikah. 

Dewi, nama wanita itu, tidak menolak. 
Dalam waktu tak lebih dari satu bulan, Umar dan Dewi pun menjadi pasangan suami istri. Pelantikan Umar sebagai kepala desa adalah hadiah terindah buat Dewi. Wanita cantik bertubuh sintal yang juga berprofesi sebagai guru dan bertugas di Mesuji. 

Berbagai gebrakan program pembangunan desa dilakukan oleh Umar. Ia hanya menemui Dewi yang tinggal di Mesuji setiap akhir pekan. Waktu Umar betul-betul dihabiskan untuk kemajuan desa tempat ia dilahirkan.

Banyak pembangunan fisik yang dilakukan. Apalagi kucuran dana pembangunan lewat program Anggaran Dana Desa (ADD) berjalan lancar.
Namun Umar tergoda. Kebiasaannya menghabiskan malam dengan kongkow bersama kaum muda seusianya, membuat pria lugu ini terbawa arus. Bermain judi online.

Akibat keasyikannya bermain judi online, ratusan juta uang ADD diselewengkannya. 

Penyimpangan penggunaan anggaran negara ini pun mencuat. Sang istri, Dewi, bersama anak perempuan semata wayangnya, terkejut bukan main. Tak menyangka bila Umar yang polos, santun, merakyat dan rajin ibadah bisa tergelincir. 
Kasus yang melilit Umar kian membesar. 

Akhirnya ia menjalani proses hukum. Setelah disidangkan berbulan-bulan, akhirnya vonis pun diketukkan majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Total hukuman  Umar selama 7,2 tahun penjara. 

"Jadi aku bebas nanti, anakku satu-satunya sudah masuk SMP. Sekarang dia kelas 1 SD,"  ucap Umar. 

"Berarti kamu bebas 2027 ya?" sela Bono.
Umar menganggukkan kepalanya. Juga tetap melepas senyuman. Terus memancarkan keceriaan di wajahnya yang penuh simpati.

"Aku yang divonis 3 tahun aja rasanya nggak kuat, kamu yang 7 tahun lebih kok mesem terus to," ucap Bono sambil memandangi Umar yang tetap menunjukkan senyum di sudut bibirnya. 
Umar tak menjawab. Ia hanya tetap menebar senyuman. Sebuah senyuman tak bisa diterjemahkan maknanya. (*) 

Penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS