Singgah Sejenak di Pondok Santap Bersama Isbedy Stiawan
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Singgah Sejenak di Pondok Santap Bersama Isbedy Stiawan

INILAMPUNG
Sabtu, 09 Mei 2020

INILAMPUNG.COM - Pondok Santap Taman Untung milik Muchlas Ermanto Bastari menggelar baca puisi tunggal penyar Isbedy Stiawan ZS, Sabtu (9/5) sore tadi.

Acara bertajuk Singgah Sejenak Lepas Kangen di Pondok Santap Taman Untung itu disiarkan secara langsung melalui aplikasi FB berdurasi 48 mebit, mulai pukul 17.00.

Menurur Muchlas E Bastari, kehadiran Isbedy Stiawan ZS adalah singgah sejenak di kedai santap untuk melepas kangen. 

Namun, kata Muchlas, dalam singgah itu diisi baca puisi dan dselingi ngobrol-ngobrol seputar sastra, pandemi, dan ramadan. 

Muchlas E. Bastari yang memandu obrolan ini juga turut membacakan puisi-puisi karya Paus Sastra Lampung dari buku "Kini Aku Sudah Jadi Batu!" (2020).

"Saya memandu untuk obrolan sastra. Isbedy membacakan sejumlah puisi lama dan terbaru semasa pandemi ini," kata politisi PKS Kota Bandarlampung itu. 

Ia melanjutkan, gagasan ini digelar melihat aktivitas selama #diam di rumah saja, ternyata makin berlimpah. Misalnya Isbedy melakukan live dari rumah dan di sawah melalui live IG dan FB. Selain rekaman baca puisi untuk youtube.

"Kreativitas seorang seniman memang tak boleh mati dalam situasi darurat sekalipun," jelas Muchlas.

Sementara Isbedy mengaku keyadiran di  Kedai Santap di Jalan Untung Surapati tersebut guna menjalin silaturahim atau melepas kangen. 

"Ketika diajak bincang dan baca puslisi, saya siap selagi bermanfaat bagi banyak orang. Apalagi selama stay at home, saya isi juga dengan baca puisi di rumah," kata pengampu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS ini.

Dalam obrolan bertema  Menembus Pandemi di Bulan Ramadan, keduanya mengupas masalah sosial, empati, humanis, ekonomi makro, juga kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid 19. 

Isbedy juga bicara fenomena seniman panggung mengisi akun-akun media sosial untuk berkreativitas. 

"Misal  fenomena daring dan digital bagi seniman Indonesia semasa pandemi Covid 19. Ini era baru ketika media cetak kian banyak menggusur halaman sastra dan media cetak yang gulung tikar," urai Isbedy.(zal/inilampung)

LIPSUS