Suara Sendu Muazin Muda
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Suara Sendu Muazin Muda

INILAMPUNG
Sabtu, 16 Mei 2020


Ilustrasi. (Ist)

Oleh: Dalem Tehang

PRIA muda itu duduk bersila. Bersandar di tiang masjid paling belakang. Tangannya memegang tasbih yang terus bergerak. 

Mengikuti gerak bibirnya yang tiada henti. Ia tengah wirid. Menyampaikan pujian pada Tuhan Seru Sekalian Alam. 
Wajahnya terus menunduk. Matanya memejam. Menggambarkan betapa ia tengah khusuk berikhtiar membuka pintu langit. 

Pria berusia 40 tahunan itu menghentikan i'tikafnya saat beduk ditabuh. Pertanda waktu solat subuh tiba. Ia beringsut. Menuju mimbar masjid. Mengambil mik. Dan, azan. 

Suara pria muda itu begitu sendu. Dengan gaya azan yang mengalun. Membuat siapa pun yang mendengarnya akan terpaku. Ada suasana kesedihan dan kepedihan. Ada gelegak jiwa yang diliputi keikhlasan. Dan, ada air mata bercucuran setiap kali ia lantunkan panggilan bagi umat muslim untuk melaksanakan solat. Prosesi penyembahan pada Sang Khaliq. Wujud pengakuan kenisbian sebagai sang makhluk. 

Sejak awal Ramadhan, ia selalu menjadi muazin saat memasuki waktu subuh di masjid dalam kompleks rumah tahanan itu. Suaranya yang khas, serak-serak basah, mengalun. Membedah kesunyian dengan penuh kesenduan. Membuat angin pun berhenti dari semilirnya. 

Selepas solat subuh, pria muda itu kembali bersandar di tiang paling belakang masjid. Ia diam. Tepekur. Hanya gerakan tasbih yang menandakan ia tidak tidur. Begitu indah ia menikmati perdialogannya lewat puji-pujian dan permohonan ampunan pada Sang Pencipta.

Pria muda ini baru bergerak dari tempat tafakurnya saat mentari bangun dari peraduannya. Menebar sinar ke seantero alam semesta.  Sambil mengusap matanya yang masih menyisakan bekas air mata, ia berdiri. Merapihkan kain sarungnya. 

Ia baru saja berniat meninggalkan masjid, saat ada yang menyapa: "Assalamualaikum, Umar!"
"Waalaikum salam. Oh, Pak Eeng. Apa kabar, Pak?!" sahut pria muda bernama Umar itu.

Ia salami laki-laki setengah baya yang baru menyapanya. 
"Alhamdulillah, sehat. Kamu sehat-sehat aja kan, Umar," ucap Pak Eeng.
"Seperti yang Pak Eeng lihat. Alhamdulillah, saya sehat," kata Umar seraya tersenyum.

"Syukur kalau begitu. Saya sengaja nunggu kamu selesai wirid. Pengen ngobrol-ngobrol aja sih!" lanjut Pak Eeng.
"O begitu. Boleh, Pak. Kita duduk disitu aja ya?!" kata Umar sambil menunjuk sudut teras masjid.

"Kayaknya ada yang serius ya, Pak?" ujar Umar setelah mereka duduk berhadapan.
"Sebenernya nggak juga sih, Umar. Cuma jujur ya, saya selalu terharu dan bergetar hati saya setiap mendengar kamu azan subuh. Suaramu begitu sendu. Seakan kamu tengah sampaikan kepiluan hatimu melalui azan yang kamu kumandangkan. Makanya saya kepengen ngobrol sama kamu ini, Umar," urai Pak Eeng.

"Oalah, kirain soal apa, Pak. Suara saya kan memang begitu. Kalau dulu, waktu masih sering nyanyi di panggung, saya dibilang bersuara melo. Melankolis maksudnya, Pak," kata Umar sambil melepas tawa.

"Ah, kamu bisa aja becanda, Umar. Suaramu memang bagus kok. Ditambah kesenduan yang mengiringi azanmu, saya akui suaramu menggetarkan jiwa semua yang mendengarnya. Sepertinya ada luapan tersendiri saat kamu azan," tutur Pak Eeng.

Umar tak langsung menjawab. Sekilas ia tersenyum. Tipis dan sesaat. Senyum yang sulit dimaknai. 

"Nurut saya sih sebenernya ya biasa-biasa aja kok, Pak," ucap Umar kemudian.
"Nurut saya malah nggak biasa itu, Umar. Dari suara azan subuhmu yang begitu sendu, seakan ada penyesalan yang begitu dalam. Yang baru bisa kamu ekspresikan saat ini," kata Pak Eeng lagi.

"Nggak begitu juga kali, Pak. Ini Pak Eeng ternyata lebih melankolis dibanding saya," ucap Umar. Ia tertawa. Renyah.

"Memang, siapapun yang ada dan menghabiskan hari-harinya disini, akan lebih diwarnai perasaan ketimbang logika, Umar. Hidup disini adalah hari-hari penuh introspeksi dan penyesalan. Maka jangan heran kalau orang-orang disini lebih sensitif. Bahkan jadi over protektif. Walau waktu diluar, orang-orang kayak kita ini hidup dalam kecuekan dan keegoisannya sendiri," kata Pak Eeng. 

Umar manggut-manggut. Mencoba menelaah dan memahami yang dikatakan Pak Eeng. Ia tahu, tidak mudah menarik benang merah dari rangkaian kata yang diterimanya. Jika tidak hati-hati dan cermat dalam pemaknaannya. 

"Yah, mungkin memang setiap azan, saya nggak bisa kendaliin perasaan ya, Pak. Maka nurut Pak Eeng jadi sendu suaranya," ucap Umar.

"Bukan saya aja yang nilainya begitu, Umar. Tapi juga semua penghuni rutan ini yang mendengar azanmu. Lihat aja, sekarang yang jamaahan solat subuh jadi lebih banyak. Belum lagi yang solat di kamar masing-masing. Semua itu karena mereka tersentak oleh suaramu saat azan. Begitu sendu. Mengena dan menggetarkan jiwa. Hingga banyak yang tergerak untuk subuhan," ulas Pak Eeng. 

"Subhanallah. Masak sih sampai segitunya, Pak. Kalau betul, Alhamdulillah. Allah yang gerakkan kawan-kawan disini untuk subuhan. Suara azan saya cuma lantaran aja," sahut Umar.

"Apapun itu, berkat suara sendumu, Umar. Ini berkah Ramadhan yang luar biasa buat kita semua. Teruskan langkahmu jadi muazin ya, Umar," kata Pak Eeng lagi.
"Semua atas kehendak Allah, Pak. Insyaallah saya bisa istiqomah sebagai muazin untuk mengajak solat subuh. Mohon doa dan dukungannya ya, Pak!" ujar Umar. Merendah.

"Semoga Allah meridhoi niatmu ya, Umar. O iya, tadi kamu bilang kalau saat azan, kamu sering nggak bisa kendaliin perasaan. Kenapa begitu?" kata Pak Eeng.
"Cerita masa lalu yang nggak baik, Pak. Nggak pantes untuk saya sampein," tukas Umar.

"Kamu jangan kecil hati begitu, Umar. Harus diingat, kita semua disini karena ada masa lalu yang nggak bagus. Soal perkara yang bawa kita harus hidup disini untuk jalani hukuman, itu hanya lantaran. Bagi kita yang menyadari kalau ini semua proses penebusan dosa sekaligus kesempatan buat perbaiki diri, tentu tetep nikmat-nikmat aja hidup dalam sejuta keterbatasan yang ada," urai Pak Eeng. 

Umar terdiam. Menundukkan wajahnya. Tampak ia tengah menenangkan jiwanya. 
"Jadi penyesalan yang begitu dalam dan terdengar lewat suara saat azan subuh, nggak masalahkan, Pak Eeng?" kata Umar. Sambil matanya yang redup memandang wajah Pak Eeng.

"Ya nggaklah, Umar. Justru karena ada tekanan penyesalan saat kamu azan itu, pengaruhnya luar biasa. Sangat positif. Kamu bener-bener bisa sampaikan suara hati terdalam melalui penghayatan kata demi kata dari azan itu sendiri. Sungguh suatu peristiwa yang membekas di sanubari hingga ekspresi penyesalanmu demikian mendalam. Sangat jarang orang bisa melakukan seperti kamu ini," kata Pak Eeng.

"Bener, Pak. Saya memang sangat menyesali perbuatan saya di setiap menjelang subuh datang. Saya sangat berdosa pada istri dan tentunya juga pada Tuhan," kata Umar. 
"Kenapa bisa begitu?"
"Saya ini dulu hidup tak beraturan, Pak.  Tak tahu waktu. Semau saya aja. Baru pulang selalu menjelang subuh. Bahkan tak terhitung, berapa ratus kali pas masuk rumah, tepat muazin di masjid depan rumah mulai azan subuh," Umar memulai cerita. 

"O begitu. Terus apa yang kamu lakukan?!" sela Pak Eeng.
"Saya masuk kamar dan tidur. Saat itu, istri selalu minta saya untuk solat subuh dulu baru tidur. Tapi permintaannya selalu saya cuekin. Bahkan saya sering marah. Sampai nggak kehitung lagi betapa sering istri nangis karena saya marahin dia," kata Umar.

"Terus apa yang dilakukan istrimu?" tanya Pak Eeng.
"Dia solat subuh sendirian. Saya sering lihat dia berdoa sambil menangis. Saya tahu, dia mendoakan saya agar diberi kesadaran. Tapi saya nambah marah kalau lihat dia berdoa sambil nangis. Bertahun-tahun hal ini terjadi dalam kehidupan saya," aku Umar. Suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca.

"Dan sekarang kamu sesali itu semua ya, Umar?!" 

"Iya, Pak. Itu sebabnya saya minta pada pengurus masjid untuk diizinkan jadi muazin khusus solat subuh aja. Ini saya lakukan sebagai penebusan dosa pada istri sekaligus mohon agar Allah mengampuni egoisme saya bertahun-tahun yang lalu setiap menjelang waktu subuh," tutur Umar.

"Subhanallah. Apa istrimu tahu kalau kamu sekarang jadi muazin setiap subuh disini?" tanya Pak Eeng.

Umar menggelengkan kepalanya. Butiran air dari matanya berjatuhan. Terhempas ke kain sarung yang dipakainya. Ia pejamkan matanya. Mulutnya komat-kamit. Membaca doa. 

"Saya malu mau beritahu istri, Pak. Saya hanya doakan dia agar Allah menyelamatkannya dari semua tipu daya dunia. Hanya ini yang bisa saya lakukan sebagai penebus salah dan dosa pada dia," ucap Umar dengan suara tertahan. 

Air terus bercucuran dari matanya. Wajahnya tampak memerah. Menahan goncangan perasaannya. Pak Eeng menepuk kedua bahu Umar. Menguatkan. Ia tahu, acapkali sebuah penyesalan lahir karena dipaksa oleh keadaan. Dan, Umar kini tengah mengalaminya. Di saat sejuta keterbatasan adalah isi hari-harinya. (*)

penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS