Surat Terbuka Menguatkan Surat Terbuka: Syukur Jika Dibaca Gubernur, Bupati, Walikota
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Surat Terbuka Menguatkan Surat Terbuka: Syukur Jika Dibaca Gubernur, Bupati, Walikota

INILAMPUNG
Selasa, 12 Mei 2020

Isbedy Stiawan ZS

PANDEMI Covid 19 telah melantak tatanan hidup manusia!

Itu pernyataanku untuk menjawab Surat Terbuka Samsul Arifien di grup ini. Surat terbukanya untuk Gubernur Lampung Arinal Junaedi. Ia menulis sebagai ketuanya para seniman Lampung Timur. 

Ada alasan. Sepatutnya Samsul memperjuangkan para seniman agar seni bergeliat terus.

Covid 19 memang memorak seluruh lini: politik, sosial, ekonomi, persahabatan/persaudaraan, dan seterusnya.

Pemerintah tak mau berlakukan lockdown lantaran berisiko "menghidupi" rakyat, di saat ekonomi RI juga terpuruk. Diizinkan pemerintah daerah yang mau Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) agar tanggung jawab nasib manusia ditanggung kawasan setempat.

Tapi sebetulnya saran diam di rumah saja telah diikuti sebagian masyarakat sejak 14 Maret 2020. Sekolah dari rumah, ibadah dari rumah; hanya kerja - sebagian ASN ternyata  tak dilakukan -- dan seterusnya.

Bagi buruh harian jelas berat tinggal di rumah saja. Buruh di sini bisa kuli angkut barang, ojol, pengawas di pelabuhan. Juga seniman (panggung) atau seniman yang berkreasi dari acara ke acara serta berkarya baru menghasilkan uang.

Soal pedagang di pasar yang dilarang lalu dilawan karena jika tak berjualan, dari mana mereka bisa menghidupi keluarga. Sudah banyak info ini di media. Bahkan, korban dari sekolah di rumah saja; karena sulit signal akhirnya baik menara masjid dan terjatuh hingga tewas, juga ada beritanya.

Para seniman luar Lampung juga banyak yang menjerit. Penari latar Madona dari Solo juga mengakui ini. Sejumlah event di Eropa akhirnya dibatalkan.

Teater dari Bandung dengan sutradara Wawan Sofwan yang seharusnya pentas di Indonesia Kaya seponsor Djarum Kudus, mau tak mau manggung melalui aplikasi media digital. Begitu pun Arman Maulana cs akhirnya tampi di studio yang hanya ditonton kru teve dan artis yang tampil.

Lalu saya dengar juga para seniman Riau yang meminta gubernur setempat memikirkan nasib seniman.

Tapi di tengah lintas pandemi Covid 19 ini, kreativitas seniman tak pernah mati. Bahkan menyala, bersyahwat kreatif yang dahsyat!

Arcana Foundation membuat program Cinta Puisi Para Penyair Nusanrara. Program yang sudah angkatan kedua ini dapat dukungan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI. Tiap penyair yang diundang baca dari rumah saja mendapat honor Rp1 juta. Alhamdulillah saya masuk di dalamnya yang diundang.

Membangkitkan kejenuhan sehingga bisa mematikan kreativitas, dibuatlah acara-acara pentas seni di rumah oleh komunitas seni. Tampil siaran langsung di FB, IG, maupun zoom.

Seandainya gubernur/walikota/bupati jeli, peluang ini bisa difasilitasi. Para seniman didanai, pentas seni dan berkarya dari rumah. Kemudian disiarkan di akun media sosial. Ini bisa sedikit menguatkan hati masyarakat. Dan, kita lupa sekejap saja dengan situasi saat ini. Dan masyarakat lain yang juga memprihatinkan sebab hidupnya dapat hari ini, segera kucurkan bantuan itu. Di situ ada hak untuk rakyat. Jadilah Umar di kala benar-benar kesulitan ini.(*)

LIPSUS