Akhir Kisah Sang Ajudan
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Akhir Kisah Sang Ajudan

INILAMPUNG
Sabtu, 13 Juni 2020

Oleh: Dalem Tehang

SETIAP pintu kamar dibuka, Umar langsung bergegas keluar. Membawa sajadah dan kain sarung. Kopiah warna putih khas Pak Haji, bertengger di kepalanya yang plontos. Berjalan cepat menuju Masjid Miftahul Jannah, yang ada di dalam kompleks rumah tahanan kelas satu itu. 

Selepas wudhu, ia mengambil posisi di pojok kanan dalam masjid. Memulai solat sunah. Takhiyyatul masjid, taubat, hajat, tasbih dan ditutup dengan solat dhuha. Dilanjutkan dengan pengagungan kepada Sang Penguasa Langit dan Bumi melalui prosesi wirid yang sangat khusu'. Ditutup dengan untaian pengharapan. Permohonan ampunan dan keinginan hidup berkeberkahan. 

Saat ia akan keluar ruangan masjid, matanya melihat sesosok laki-laki muda tengah melamun. Bersandar di tiang masjid. Umar tergerak untuk mendekatinya.

"Assalamualaikum," sapa Umar.

"Waalaikum salam," sahut laki-laki berusia sekitar 32 tahun itu. 

"Mengganggu nggak kalau saya duduk disini dan ngobrol-ngobrol? Saya lihat kamu lagi nggak wirid," kata Umar sambil tersenyum. Menunjukkan keramahan. 

"Silakan duduk disini, Pak," ucap laki-laki itu sambil mengenalkan diri bernama Hendra, namun biasa disapa Eeng. 

"Terimakasih. Nama saya Umar. Hampir setiap pagi sebenernya kita sama-sama beribadah disini. Tapi nggak saling kenal, apalagi ngobrol," kata Umar. Mereka pun bersalaman.

"Iya, saya juga hampir setiap pagi lihat Pak Umar kok. Selalu solat di pojok kanan depan. Lama ya wiridnya, Pak," ucap Eeng sambil tersenyum.

"Saya lagi ngapalin bacaan puja-puji untuk Allah. Juga doa-doa. Dan baru disinilah saya bisa baca Alqur'an," ujar Umar, terus terang.

"Sama, Pak. Saya juga baru setelah di rutan ini baca Qur'an. Seinget saya, terakhir ngaji waktu masih SMP. Setelah itu nggak pernah lagi. Pas sudah disini, kepengen ngaji lagi. Alhamdulillah," kata Eeng.
Sontak keduanya tertawa. Menertawakan sebagian  perjalanan hidupnya. 

"Bener kata guru saya dulu. Ada orang yang beruntung karena musibah, dan ada orang yang merugi karena hidupnya sukses. Kita ini kayaknya termasuk orang yang beruntung karena musibah ya, Eeng!" ucap Umar masih sambil melepas tawa. 

Eeng mengangguk-anggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang disampaikan Umar. Pria separuh baya berwajah teduh, namun memiliki sorot mata yang sangat tajam. 

"Karena kita termasuk orang yang beruntung akibat musibah, jangan setengah hati dalam beristiqomah. Totalkan semuanya mumpung kita di dalem gini," lanjut Umar.

"Iya, Pak. Saya juga terus berusaha untuk ikhlas menerima musibah ini. Bagi saya, hidup di penjara seperti ini bukan malapetaka apalagi kiamat," sahut Eeng. 

"Cocok itu, Eeng. Jangan sekali-kali dibangun di pikiran kita kalau masuk penjara itu akhir dari kehidupan kita. Ini hanya bagian kecil dari harmoni kehidupan saja. Dan pada saatnya nanti, kita akan jalani bagian lain dari harmoni kehidupan yang sangat baik. Saya seneng kamu optimis begini. Padahal kalau lihat kebiasaanmu setiap pagi di masjid, yang kelihatan terpuruk dan beberapa kali saya lihat kamu menangis, saya kira kamu  sudah kehilangan semangat hanya karena hidup di penjara ini," urai Umar. 

Eeng tersenyum. Diam-diam ia kagum dengan kecermatan Umar melihat kebiasaannya. Memang, setiap usai solat sunah dan wirid, ia tak kuasa menahan haru ketika memanjatkan rangkaian doa. Keharuan yang demikian dalam itulah yang membuat hatinya menyesak. Yang terekspresikan dengan bercucurannya air mata. 

"Saya menangis dalam doa, Pak. Bukan tangis penyesalan karena di penjara," kata Eeng. 

"O gitu? Jadi kamu nggak menyesal hidup disini?!" sela Umar.

Eeng menggelengkan kepalanya. Dengan keyakinan.

"Kenapa bisa gitu ya? Kebanyakan orang yang masuk kesini menyesal, kok kamu nggak?! Aneh aja buat saya," lanjut Umar.

"Buat apa menyesal, Pak. Semua kita kan sudah punya garis tangan. Punya takdir masing-masing. Dan nggak bakal tertukar. Bagi saya, hidup ini ya dijalani aja. Bahwa kita harus berusaha untuk hidup lurus, iya. Tapi kalau Tuhan berkehendak, apalah daya kita sebagai makhluk," kata Eeng. 

"Yang kamu bilang itu  bener, Eeng. Takdir kita memang sudah ditentuin jauh sebelum kita lahir di dunia ini. Berserah diri memang tepat. Tapi, kita juga wajib ikhtiar. Wajib berusaha. Berjuang. Nggak boleh juga hanya menunggu nasib," sahut Umar. 

"Iya, Pak. Sedikit banyak saya juga paham. Salah satu cara untuk ngerubah takdir kan dengan doa. Jadi selama ini ya saya perbanyak dan perkuat doa. Alhamdulillah selama di rutan, hati saya nyaman-nyaman aja, walau sering ngadepin situasi yang nggak ngenakin," kata Eeng. 

"Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa lama disini?" tanya Umar.

"Bulan depan masuk 2 tahun saya disini. Tinggal 3,5 tahun lagi yang harus saya jalani," jelas Eeng.

"O gitu! Kok pakai bahasa tinggal 3,5 tahun lagi, itu kan lebih lama dari yang sudah kamu jalani, Eeng?!" ucap Umar. 

"Dengan memakai bahasa itu, buat pikiran dan hati saya tetep ringan, Pak. Nggak ada beban jalani hari-hari disini. Sekaligus memotivasi saya untuk terus kuatin ibadah dengan total, karena waktu tinggal 3,5 tahun lagi," kata Eeng.
 
"Jadi kamu ragu, kalau keluar dari sini nanti tetep bisa istiqomah ya?!" sela Umar. 

"Saya nggak mikir sampai disana, Pak. Saya cuma ingin mantepin keimanan dengan banyak-banyak ibadah selama disini. Lagian, kita kan nggak tahu umur, Pak? Siapa yang bisa jamin kalau tiba waktu dhuhur nanti kita masih hidup?  Apalagi besok, lusa, bahkan tahun depan?!" ucap Eeng. 

Umar memperhatikan lebih dalam sosok Eeng. Muda, tampan, cerdas, sopan, dan luas wawasannya. Memiliki postur badan yang atletis,  berkulit putih bersih. Pertanda ia bukan orang kebanyakan. 

"Memangnya kamu kesandung kasus apa bisa sampai disini?" tanya Umar. Mengalihkan pembicaraan. 

"Narkoba, Pak!" sahut Eeng. Pendek.
Umar mengernyitkan dahinya.

Ditelisiknya lagi postur Eeng. Tak ada tanda-tanda ia pengguna narkoba. 

"Pak Umar nggak percaya ya kalau saya tersangkut kasus narkoba?" ujar Eeng. Seakan tahu keraguan Umar. 

"Bener. Kamu nggak nunjukin kalau sebagai pemakai narkoba lo, Eeng. Maka saya ragu. Tapi masak iya, kita ngobrol di masjid gini kamu mau berbohong," kata Umar. 

"Disini bedanya kasus narkoba dengan kriminal umum lainnya, Pak. Rata-rata, pemakai apalagi bandar narkoba, tampilannya gagah-gagah dan parlente. Karena mayoritas punya kelas secara ekonomi. Walau banyak juga yang dari ekonomi bawah," jelas Eeng sambil tersenyum. 

"Kok kamu yang gagah dan cerdas begini bisa tersangkut narkoba, gimana ceritanya?" tanya Umar. Penasaran.

Eeng sesaat terdiam. Wajahnya menengok keluar masjid. Ke arah bangunan dan halaman rutan yang asri. Mengalihkan pandangan untuk menimbang perlu tidaknya ia ungkap sebagian kisah hidupnya. 

"Kalau kamu keberatan, ya nggak apa-apa, Eeng. Saya tanya cuma karena respek aja sama kamu. Sekalian bisa berbagi pengalaman. Sebab, anak saya yang tertua, ya seusia kamu inilah," lanjut Umar, melihat keraguan Eeng. 

"Sama sekali saya nggak keberatan kok, Pak. Tadi saya nimbang-nimbang mau cerita apa nggak, semata-mata takut keikhlasan saya jalani takdir ini jadi ternoda," kata Eeng. 

Umar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sekarang tahu matangnya laki-laki muda itu dalam mengelola hatinya agar tak tercemar.

"Sungguh amat kamu jaga hatimu agar tetep terpaut hanya pada kehendak Tuhan ya, Eeng. Saya kagum sama kamu," ucap Umar dengan tulus. 

Eeng hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia beristighfar. Ia sangat takut akan pujian. Karena ia tahu persis, hanya Tuhan yang berhak dipuji. Sangat tak pantas bila ia merebut hak Tuhan. 

"Saya dulu pernah bertugas selama 2 tahun sebagai ajudan seorang bupati, Pak. Tahu sendiri kan beratnya tugas sebagai ajudan? Sebelum Bos bangun, kita harus sudah siap. Setelah Bos tidur, baru kita bisa istirahat. Sederhananya kan begitu," urai Eeng, mulai bercerita. 

Umar beringsut. 
Duduk mendekat. Tertarik dengan cerita Eeng. Yang memang ditunggu-tunggunya. 

"Kebetulan, Bos saya itu fisiknya luar biasa. Nggak pernah kelihatan lelah walau kerja sejak pagi sampai menjelang pagi lagi. Selepas solat subuh pasti sudah mandi. Nggak pernah ada ceritanya Bos saya itu bangun siang. Dan saat jam ngantor tiba, pasti langsung berangkat ke kantor. Hebatnya, sesibuk apapun, nggak pernah Bos saya itu kelihatan capek, penat atau kurang tidur. Selalu fresh," kata Eeng. 

"Sebagai ajudan, kamu jadi keteteran ya ikuti ritme Bosmu itu?!" sela Umar. Eeng mengangguk.

"Karena itu kamu pakai narkoba untuk doping agar bisa imbangi fisik Bosmu, gitu ya?!" lanjut Umar. Eeng kembali mengangguk. 

"Setelah kamu kena kasus ini dan di penjara, Bosmu ada bantu-bantu nggak?!" imbuh Umar. Eeng menggelengkan kepalanya sambil melepas senyum.

"Bahkan saya diusulkan sama Bos untuk dipecat sebagai PNS. Keputusannya juga sudah turun dari BKN. Jadi saya sekarang ini pengangguran," ucap Eeng, masih sambil melepas senyum. Senyum kecut.

"Subhanallah. Keterlaluan ya Bosmu itu. Padahal kan bisa aja dia nggak usulin kamu untuk dipecat dari PNS," ujar Umar. 

"Kalau bicara bisa, ya bisa-bisa aja, Pak. Tapi sudah beginilah takdir saya. Buat apa persoalin urusan begituan. Saya ikhlas jalani takdir ini," kata Eeng. 

"Atau jangan-jangan, Bosmu yang begitu energik nggak kenal lelah itu juga dopingnya pakai narkoba ya, Eeng!" kata Umar. 

Eeng hanya angkat bahunya. Pertanda ia tak tahu. Atau lebih tepatnya tak mau bersakwasangka yang negatif.

"Maaf, Pak. Bagi saya lebih baik salah menyangka baik, daripada salah menyangka jelek," tutur Eeng. Kali ini melepas senyum penuh ketulusan. Seraya berpamitan pada Umar karena akan mencuci pakaian yang sudah direndamnya sejak semalam. (*)

Penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS