Buniati Mengawali Usahanya dengan Lima Kilogram Emping
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Buniati Mengawali Usahanya dengan Lima Kilogram Emping

INILAMPUNG
Selasa, 14 Juli 2020

Perajin emping melinjo Karya Bundo, Buniati dan suaminya, Irwanto. Foto. Ist. 
INILAMPUNG, Gedongtataan--Buniati, perempuan setengah baya itu menerima tamu di teras rumahnya yang resik. Berbincang tentang perjalanan usaha, istri Irwanto itu cukup antusias.

Dentang palu kayu menumbuk biji tangkil berulang dan suara wajan digongseng menjadi latar belakang suasana obrolan. Ya, itu karena Buni, sapaan akrabnya, adalah perajin emping melinjo yang ikut menciptakan pekerjaan bagi tetangga-tetangganya.

Lepas SMA pada 1992, Buni tak punya kesempatan melanjutkan pendidikan. Ia sempat mengadu peruntungan dengan melepas beberapa lembar surat lamaran kerja, tetapi tak ada yang lolos. Dan ketika menikah, perempuan gesit ini tak betah berpangku tangan.

“Saya orangnya nggak betah kalau diam. Ya, pengin aja bikin apa, begitu. Makanya, saya coba-coba bikin emping karena harganya waktu itu bagus. Nah, dari situlah saya terus bikin sampai sekarang. Usaha saya tambah lancar karena dibantu pinjaman dana dari PTPN (PT Perkebunan Nusantara) VII,” kata dia saat ditemui di rumahnya di Desa Bernung, Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.

"Memilih usaha emping karena saya melihat peluangnya cukup bagus," katanya. Dengan modal tekun, karena proses kerjanya membutuhkan kesabaran, usaha emping melinjo dengan merek “Karya Bundo” ini menjadi jalan hidup ekonomi keluarga ini.

Dari usahanya itu, ia bersama suaminya, Irwanto, bisa menyekolahkan empat buah hatinya. Anak yang pertama saat ini sedangan menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan di Pringsewu. Anak kedua juga mengenyam pendidikan sekolah D3 perawatan  di Baitul Hikmah, Bandarlampung. Sedangkan anak ketiga dan keempat masing-masing SMA dan kelas lima SD.

Tangga Usaha

Pada awal membuka usaha produksi emping, Buni hanya mengolah lima kg melinjo per hari. Bahan baku yang dibeli dibuat emping dan dipasarkan ke warung-warung dengan bungkusan kecil dan sederhana.


Dari hasil penjualan terus diberikan bahan baku lagi. Pengerjaannya pun dilakukan sendiri. Namun, lama kelamaan banyak para tetangga yang ikut membantu.

“Alhamdulilla, usaha emping melinjo ini semakin menguntungkan. Bahkan kini penjualannya sudah sampai ke Palembang dan Jambi. Sekarang kami sedang menjajaki penjualan ke Jawa. Ada pengusaha oleh-oleh di Bandung yang sudah mendekati dan membicarakan kerjasama pemasaran emping kami di sana," papar Buniati didampingi sang suami.

Kini, olahan produksi empingnya sudah mencapai 100 kilo gram bahan baku melinjo sehari. Dari satu kuintal tangkil itu, kata dia, akan menghasilkan 40 kg emping.

Empingnya juga kini sudah memiliki varian rasa. Kalu awalnya hanya rasa original, kini ada rasa manis dan pedas.

Untuk penjualan, kata Buniati, tidak hanya dititip di toko kue saja. Namun, bagi masyarakat yang ingin membeli di rumah juga tetap dilayani.

“Kami juga saat ini sudah melayani kemasan plastik, harganya Rp10 ribu per kantong,” kata dia.

Buniati mengatakan, emping melinjo buatannya kini sudah punya sertifikat halal, sehingga aman bagi siapa saja yang mengkonsumsinya.

Untuk harga perkilo, jelas Buniati, emping dengan varian rasa ini dibandrol dengan harga Rp50 ribu, sedangkan untuk yang original dibandrol harga Rp40 ribu.

Menurutnya, untuk memenuhi permintaan pelanggan kadang ada kendala masalah bahan baku. Apalagi saat tidak musim panen tangkil, sering mengalami kelangkaan bahan baku.

“Alhamdulilah, sejak mendapat batuan pinjaman kemitraan dari PTPN VII, kendala bahan baku sudah mulai dapat diatasi. Sekarang sudah bisa menyetok bahan baku dengan modal dari PTPN VII," katanya.

Bahan baku sendiri tidak hanya didapat dari Kabupaten Pesawran, tapi juga didapat dari daerah Telukbetung, Kedondong, Lampung Selatan.

Biasanya bila menjelang hari raya permintaan dari pelanggan meningkat. Jadi kiita harua stok bahan baku satu bulan sebelum lebaran.

Saat ini ada 20 orang karyawan yang bekerja di tempatnya. Untuk upah, para pekerja ini dibayar Rp5 ribu perkilo gram emping yang dihasilkan. Dan para pekerja ini sudah disiapkan alat dan makannya.

Ia bersyukur menjadi mitra binaan PTPN VII karena selain mendapat bantuan modal juga diberikan pelatihan cara memasarkan produk dan pembukuan.

Tidak itu saja, tambah Burniati. Mitra binaan PTPN VII juga dibantu pemasaran produknya. Setiap ada pameran, produk-produk mitra binaan dipamerkan.

“Mudah-mudahan ke depan bisa terus meningkat usahanya, dan bisa mendapat tambahan modal lebih tinggi lagi dari saat ini,” harapnya. (mfn/rls/inilampung.com).

LIPSUS