Piranha Di Tengah Taman
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Piranha Di Tengah Taman

INILAMPUNG
Rabu, 08 Juli 2020

Oleh: Dalem Tehang

TAMAN nan sejuk dan terawat dengan pepohonan tertata rapih itu, memang indah dipandang. Berada di tengah halaman pemisah antar kamar berjeruji yang ada di sebuah kompleks rumah tahanan. Membuat warga binaan pun merasa nyaman. Karena begitu matanya terbuka, ada pemandangan menyejukkan di depan kamarnya.  

Ditambah di bagian ujung kanan dan kiri bangunan kamar tahanan, ada gazebo tempat kongkow sambil menikmati tontonan televisi. Membuat warga binaan tetap dapat mengikuti perkembangan dunia luar dengan segala ragamnya. 

Rumah tahanan ini memang asri. Pun penuh dengan pelipuran. Penghilang kejenuhan. Berbagai sarana olahraga tersedia. Lapangan futsal, volly ball, bulutangkis sampai ke tenis meja bisa dimanfaatkan warga binaan kapan saja. 

Sesuai dengan waktu pintu kamar dibuka. 
Di tengah taman nan asri itu, terdapat sebuah aquarium tua. Yang sudah lama tidak digunakan. Teronggok begitu saja. 

Akhir pekan kemarin, aquarium berukuran besar ini dibersihkan atas perintah kepala blok. Tentu seizin Wali blok. Pegawai rutan yang bertanggung jawab penuh atas blok tahanan berisi 300-an napi tersebut. 

"Mau diisi ikan apa nanti aquarium ini ya, Om?" tanya Garda, salah satu penghuni blok, pada Umar sang kepala blok.

"Belum kepikir mau diisi ikan apa. Yang penting bersih dulu aja, dan siap dimanfaatkan lagi," sahut Umar. 

"Gimana kalau diisi ikan piranha, Om?!" lanjut Garda. Pemuda berwajah tampan yang menjadi warga binaan karena tersangkut kasus narkoba ini, memberi usulan. 

"Piranha..? Ya, boleh juga! Tapi dari mana dapet ikannya?!" sela Umar. 

"Ya belilah, Om. Emang siapa yang mau ngasih?!" kata Garda. Sambil tersenyum tipis. 

"Emang kamu tahu dimana belinya? Ada emang yang jual ikan piranha?" ujar Umar. Mulai tertarik dengan usulan Garda. 

"Semua yang ada di dunia ini pasti bisa dibelilah, Om. Dan pasti ada yang jual. Nanti Garda cari jalannya ya. Yang penting, Om kasih izin aja," sambung Garda. Mulai bersemangat. 

Umar tak langsung menjawab. Ia perlu sampaikan usulan itu pada Wali blok. Ia tahu betul, meski diberi kebebasan dalam berkreasi dan aktivitas, semua tetap harus mendapat izin dari pegawai rutan. Bebas namun terbatas. Bebas yang bertanggung jawab. Bukan bebas sebebas-bebasnya. 

"Nanti Om sampein dulu ke Wali ya. Bagus usulanmu itu. Ikan piranha emang jarang yang pelihara di aquarium," kata Umar kemudian. 

Wajah Garda sumringah. Merasa usulannya mendapat tanggapan. Meski belum tentu bisa diwujudkan. 

Buru-buru Garda menuju ke wartelsus yang ada di belakang masjid. Ia menghubungi koleganya. Minta dicarikan ikan piranha. Yang anakan. Yang ukuran 3 cm-an. Tak tanggung-tanggung. Ia memesan 10 ekor sekaligus. 

Selepas solat ashar dari masjid, Garda dipanggil Umar yang tengah duduk dekat kolam. Ia memberi kabar bila Wali blok setuju aquarium diisi ikan piranha. Sontak Garda bersukacita.

 "Alhamdulillah," ucapnya. Bersyukur sambil mengangkat kedua tangannya. 

"Emang kamu pernah pelihara ikan piranha ya, Garda?!" tanya Umar. 

"Belum pernah!" sahut Garda. Pendek. 

"Lha, kok kamu ngusulin pelihara piranha?!" tukas Umar. Terheran.

"Asyik aja kali kalau disini ada ikan yang jarang dipelihara orang, Om. Namanya juga penjara. Ya nggak apa-apa kan kalau pelihara hewan yang agak-agak aneh dan langka," kata Garda sambil tersenyum lepas. 

Garda pun kembali ke wartelsus. Menghubungi kolega yang pagi tadi diminta mencarikan bibit ikan piranha. Ia berjingkrak kegirangan saat disampaikan bahwa pesanannya sudah didapat. Tinggal dibayar, selanjutnya diantar. 

"Om, dapet ikannya. Besok pagi dianter. Garda beli 10 ekor. Cukupkan, Om!" kata Garda pada Umar yang masih ngobrol santai di dekat kolam berisi belasan ikan hias beraneka warna. 

"Oh ya...! Alhamdulillah. Berapa harganya, Garda," tanggap Umar. 

"Semuanya 780.000 perak, Om. Urusan Garda bayarnya. Om tenang aja," ucap Garda dengan wajah bahagia. 

"Wah, ternyata mahal juga ya, Garda?!" kata Umar lagi. 

"Namanya juga ikan langka, ya pasti mahallah, Om. Kan ada rupa, ada harga," sambung Garda. Terus menebar senyuman. 

Benar saja. Keesokan harinya, kiriman ikan piranha masuk ke kompleks rumah tahanan. Setelah melalui pemeriksaan yang ekstra ketat dan campur tangan Wali blok, hewan peliharaan itu sampai ke tangan Garda dan langsung dimasukkan ke dalam aquarium yang sudah disiapkan. 

"Makanannya apa ini, Garda?" tanya Umar sambil memandang ikan piranha kecil-kecil itu berseliweran di dalam aquarium. 

"Dikasih ikan kecil-kecil aja, Om. Kan banyak bibit ikan di kolam itu," kata Garda sambil menunjuk tiga kolam ikan yang ada di lokasi taman depan kamar tahanan. 

"Itu kan ikan buat bibit, Garda. Ada nila, emas dan gurame. Enak aja mau ambil ikan anakan buat makanan piranha kamu," ketus Umar. 

"Ya buat sementara aja sih, Om. Kalau sudah normal lagi kondisi disini, kan bisa Garda pesen dari luar bibit ikan buat makan piranha ini," ujar Garda. 

"Hei, Garda! Namanya di penjara mana ada kondisi normal kayak diluar. Tetep aja nggak bakal ada kehidupan normal. Disini ini dunia terbalik. Paham nggak kamu," kata Umar dengan suara meninggi. 

"Maksud Garda itu kalau sudah nggak steril lagi lo, Om. Sudah boleh ada besukan buat kita-kita. Kan diluar sana sudah new normal. Pastinya sebentar lagi juga ada kebijakan baru dan kita-kita sudah boleh ditemui sama keluarga," jelas Garda. Panjang lebar. 

"Ya sudah sana, ambillah ikan-ikan kecil di kolam pembibitan. Jangan banyak-banyak. Hasil beli juga bibit-bibit ikan itu. Dan Om ingetin ya, disini jangan sekali-kali mastiin sesuatu. Mimpi pun jangan. Karena situasi dan kondisi setiap saat bisa berubah. Jadi jangan ngebayangin sebentar lagi sudah boleh besukan. Nggak usah ngebayangin yang gitu-gitu. Jalani dan nikmat-nikmatin aja yang sekarang ada. Nggak usah mikirin nanti. Inget pesen ini," kata Umar. Dengan wajah serius. 

"Siap salah, Om. Maklum, Garda kan emang penuh optimisme, Om. Izin ambil bibit ikan ya, Om," ucap Garda sambil sedikit membungkukkan badannya. Pertanda hormat. 

Sambil bersiul-siul, Garda memasukkan satu persatu ikan kecil yang diambilnya dari kolam pembibitan. 

Dengan gerakan sangat cepat, piranha mengejar dan memakan ikan anakan yang ada di aquarium. Garda tampak bahagia sekali setiap melihat peliharaannya mencengkeram buruannya. Mencabik di mulutnya. Dan menelannya. 

Tak berselang lama, ia tampak tercenung. Dipandanginya terus anakan ikan yang masih berenang-renang seakan tengah bermain dan piranha hanya berkelompok di bagian sudut. 

"Ada apa, Garda?!" sapa Umar, yang mendekat selepas mengawasi tamping kebersihan menyapu dan mengepel lantai sepanjang pintu masuk blok. 

"Aneh aja, Om. Kok piranha ini nggak mau makan ikan nila ya. Yang ikan emas tadi sudah habis semua," ucap Garda. Terus memandangi aquarium. 

"Nah, ikan pemakan daging aja masih milih-milih buat makanannya, Garda. Masak kita sesama manusia nggak milih-milih lagi dan nggak punya perasaan sama sekali kalau mau memakan antar sesama. Mestinya kita malu sama piranha ini," kata Umar sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Garda. 

Garda seakan tak mempedulikan perkataan Umar. Matanya tetap fokus pada aquarium yang dihiasi ikan piranha anakannya. Ada keasyikan tersendiri yang didapatnya. Tak lama kemudian ia bergumam: "Kalau sudah laper, pasti ikan nila ini juga bakal dilalap habis sama piranha!" (*)

penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS