Rindu Yang Terhadang
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Rindu Yang Terhadang

INILAMPUNG
Rabu, 08 Juli 2020

Oleh: Dalem Tehang  

SUDAH tiga hari ini, setiap sore saat Umar sedang menjaga warungnya, melihat kemunculan remaja pria berusia sekitar 15 tahunan. Remaja itu berdiri membelakangi warungnya. Menatapkan pandangannya ke bangunan kokoh bertembok tinggi yang ada di seberang jalan. Tak lama. Sekitar 10 menit kemudian, remaja itu pergi. Berjalan kaki dan hilang di tikungan.

Sampai hari keempat, saat remaja itu kembali berdiri membelakangi warungnya dan menatap bangunan kokoh di seberang jalan, mendadak turun hujan. Sangat deras. Ditingkahi sinar kilat bersahutan yang disusul gemuruh geledek hingga menggetarkan kaca-kaca jendela. 

"Berteduh dulu, Anak Muda!" teriak Umar. Memanggil remaja itu. Yang masih berdiri. Menatapkan matanya pada bangunan besar dan kokoh di seberang jalan. 

Sesaat ia menengok ke belakang. Ke arah suara yang tadi menyapanya. Dilihatnya pria paruh baya berdiri di teras warung sambil melambaikan tangannya.
Dengan langkah sedikit ragu, remaja itu menuju tempat Umar berdiri.

"Lagi hujan, berteduh disini aja dulu," ucap Umar sambil melepaskan senyum penuh persahabatan.

"Terimakasih, Pak," kata remaja itu. Ia menyodorkan kedua tangannya ke arah Umar. Bersalaman dan mengenalkan dirinya bernama Boni. 

Umar memanggil istrinya yang ada di dalam. Meminta diambilkan handuk dan dibuatkan segelas teh manis hangat. 

"Tidak usah repot-repot, Pak. Kaos saya tidak basah kok," kata Boni yang menangkap maksud permintaan Umar pada istrinya. 

Tak selang lama, istri Umar keluar. Membawa selembar handuk dan segelas air teh manis hangat. 

Boni mengelap kaosnya yang basah di bagian atas. Dan mengeringkan rambutnya yang memang basah kuyup. 

"Minum tehnya, Boni. Mumpung masih hangat. Buat ngilangin dingin di badanmu," kata Umar setelah Boni menyelesaikan pengeringan badannya. 

"Iya, Pak. Terimakasih banyak. Mohon maaf sudah merepotkan," ucap Boni sambil membungkukkan badannya. Pertanda hormat. 

Sesaat kemudian, Boni menyeruput teh manis hangat yang ada di meja depan kursi tempat duduknya di teras warung Pak Umar. Tampak ia menikmati minuman itu. Berkali-kali ia seruput teh tersebut. 

"Ngomong-ngomong kamu beberapa hari ini setiap sore datang kesini dan memandangi bangunan yang ada di seberang jalan itu kenapa ya, Boni?!" kata Umar memulai obrolan di tengah hujan yang masih terus bercucuran dari langit dengan derasnya. 

"Oh, Bapak tahu ya kalau beberapa sore ini saya main kesini?" sela Boni dengan raut wajah terkejut. 

"Kebetulan pas Bapak lagi jaga warung aja. Jadi ngeliat kamu. Biasa, kalau sore gantiin istri yang sedang masak di dapur," ucap Umar. Juga dengan tetap tersenyum. 

"Maaf, saya nggak tahu kalau Bapak ada di warung. Sebab nggak keliatan dari luar kalau ada orang di dalam," kata Boni. 

"Memang nggak keliatan dari luar. Ketutup dagangan makanan ringan kesukaan anak-anak yang digantung gitu," sahut Umar. Sambil menunjukkan beragam panganan dalam plastik yang disukai anak-anak tergantung berderetan. 

Sesaat keduanya terdiam. Pak Umar menyalakan rokoknya. Jambu Bol. Rokok jaman doeloe yang masih banyak disukai para penikmat tembakau asli. Dan cukup langka di pasaran. 

"Bapak ngerokok ini ya?" tanya Boni saat melihat bungkus rokok Umar di meja. 

"Iya. Sejak bujang ini rokok idola Bapak. Cuma sekarang nyarinya susah. Padahal kalau rasanya, nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Kamu baru lihat ya rokok ini?!" urai Umar. 

"Dulu sering saya lihat rokok ini, Pak. Tapi sudah hampir setahun ini nggak pernah saya temui. Makanya kaget pas lihat Bapak ngerokoknya ini," sahut Boni. Tampak ia menahan nafas. 

"O gitu, memang dimana kamu dulu sering lihat rokok Jambu Bol gini, Boni?!" tanya Umar. 

"Di rumah. Ayah saya ngerokok ini juga, Pak. Cuma sudah setahun ini nggak pernah saya lihat lagi rokoknya," kata Boni. Suaranya tercekat. 

"Memangnya ayahmu kemana?!" sela Umar. Penasaran. 

Boni tak menjawab. Wajahnya ia arahkan ke bangunan kokoh bertembok keliling yang sangat tinggi, di seberang warung tempat ia tengah ngobrol dengan Umar.

"O, ayahmu sedang di penjara ya, Boni?!" ucap Umar. Yang melihat tengokan spontan Boni.

Remaja pria belasan tahun itu menganggukkan kepalanya. 

"Jadi beberapa sore ini kamu kesini dan memandangi bangunan penjara itu karena kangen sama ayahmu ya," lanjut Umar. Menebak maksud yang dilakukan Boni beberapa sore hari kemarin.

Boni kembali menganggukkan kepalanya. Sambil melepaskan senyum tipis. 
Spontan Umar memegang kedua telapak tangan Boni sambil berucap: "Yang ikhlas ya, pasti kamu kuat!"

Boni kembali tersenyum. Senyum penuh kedukaan. Matanya memerah. Menahan air yang akan tumpah. 

"Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu? Bapak kan setiap hari nganter catering buat pegawai penjara ini. Siapa tahu Bapak bisa sampaikan salammu pada ayahmu," kata Umar seraya melepaskan pegangannya pada kedua tangan Boni.

"Nama ayah saya Bono, Pak. Terimakasih sebelumnya kalau Bapak berkenan menyampaikan salam hormat saya pada ayah," tutur Boni dengan suara bergetar.

"Jadi kamu anaknya Bono? Ayahmu posturnya tinggi, kulit hitam dan berkumis tipis itu kan? Kalau itu, Bapak kenal baik. Setiap hari malah ketemu. Ngobrol dan bercandaan," kata Umar.

"Iya, bener itu ayah saya, Pak. Gimana dia? Sehat-sehat ajakan, Pak?!" sela Boni sambil memajukan kursi tempat duduknya sampai dengkulnya menyenggol meja. 

"Alhamdulillah. Ayahmu sehat, Boni. Malahan lebih gemuk sekarang. Dia setiap hari bantu-bantu pegawai. Istilahnya jadi tamping. Dan Bapak sering ngobrol dengan ayahmu," lanjut Umar.

"Bantu-bantu pegawai gimana maksudnya, Pak? Jadi nggak 24 jam dikurung di kamar jeruji ya, Pak?" tanya Boni. 

"Ayahmu bantu-bantu di kantor. Ya mulai dari nyapu, ngepel, bersihin meja pegawai sampai buatin kopi dan minuman pegawai, Boni. Cuma nggak sendirian ayahmu ngerjain semuanya. Ada tamping lain juga disitu. Yang Bapak lihat, ayahmu enjoy aja. Nggak pernah keliatan murung sama sekali. Dia baru masuk kamar tahanan jam 5 sore. Besok pagi jam 9 mulai dengan kegiatan tampingnya," jelas Umar.

Boni mengucap syukur sambil menelungkupkan kedua tangannya ke wajah. Cukup lama. Sampai kemudian terdengar suara sesenggukan. Boni tak kuasa menahan tangis. Haru, sedih dan bahagia menyatu. 

Umar hanya diam. Ia tahu bagaimana gelegak batin remaja itu. Yang begitu rindu pada sosok ayah kebanggaannya. Seberkas rindu yang terhadang. Dan tanpa disadari, Umar pun meneteskan air mata. (*)

Penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS