Wanita Islam Gelar Webinar Pendikan di New Normal
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Wanita Islam Gelar Webinar Pendikan di New Normal

INILAMPUNG
Minggu, 05 Juli 2020

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, dan ibundanya, Prof. Dr. Hj. Aliyah Rasyid Baswedan. Foto. Ist.
INILAMPUNG.COM, Jakarta--Pengurus Pusat Wanita Islam menyelenggarakan webinar nasional tentang Pendidikan di Era New Normal, Sabtu 4 Juli 2020.

Ketua Pengurus Pusat Wanita Islam, Marfuah Musthofa, mengatakan kegiatan itu untuk memberikan berkontribusi pada dunia pendidikan di era new normal.

"Bagaimana model pembelajaran yang tepat pada saat new normal ini, apakah sudah tepat model pembelajaran yang diterapkan selama ini," katanya.

Dia menyebutkan sebuah pendidikan akan berhasil jika tiga aspek dalam pendidikan itu tercapai. Yaitu pembentukan knowlegde, psikomotor (ketrampilan), dan aspek atitude (ahlak/karakter). "Apakah ketiga aspek itu bisa dicapai," kata Marfuah.

Pada sisi lain, dia mengaku banyak mendapatkan keluhan dari orang tua dan para siswa yang merasakan stress dengan sistem pembelajaran saat ini yang hanya memindahkan tempat belajar dari sekolah menjadi daring/virtual, tanpa ada improvisasi dan penyesuaian dalam metode pembelajaran.

Pendidikan adalah proses intraksi antar orang, yang menimbulkan kegiatan saling belajar diantara mereka yang terlibat. Interaksi dibuat jamnya jadi sekolah. Dan proses ini sudah terjadi terjadi sejak awal ada manusia. Baik pendidik,  maupun terdidik semua mengalami proses pembelajaran.

Pendidikan akan berhasil jika ada kesinambungan antara tiga ranah pendidikan. Pertama ada di rumah (informal), pendidikan kedua ada di sekolah (pendidikan formal), ketiga ada di antara keduanya  (nonformal). Ketiga aspek ini harus bersinergi.

Tujuan pendidikan adalah tumbuhnya akhlak. Jadi, pemanfaatan teknologi harus didorong untuk bisa menumbuhkan akhlak yang disebut sebagai karakter.

Hal itu terjadi melalui  proses. Diajarkan, dibiasakan. Bila ada yang tidak melaksanakan, didisiplinkan, lalu nanti akan menjadi kebiasaan jadi budaya.  Misalnya, soal solat tepat waktu, rumah jadi bersih. Penguatan ini mungkin lebih bisa dilakukan di lingkungan keluarga.

"Jadi ketiga aspek ini harus bersinergi antara orangtua, guru dan lingkungan dalam membentuk anak yang berahlak atau berkarakter," katanya.

"Bisakah guru digantikan dengan teknologi? jawabannya tidak bisa diganti, atau bisa diganti. Atau pertanyaannya yang salah, guru yang semacam apa yang bisa diganti dengan teknologi?

Guru yang mengajarnya mekanistik, bahan ajarnya tidak berubah bertahun-tahun. Bisa diganti dengan teknologi, dengan pengiriman powerpoint atau video.

Guru seperti apa yang tidak bisa digantikan dengan teknologi. Guru yang datang dengan hati, dengan kedekatan, dengan kreatifitas dan penuh inovasi tidak bisa digantikan dengan teknologi. Teknologi hanya akan menggantikan hal hal yg sifatnya mekanistik dan teknis.

Selanjutnya untuk mendapatkan feadback pembelajaran, perlumengadakan diskusi yang mengundang siswa sebagai pembicara, bagaimana rasanya siswa menjalani pendidikan tersebut.

Dalam diskusi itu, Pengurus Pusat Wanita Islam menghadirkan narasumber antara lain Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, dan ibundanya, Prof. Dr. Hj. Aliyah Rasyid Baswedan, guru bersar Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Kemdian, Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), DR. Edy Setiadi yang berbicara tentang Pendidikan Pada perguruan Tinggai di saat New Normal, serta ahli pembelajaran jarak jauh, DR. Sarjilah. Kepala PPPPTK Seni dan Budaya, DR. Sarjilah. Webinar dimoderetor kandidat doktor ITB, Astuti Kusumorini. (mfn/rls/inilampung.com).

LIPSUS