Jokpin: Paradoks Keindahan dalam 'Hipotesa'
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Jokpin: Paradoks Keindahan dalam 'Hipotesa'

INILAMPUNG
Kamis, 03 September 2020

INILAMPUNG.COM, Bandarlampung - Joko Pinurbo (Jokpin) menilai puisi-puisi Priska Putri Asmiranti dalam buku terbarunya, "Hipotesa" (Siger Publisher, 2020), banyak berbicara mengenai paradoks keindahan.

"Puisi-puisi Priska banyak berbicara kepada kita mengenai paradoks keindahan," kata penyair papan atas Indonesia dalam kata pembuka buku puisi kedua Priska.

Dikatakan Jokpin, pada mulanya kita mendapat gambaran bahwa perjalanan ke berbagai tempat dengan beraneka panorama bisa memenuhi hasrat kita sebagai makhluk estetis yang punya kebutuhan khusus: terbebas dari deraan mesin rutinitas; kebutuhan untuk beroleh sunyi yang semarak dan mendamaikan. 

Sesunyi kabut
Sejernih cahaya pagi

Gemerisik seperti pasir
Mengisi sunyi di pesisir

Setenang telaga
Di tengah hiruk kota

Temaram seperti senja
Menyimpan riak tawa

(“Dia”)

Namun, masih kata Jokpin, perjalanan keindahan bisa mengantarkan kita kepada sunyi yang lain: sunyi yang membuat semuanya terasa sebagai perjalanan kehilangan. Keterpukauan akan keindahan bisa tiba-tiba beku sewaktu awan berlalu/sambil memintal waktu (“Hipotesa 1”). 

"Priska banyak mengolah citraan alam dan tempat-tempat persinggahan sebagai cermin yang memantulkan kegelisahan batin manusia di antara gairah akan keindahan dan ketidakmampuan mengatasi kesementaraan. Dalam keindahan dan kemabukan tersimpan kefanaan."

Ketika puisi-puisi Priska memasuki situasi sosial yang berat, ujar Joko Pinurbo, seperti pandemi virus korona yang melanda seluruh dunia, kian terasa bahwa gairah dan ilusi tentang keindahan itu sungguh bisa membersitkan perasaan hampa.

"Manusia ternyata tidak punya cukup daya untuk merawat keindahan yang telah diterimanya dari alam," katanya seraya mengutip puisi ini.

Segala mimpi terbakar 
Menjadi abu, debu, dan lelatu
Dunia tak lagi terjangkau langkahku

(“Senandung Waktu”)

Jokpin menutup pengamatannya terhadap puisi-puisi Priska begini, "Pada akhirnya puisi-puisi Priska menegaskan sebuah premis bahwa keindahan sejati ialah ketika kita sanggup bertahan dan tetap mampu merayakan hidup di tengah situasi dan kondisi yang tidak 'indah'."

Buku puisi kedua Priska Putri Asmirani "Hipotesa" ini dicetak hardcover dan luks, dan sudah beredar. Sebelumnya, ia menerbitkan buku puisi "Monolog di Tengah Salju" (Siger Publisher, 2019).

Priska mengatakan, bagi yang berminat dapat memesan ke penerbit Siger Publisher atau langsung ke dirinya.(zal/bdy/inilampung)

LIPSUS