Minimarket di Lampung juga Boikot Produk Prancis
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Minimarket di Lampung juga Boikot Produk Prancis

INILAMPUNG
Sabtu, 07 November 2020

INILAMPUNG.COM, Bandarlampung - Buntut pernyataan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait karikatur Nabi Muhammad SAW, menggerakan aksi boikot produk-produk dari Prancis. Di Lampung aksi serupa pun marak terjadi. 
 
Sejak Rabu (4/11) Gerai 212 Mart di Bandarlampung serentak boikot produk-produk dari Prancis.

"Pemboikotan barang-barang sudah kami mulai dari Rabu (04/11) dan akan berlangsung hingga satu pekan ke depan," kata Ketua Komunitas 212 Mart Al-Hikmah Yuzef Andiawan dikutip dari Antara, Jumat (6/11/2020).

Ia menjelaskan produk-produk tersebut secara rinci. Mulai dari barang yang dikonsumsi sampai keperluan kosmetik.

"Produk-produk seperti susu SGM, susu Bebelove, kosmetik merk Garnier, dan air mineral kemasan botol yakni Vit, dan Mizone," kata Yusef.

Selain tiga Gerai 212 Mart, Swalayan Fitrinove juga melakukan boikot terhadap produk Prancis. Produk-produk dari Prancis itu akan dimusnahkan pertengahan November.

"Barang yang sudah kita boikot ini nanti akan kita musnahkan November pertengahan, ini kita sosialisasikan dulu agar masyarakat tahu dan mencari barang lainnya," kata dia.

Yusef mengatakan aksi boikot ini akan berdampak pada ekonomi 212 Mart. Namun, ia meyakini semua kerugian itu akan diganti Tuhan.

"Mungkin kami akan rugi, tapi saya yakin bahwa rezeki datangnya dari Tuhan, tinggal kita bersungguh-sungguh saja dalam bekerja dan beramal pasti ada gantinya," kata dia.

Seruan boikot produk Prancis juga bergema lewat Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI menganggap Macron tidak menghiraukan dan menggubris peringatan umat Islam sedunia. MUI meneken surat bernomor Kep-1823/DP-MUI/x/2020 itu terkait boikot produk Prancis, yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum Muhyiddin Junaidi, tertanggal 30 Oktober 2020.

"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada pemerintah Prancis serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam sedunia," tulis MUI.(dbs/inilampung)

LIPSUS