Pieter Hermanus, Ahli Persenjataan Militer Indonesia dari Pringsewu
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Pieter Hermanus, Ahli Persenjataan Militer Indonesia dari Pringsewu

INILAMPUNG
Selasa, 03 November 2020

Kolonel Infanteri (Purn) Pieter Hermanus VL dan istrinya, Kartini bersama Wakil Bupati Pringsewu Fauzi. Foto. Tyo.


INILAMPUNG.COM, Pringsewu--Siapa sangka dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, ada seorang tokoh yang disegani dan dikagumi, bukan saja di level nasional namun juga internasional.


Dia mempunyai keahlian yang langka, khususnya di bidang persenjataan militer. Bahkan juga mendapat julukan sebagai Empu Senjata Indonesia. 


Dia adalah Kolonel Infanteri (Purn) Pieter Hermanus VL, putra asal Pekon Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu.


Salah satu prestasi Pieter Hermanus di Pindad atau Perindustrian TNI Angkatan Darat adalah membuat dan mengembangkan senjata Senapan Serbu 2 atau SS2.


Keahlian di bidang persenjataan militer, sebenarnya tidak mengherankan jika melihat latar belakang Pieter. Keahlian dan bakatnya itu diwarisi dari ayahnya yang juga seorang ahli senjata. Ayahnya adalah Francois Emile Van der Linde. 


Pieter Hermanus yang bernama lengkap Pieter Hermanus Van der Linde dilahirkan dari pasangan Francois Emile Van der Linde dari Sukoharjo IV dan Maria Magdalena Sarmi binti Marto Dikromo dari Kecamatan Gadingrejo.


Dia dilahirkan oleh ibundanya di Rumah Sakit Xaverius (sekarang RSUD Pringsewu lama) pada 21 Februari 1941 dengan pertolongan seorang suster asal Perancis yang saat itu bertugas di Pringsewu.


Pieter Hermanus mengenyam pendidikan di SD Xaverius Tanjungkarang pada tahun 1950. Namun sebelum ayahnya pensiun, sekeluarga pindah ke Gadingrejo. Pieter kemudian meneruskan pendidikan di SR Gadingrejo. Lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tanjungkarang dan SMA Negeri Tanjungkarang.


Terkait kedinasannya di TNI-AD, Pieter Hermanus masuk pendidikan militer sebagai taruna tahun 1961 dengan pangkat prajurit taruna. Kemudian, ia masuk di Sekolah Khusus Infanteri di Cimahi pada tahun 1965. 


Pieter memiliki NRP 20360 pensiun dari TNI pada tahun 1996 dengan pangkat Kolonel Infanteri. Jabatan terakhir sebagai Sekretaris Direktur PINDAD.


Pieter Hermanus dikaruniai empat anak dari perkawinannya dengan Kartini juga seorang perwira wanita TNI-AD dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Sebelum pensiun, Kartini menduduki jabatan sebagai Pati Ahli Dikbud Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta. 


Keempat anak Pieter Hermanus adalah Ondre Hermanus, Marta Hermanus, Jimmy Hermanus dan Terry Hermanus. 


Ketika diwawancarai saat berkunjung ke kediaman Wakil Bupati Pringsewu Fauzi, Rabu (28-10-2020), Pieter didampingi sang istri dan putranya Jimmy Hermanus serta adiknya Richard Van der Linde. Ia menceritakan sekilas perjalanan ayahnya hingga menetap di  Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu.


Ayah Pieter Hermanus, Francois Emile Van der Linde sejak muda memang senang dan tertarik dengan senjata. Saat itu, Van der Linde berangkat dari Solo pergi ke Menggala Lampung, tepatnya di daerah Bujungtenuk. 


Di daerah itu dia diberi nama Abdul Rahman. Alasannya, warga setempat kesulitan jika memanggil namanya, Francois Van der Linde. 


Singkat cerita, sampailah ia di Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu dan menetap di desa tersebut hingga akhir hayatnya.


Francois Emile Van der Linde memiliki 19 anak dari dua istri. Dari istri pertama yang bernama Josephine Wilhelmina, dikaruniai 10 anak, sedangkan dari istri kedua, Maria Magdalena Sarmi, dikaruniai 9 anak.


Meski orang Belanda, Francois juga anggota TNI pada saat itu. Kenapa ia bisa bergabung dengan TNI dan bukan bergabung dengan tentara Belanda.?


Dijelaskan Pieter, ayahnya bisa bergabung dengan tentara Indonesia karena ia anggota Indische Partij (IP) pimpinan Dr. Douwes Dekker yang memihak dan membantu perjuangan Indonesia. 


Keahliannya di bidang senjata tersebut didedikasikan untuk bangsa dan negara. Termasuk saat berjuang bersama Darius Silitonga di daerah Sukoharjo IV. Berkat peluru buatannya pula, Darius Silitonga berhasil menghalau dan menembaki pesawat tempur Belanda dari Bukit Wungkal Sukoharjo IV (sebagian orang saat ini menyebut dengan sebutan Bukit Silitonga).


Bukit Wungkal inilah yang sedang direncanakan akan dijadikan sebagai destinasi wisata alam dan wisata sejarah di Kabupaten Pringsewu. 


Terkait hal tersebut, Wabup Pringsewu Fauzi saat menerima kunjungan keluarga besar Francois Emile Van der Linde yang dipimpin Peters Hermanus menyambut baik hal tersebut.


Fauzi, didampingi anggota DPRD Pringsewu Sagang Nainggolan, Perwira Penghubung Kabupaten Pringsewu Mayor CPM Eva Yuniar Kamal, Kadispora dan Pariwisata Jahron, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Suheriyanto, Kadis Kominfo Samsir Kasim, Danramil 04 Pringsewu  Kapten Maman, serta Kapekon dan pamong setempat.


Fauzi mengungkapkan, Pemkab Pringsewu saat ini sedang giat membuka daerah wisata. "Pringsewu ini bukan hanya milik warga Pringsewu, tapi milik seluruh masyarakat Lampung,"ucapnya.


Bahkan dalam waktu dekat Pemkab Pringsewu akan segera menetapkan desa-desa wisata di Kabupaten Pringsewu. Termasuk  meminta pihak Kecamatan dan Pekon Sukoharjo IV agar membuat usulan kepada bupati agar Pekon Sukoharjo IV juga dapat ditetapkan sebagai desa wisata karena faktor sejarah. 


Jika sudah ditetapkan sebagai desa wisata, kepala pekon dapat mengajukan bantuan dana kepada pemerintah daerah dan pusat untuk mengembangkan kepariwisataan tersebut, terang Fauzi.


Wabup mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar Pieter Hermanus, pemilik Bukit Wungkal (Bukit Silitonga), yang mempersilakan untuk diolah sebagai lokasi wisata sejarah perjuangan dan wisata alamnya. Yang penting dapat meningkatkan ekonomi warga masyarakat.


Sebab dari lokasi bukit itu dapat dilihat pemandangan hamparan persawahan di Pekon Wates, lokasi Perkantoran Pemkab Pringsewu dan pusat kota Pringsewu. "Terlebih ada nilai historis yang sangat berharga," katanya. (tyo/inilampung.com).

LIPSUS