-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Misteri Senja Sang Narapidana

INILAMPUNG
Selasa, 05 Januari 2021

Oleh : Dalem Tehang

SETIAP petang, pria berusia 40 tahunan itu berdiri tegap sambil memegangi terali besi. Yang membatasi selnya dengan halaman kawasan lembaga pemasyarakatan. 

Matanya nanar. Menatap tajam. Tanpa tujuan. Badannya bergetar. Menahan gelegak di khalwat batinnya yang terdalam. 

Makin lama, tangannya kian kencang menggenggam terali besi. Seakan ingin melumatnya. Matanya melotot penuh sorot amarah. 

"Entengin pikiranmu, Dika!" sebuah suara menyapa disertai sentuhan lembut di bahunya. 

Perlahan, pria yang disapa Dika itu menundukkan kepalanya. Menyangga di terali besi yang ada di depannya. Mengatur kembali nafasnya yang sempat tidak beraturan. Mengendurkan gelora batin dan pikiran yang menggelegak. 

"Minum dulu ini," ucap laki-laki yang menenangkan Dika. 

"Terimakasih, Eeng. Nggak kebayang kalau nggak ada kamu. Setiap sore bisa stres aku dan lama-lama sakit jiwa," kata Dika sambil menerima cangkir berisi air putih yang disodorkan Eeng. Dan meminumnya. 

"Pelan-pelan coba kamu singkirin bayangan apa yang ngehantui pikiranmu itu. Nggak bagus juga kalau setiap sore kamu kayak gini," ujar Eeng. 

"Selalu ku coba buat nyingkirin perasaan itu, Eng. Tapi begitu sore datang, nggak kuasa aku nahannya. Amarah nguasai hati dan pikiranku. Sudah 2 tahun aku di lapas ini tapi belum juga bisa aku kendaliin. Untung ada kamu yang paham dengan kondisi traumaku ini," sahut Dika. 

"Emang nggak mudah lupain sesuatu yang ngegores di hati. Apalagi sampai bawa kita dipenjara gini. Tapi nggak ada pilihan buat kita kecuali ngebalik suasana hati dan pikiran kita, Dika. Gimana caranya kita harus buat hati ini tenang dan nyaman. Kalau kamu gini-gini terus, susah sendiri kamu," lanjut Eeng menasihati. 

"Jujur ya, aku sudah kehilangan akal buat ngebuang trauma setiap senja datang ini. Tapi masih aja. Aku juga nggak paham gimana maksudmu ngebalik suasana itu," kata Dika. 

"Ya nikmati aja hidup yang ada ini, Dika. Berhenti berandai-andai. Berhenti mikir  yang macem-macem. Berdamailah dengan kenyataan. Itu aja kuncinya, Dika!" ucap Eeng. 

"Jadi nurut kamu, aku yang masih terus dihantui trauma setiap senja ini karena belum bisa berdamai dengan kenyataan ya?" tanya Dika. 

"Iya, nurutku sih gitu. Kamu terus bermain dengan perasaan dan akhirnya pikiranmu terbawa. Kondisimu setiap sore yang kayak orang kesurupan ini nggak bagus juga buat kesehatanmu. Inget lo, sakit di penjara itu rasanya sangat menyedihkan. Makanya kita harus berjuang untuk jangan sampai sakit. Nggak peduli nasi cadong dari beras paling jelek di dunia itu cuma 3 suap dan lauk pecahan ikan asin dari buangan pedagang di pasar ikan, kita harus makan. Biar nggak sakit," kata Eeng lagi. 

"Aku kan nggak pernah sakit selama ini. Paling ya pikiranku aja yang kacau kalau senja tiba," sela Dika. 

"Badan kamu emang sehat-sehat aja, Dika. Tapi perasaan dan pikiranmu itu yang sakit selama ini. Emang apa sih ceritanya sampai setiap sore kamu trauma kayak gitu?" lanjut Eeng. 

"Panjang ceritanya, Eng. Lagian kalau aku ceritain, malah buatku selalu kebayang aja. Nyesek dadaku. Gemeter nggak karuan badanku, nahan emosi," sahut Dika. 

"Ya sudah kalau kamu nggak mau cerita, Dika. Biar aja tetep jadi misteri dalam hidupmu. Karena masing-masing kita tetep punya hak buat nyimpen suatu rahasia kehidupan," tutur Eeng. Bijak. 

"Tapi jujur, aku capek dengan trauma ini lo, Eng. Bahkan kadang aku malu kalau kawan-kawan dari kamar lain merhatiin pas aku lagi kayak kesurupan itu," ujar Dika. 

"Iya juga sih. Kamu jadi omongan emang selama ini. Dibilang kerasukan jin penjara ini setiap sore," sambung Eeng. 

"Nurut kamu, aku harus kayak mana ya?!" sela Dika. 

"Setiap senja mau datang, abis asharan di masjid, kamu paksa tidur. Jadi kamu bisa lewati waktu senja tanpa trauma," saran Eeng. 

"Nah, ini saran yang hebat. Kenapa setelah 2 tahun di penjara, baru ku temui solusi yang bagus ini," kata Dika seraya memeluk Eeng. 

Kedua narapidana penghuni Blok A kamar 10 lapas itu pun kemudian sama-sama tersenyum. Trauma senja tetap jadi misteri bagi Dika. Seperti juga kehidupan penjara yang penuh misteri bagaikan negeri seribu hantu. (*)

Penulis: pemerhati sosial budaya, tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS