-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Tak Hanya Dangdut, Puisi Bisa Bersandingan dengan Kopi

INILAMPUNG
Senin, 03 Mei 2021

Fajar Fakhlevi (ist/inilampung)
 
POPULARITAS kopi sebagai minuman memang tidak perlu diragukan lagi. Begitu pula kopi asal Indonesia yang semakin diminati. Budaya minum kopi yang berkembang amat luas di dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia, dan status kopi sebagai salah satu komoditas ekonomi unggulan Indonesia. 
 
Di Indonesia, kopi pertama kali dibawa kolomial Belanda pada 1696 dari Malabar, India. Kopi pertama kali ditanam yakni di Jakarta timur, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Kopi. Tapi sangat disayangkan kondisi geografis pada waktu itu yang tidak menguntungkan, maka seluruh tanaman kopi dihancurkan oleh banjir. 
 
Akhirnya pada tahun 1699, bibit kopi didatangkan kembali ke Indonesia. Ditanam di daerah Priangan (Jawa Barat) dan juga Jakarta. Mulai dari situlah kopi semakin meluas dan menyebar di seluruh kepulauan di Indonesia. Hingga pada 1891 kopi sampai juga ditanam di daerah Lampun. Kolonial Belanda yang saat itu membawa bibit kopi ke Lampung, di samping untuk memenuhi kebutuhan kafein orang-orang Belanda kala itu, tanah dan ketinggian daerah pun dirasa sangat baik untuk ditanami kopi. Perkebunan di Lampung saat itu ditanami dengan menggunakan jenis kopi arabica dan liberica. Namun pada 1910 terjadi infeksi terhadap dua varietas awal tersebut, sehingga mulailah kopi jenis robusta  ditanam di beberapa daerah di Lampung. Sekarang, banyak kita temui di Lampung. 
 
Bahkan di Lampung Barat saat ini terhampar perkebunan kopi kurang lebih mencapai 53.000-an hektare, di Kabupaten Tanggamus mencapai kurang lebih sekitar 43.000-an hektare. Itu menunjukan bahwa Provinsi Lampung berpotensi hingga sekarang dalam hal kopi. Terbukti 10 tahun yang lalu, komoditi ekspor kopi Lampung menyumbang 70 % dari skala kopi Nasional. 

Lalu kapan kopi mulai dikonsumsi sebaga minuman? Ada sejarah panjang dari peradaban yang penuh misteri dimana kopi itu mulai masuk ke rongga mulut manusia. Diperkirakan sejak tahun 800-an kopi dikenal dan diminum dalam peradaban manusia. Kala itu kopi ditemukan bukan hanya sebagai minuman yang menyegarkan, tapi juga sebagai obat yang sangat mujarab.  
 
Salah satu kisah sangat popular dari Arab, adalah tentang Syeikh Ali bin Umar As-Syadzili Al-Yamani. Di dalam kisah itu,  beliau yang tengah mengasingkan diri dengan cara berjalan sepanjang hari, hingga suatu malam sampai di hutan yang terkenal karena binatang buas. Beliau berusaha bersembunyi dan akhirnya menemukan biiji kopi. Mungkin saja saat itu Syeikh Ali bingung tentang biji kopi yang ditemukan. Karena rasa penasaran dengan lebatnya buah dan bentuknya yang kecil, maka beliau memetik lalu memakannya. Anehnya setelah itu beliau terjaga sepanjang malam. 
 
Referensi lain pun menyebutkan beberapa hal tentang kopi, seperti dalam tulisan Ibnu Sina (dokter dan juga filsuf Muhammad, yang hidup di tahun 980-1037), di dalam tulisan Ibnu Sina banyak bercerita tentang kopi dengan analisanya. Hal ini dapat dibaca pada manuskrip yang ditinggalkan oleh Abdul Al Kadir (dokumen tertua yang menceritakan tentang kopi), bahwa Syeikh Ali Bin Umar yang sangat berjasa dalam penemuan kopi dan cara penyajian dari biji kopi tersebut. 
 
Kisah ini seperti dongeng buat saya pribadi, tetapi ketika beberapa fakta menyebutkan memang di salah satu daerah di Kota Yaman pertama kali kopi ditemukan, riwayat dan kisah tersebut seperti mendekati benar. 
 
Kopi, Ketika Otak Perlu Inspirasi, akronim yang menurut saya adalah othak-athik gathuknya orang Indonesia ini memang ternyata tidak salah. Karena saat kita sudah meneguk (minum) kopi, maka akan sangat banyak sekali inspirasi yang bisa hadir, juga menjadi teman diskusi dan menghangatkan suasana. Jika kita artikan saja dari Bahasa Arab dimana menurut cerita awal mula kopi itu ditemukan: kopi disebut sebagai qahwah, yang apabila kita bedah maknanya menjadi seperti ini, qahwah (kopi): Qof' adalah quut (makanan), Ha' adalah hudaa (petunjuk), Wawu' adalah wud (cinta) dan 'ha' adalah hiyam (pengusir kantuk). 
 
Dengan demikian, di dalam kopi terdapat makanan sebagai pemberi asupan ke dalam perut dan otak kita. Ada pula petunjuk yang dikaitkan dengan inspirasi akibat kebuntuan proses berpikir  kita. Di sana ada cinta yang dapat menghangatkan suasana dan bisa menjadi pembuka suasana yang mungkin saja sudah mulai kaku, dan juga ada pengusir kantuk yang sudah dirasakan banyak penikmat kopi.
Buku Secangkir Kopi di Meja Kedai, Karya Isbedy Stiawan ZS (ist/inilampung)
 
Maka tidak sedikit pakar kesehatan menyarankan agar meminum kopi tidak dengan gula. Minum kopi pahit bermanfaat untuk kesehatan, seperti meningkatkan memori anda, sebab kafein yang berada di dalamnya bermanfaat untuk mengaktifkan saraf otak. Sehingga selain dapat menguatkan memori juga bisa mencegah demensia. Selain mampu meningkatkan memori, minum kopi hitam juga dapat membuat anda cerdas. Hal ini disebabkan kafein adalah stimulan psikoaktif yang bereaksi dengan tubuh dan dapat meningkatkan mood, energi, serta fungsi kognitif seseorang.
 
Dari banyaknya manfaat yang terkandung di dalam biji kopi, dan saat meminum kopi, penikmat kopi biasanya adalah orang-orang yang bisa menghargai perbedaan-perbedaan  di dalam kehidupan. Maka tak heran, kopi bisa menjadi pengikat rasa bagi mereka yang berkumpul di sebuah ruangan yang sama. Secangkir kopi bisa menjadi pembuka obrolan yang hangat, misalnya bagi orang-orang yang baru saja saling bertemu atau telah lama terpisah sekian tahun.

Kebiasaan meminum kopi di Indonesia sudah sejak lama, tetapi menjadi trend dan seperti menjadi budaya baru untuk kaum urban milenial dalam beberapa tahun terakhir. Kita  tidak bisa pungkiri bahwa film “Filosofi Kopi” juga sangat membentuk budaya meminum kopi di coffee shop atau kedai kopi.  
 
Pertumbuhan kedai kopi di Indonesia setelah film tersebut melonjak sangat tinggi, bahkan saat ini di kota urban seperti Bandarlampung tak bisa dihindari, bahwa setiap hari ada saja kedai kopi yang grand opening. Pertumbuhan itu juga tidak hanya terjadi di kota urban atau kota besar, di kota seperti Pringsewu yang menurut catatan kabupaten ini baru berusia 12 tahun ini, sudah banyak berdiri kedai kopi. 
 
Sebegitu hebatnya efek domino yang dikeluarkan oleh sebuah film “Filosofi Kopi” yang dimainkan Chicco Jerikho dan Rio Dewanto tersebut. Bukan tanpa alasan kenapa kedai kopi banyak berdiri di beberapa tempat/kota ini, peningkatan jumlah kedai kopi juga menjadi pergeseran sebuah budaya dalam mengonsumsi kopi. 
 
Dari beberapa hal di atas, saat ini budaya minum kopi di coffee shop atau kedai kopi semakin meluas, yang mungkin awalnya hanya menikmati kopi dan bercengkerama  dengan kawan-kawan saja. Lalu kebiasaan-kebiasan itu sudah mulai meningkat, tidak sedikit penikmat kopi yang merasa bahwa kedai kopi favoritnya menjadi second home buat mereka. 

Seperti terjadi di Kedai Kopi Teko (Teori Kopi), sebagai contoh, tidak sedikit pelanggan yang datang hanya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan ditemani kopi yang dihidangkan (disajikan) dari jenis kopi pilihan yang disangrai bersama Rumah Sangrai Kopi “Nyalaceofferoastery”. Karena banyak yang merasa bahwa menyelesaikan pekerjaan di kedai kopi dengan seduhan oleh barista memiliki efek yang baik untuk pekerjaan, dan pasti akan meningkatkan produktivitas dalam bekerja dan dalam menyelesaikan pekerjaannya. 
 
Dalam buku Secangkir Kopi di Kedai, karya Isbedy Stiawan ZS ini sangat mendukung semua yang telah saya uraikan dan amat mewakili apa yang terkandung dalam semua hal tentang kopi. Dari cara penyajian, cara bertemu dengan orang baru, memandang langit dan juga ambience yang terbangun dari sekeliling kedai kopi sangat tergambar di dalam himpunan puisi ini. 
 
Uniknya puisi-puisi dalam buku ini ditulis penyair berjuluk “Paus Sastra Lampung” ini, saat dia sedang atau setelah berkunjung ke kedai kopi, seperti yang dilakukan setelah berkunjung ke Kedai Teori Kopi (Teko), lahirlah puisi berjudul “Kedai Teko”: aku rindu kopi di kedai teko/juga perempuan berambut halus/malam itu tak sengaja bertatapan;/ia tahu aku hanya tamu di situ… dan seterusnya.. 
 
Dari sehimpun puisi Isbedy Stiawan ZS ini kita bisa menyimpulkan betapa dahsyatnya kopi, sehingga menjadi sebuah inspirasi dan berkaitan erat dengan sastra (puisi atau prosa). Sebanyak 52 puisi tentang “secangkir kopi di kedai” ditulis seakan mengalir dari hati dan sangat spesial. Satu hal jangan sampai terlewat ketika membaca dan menikmati puisi-puisi ini, adalah “jangan lupa diminum kopinya, nanti keburu dingin”.
 
Kopi layaknya sastra, bisa menjangkau semua kalangan, menegasi (sekaligus menghargai) perbedaan, tiap bait puisi hampir mirip manis dan pahitnya tegukan kopi di dalam cangkir. Ternyata bukan hanya dangdut yang bisa bersandingan dengan kopi.
 
Selamat menikmati buku puisi ini dan mari kita “ngopi”. 
 
 
*) Fajar Fakhlevi atau biasa disapa Cak Levi, adalah founder Teori Kopi (Teko) dan bergiat sebagai komisioner Bawaslu Kabupaten Pringsewu.

LIPSUS