-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Damailah di Sana, Yuk!

INILAMPUNG
Jumat, 16 Juli 2021

Oleh Endri Kalianda

BERITA duka itu terus berdatangan. Toa di masjid, mirip bulan-bulan awal masuknya musim pagebluk di pertengahan Mei tahun lalu. 

Selalu ada pengumuman si fulan berpulang, si fulanah meninggal. 

Mendadak kami mulai akrab dengan semua kabar telah berpulangnya rekan, teman, senior, guru, saudara, bahkan orang-orang terdekat dengan kita. 

Ada yang telah pergi ada yang tetap berjuang melanjutkan hidup di zaman new normal. New normal itu artinya, pendakian. Zaman sulit yang butuh kerja keras. 

Disebut "mendaki" karena tidak semua orang, kuat menjalaninya. 

Terbaru, Yuk Hesma Eryani. Kami biasa memanggilnya, Yuk Hesma. Kabar duka itu tersiar. 

Perjumpaan saya dengan beliau adalah awal 2005. Saat saya pindah dari Kalianda ke Bandarlampung. Yuk Hesma adalah tutor yang mengajar kami, sekelompok anak muda agar terampil menulis. Sebab, menurut dia, di Lantai 3 gedung PWM itu, menulis adalah kerja keabadian. Kerja yang cocok untuk generasi muda era sebelum dunia informasi dikooptasi medsos. 

Ketika itu, sembari membimbing kami, beliau mengajak gadis kecilnya. Yang belakangan sudah tumbuh dewasa. Terbaru saya melihatnya, di postingan medsos beliau. Gadis kecil itu, sudah lulus fakultas kedokteran kalau tak salah. 

Yang terkenang dari Yuk Hesma. Dia yang membimbing kami untuk bagaimana membangun plot dan metoda menuangkan ide dalam tulisan. Menyusun paragraf induktif maupun deduktif. Lalu menyuruh saya, mengirim opini ke Lampung Post. Banyak tulisan saya yang tertolak. Namun kemudian, banyak opini dan tulisan saya, terutama dirubrik "Apresiasi Sastra" juga dimuat koran itu. 

Lalu kami hanya sedikit bertegur sapa melalui facebook. Dan, Yuk Hesma pindah tugas ke Jakarta. Yang teringat, ketika tulisan saya berjudul "Defamiliarisasi Tari Bedana" terbit di Lampung Post, beliau mengirim pesan. Itu kamu ya? Tulisanmu, bagus. Berani. Saya hanya membalas dengan emot senyum dan malu, apakah itu pujian atau hinaan.

Dari beliau saya juga kenal dengan sastrawan Lampung yang hebat, Udo Z Karzi.

Lalu kami, bertemu lagi dalam acara peluncuran buku biografi gubernur. Kami berbincang sebentar tentang bagaimana beliau menulis dan tetap menjadi jurnalis perempuan. Satu teman angkatan kami yang akrab dengan beliau, Azharul Fazri Siagian. Dia cerita sering ke rumah Yuk Hesma. Yang kemudian, baru saya tahu beliau adalah istri Budi Hutasuhut.

Selang beberapa tahun kemudian, saya sering bersama dengan Bang Budi Hutasuhut. Beberapa kali, beliau juga datang ke acara Maiyah Ambengan yang digawangi Cak Syamsul Arifien. Bang Budi P Hutasuhut jadi narasumber. Saya duduk di pojok, jadi tukang foto sambl terus mendengar dan mencatat dengan tekun semua peristiwa. 

Saya tak berani bertanya baik pada Bang Budi maupun dengan Yuk Hesma, mengapa mereka berpisah? Cukup mendengar dari cerita Fajri. Tidak lebih. 

Sampai kemudian, saya malas bermain medsos, dari Antoniyus Cahyalana diberi kabar, Yuk Hesma berpulang. Damailah di sana, Yuk! Semoga dilimpahi keberkahan dan di naungi kasih sayang Allah. 

Al Fatihah!

LIPSUS