-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Selamat Jalan Mbah Barmo

INILAMPUNG
Selasa, 20 Juli 2021

Oleh Isbedy Stiawan ZS

SATU lagi seniman Lampung wafat. Subarmo WS yang acap dipanggil Mbah Barmo, seniman Kotabumi dipanggil Allah dini hari tadi, Selasa (20/7/2021).

Kabar duka Mbah Barmo yang pernah studi di SMSR/SSRI Yogyakarta angkatan 1976 ini, saya dapat dari status FB penyair Agusri Junaidi.

"Kemungkinan terpapar Covid, bang," jelas Agusri melalui WA.

Subarmo WS kelahiran 28 April 1954. Ia dikenal seniman multi talent: sastra, aktor, lukis, dan lainnya. Barmo pernah bergiat di Dewan Kesenian Lampung Utara (DKLU).

Dalam even penyair Lampung, ia kerap tampil membaca puisi. Pernah terlibat dalam sebuah sinetron lokal, bersama Fauzi AT. 

Di kalangan seniman Lampung, khususnya Lampung Utara, Barmo tak asing lagi. Bahkan, ia kerap berada di depan dalam setiap helat.

Saat aku baca puisi bersama Djuhardi Basri di STKIP Muhammadiyah (kini Universitas) Kotabumi), Barmo hadir. Saat itu kami kangen-kangenan. Sudah puluhan tahun kami tidak bertemu.

Meski Mbah Barmo kurang produktif berkarya (menulis puisi), namun selalu punya stok puisi jika diminta untuk menerbitkan buku puisi ataupun didapuk baca puisi.

Subarmo adalah seniman energik. Di panggung, ia selalu memesona dan mampu menyihir penonton.  Berbut panjang melebihi bahunya, ia memang seniman tulen. 

Suaranya yang masih kental "njawanya" mengingatkan vokal Emha Ainun Najib atau WS Rendra. 

Suara Barmo renyah, menurutku. Sebagai seniman Lampura, otomotis sebagai tokoh di daerah itu, belum atau tidak kudengar ia menjadi juru sukses politiisi. Kehidupan sehari-harinya sederhana. Tidak pernah neko-neko.

Subarmo layak mendapat anugerah. Mengingat perjanalan karirnya sebagai seniman sejati sampai akhir hayat.

Pergaulan sesama seniman boleh saya sebut sangat baik. Dia siap membela kawan seniman jika dia rasa ada ketidakadilan. 

Barmo pernah menulis pesan pendek kepada saya, ia berharap adanya reformasi di lembaga kesenian agar kehidupan seni dan seniman semarak dan dihargai pemerintah.

"Untuk ke situ, harus orang-orang yang mau berjuang untuk kebaikan lembaga dan kesejahteran (nasib) seniman. Bukan mencari hidup dari lembaga, tapi orang yang mau menghidupi lembaga," kata Mbah Barmo.

Ia katakan itu, juga berlaku di DKLU. Barmo mengkritisi DKLU yang dinilai melempem, kurang gereget dan kreatif memajukan lembaga.

Katanya, berbeda era 80 sd 90-an. Tentu di kala kepeminpinan DKLU dipegang Bachtiar Basri ataupun Syauki. 

Harapan Barmo memang belum terwujud. Ia sudah dipanggil Illahi. 

Selamat jalan maestro. Semoga di Sana, kau tenang dan bahagia. Inna lillahi wainna ilaihi roojiun. 

20 Juli 2020

LIPSUS