-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 14)

INILAMPUNG
Jumat, 14 Januari 2022


Oleh, Dalem Tehang


SAAT Rayhan pamit, dan aku akan kembali ke sel, petugas jaga menanyaiku apakah ada pesan yang harus mereka lakukan.


Spontan ku katakan kalau aku tidak menerima tamu kecuali istriku. Petugas itu mengangguk. 


Hari itu hari besukan. Keluarga tahanan biasanya berdatangan. Sampai berjubelan. Meski hanya bisa sua dengan tetap dibatasi jeruji besi.


Setelah di kamar, ku lihat dua kantong plastik yang dibawa Rayhan tadi ditaruh di tempatku. Ku buka. Ternyata isinya nasi pecel tujuh bungkus, juga peyek. Ada juga dua bungkus rokok.


Aku panggil Ijal. Ku serahkan kiriman istriku untuk sarapan bersama penghuni kamar. Sebungkus rokok juga ku berikan untuk dibagi selepas sarapan. 


Pagi itu, kami sarapan nasi pecel. Seluruh wajah penghuni kamar 10 penuh keceriaan.


“Kalau hari Selasa dan Jum’at, semua pasti ceria, Mario. Karena hari besukan. Kayak lebaran aja rasanya kalau hari besukan tiba,” kata Edi. Sambil terus mengunyah peyek yang dikirim istriku.


Semua tersenyum. Baru ku sadari jika pagi itu, seluruh penghuni kamar sudah pada mandi. Selintas bau wangi menyeruak. Bau dari parfum dengan beragam merek dan kelas.


Aku duduk di tempatku. Di sudut dekat kamar mandi. Satu demi satu penghuni kamar dipanggil tamping karena ada keluarganya yang datang membesuk. 


Tidak selang lama, tamping itu kembali. Membawa kantong plastik berisi makanan sambil menyebut siapa pemiliknya. Ijal buru-buru menerimanya dan menaruhkan dimana tempat mereka masing-masing.


Wajah kawan-kawan penghuni kamar tampak sangat ceria selepas besukan. Benar kata Edi, hari besukan bagi tahanan bagaikan lebaran. Hanya Ijal dan Aris yang berdiam di kamar. 


“Nggak ada besukan ya?” tanyaku pada keduanya. Yang sedang asyik bermain catur. Mereka menggeleng, tanpa menengokkan wajahnya. 


Tak ku lanjutkan pembicaraan. Aku menyadari, menghibur diri di dalam sel sangatlah sulit. Karenanya, saat ada yang tengah menikmatinya, aku coba tidak mengusik walau hanya sekadar dengan sepotong pertanyaan.


“Sudah dulu, Jal. Bete om!” mendadak Aris menutup papan catur.


“Yah, om Aris mah kebiasaan deh. Kapan lagi posisi terjepit, pasti nutup permainan,” sela Ijal. Setengah sewot.


“Nggak semua permainan itu mesti diakhiri, Jal. Ada yang digantung atau sengaja nggak diselesaiin,” jawab Aris. Enteng.


“Ya nggak gitulah, om. Mestinya sampai ada yang kalah atau menang. Itu baru fair namanya,” ucap Ijal. Masih dengan nada kesal.


“Jal, sering kali kita dalam posisi yang nurut pandangan orang kalau kita kalah. Tapi kita malah ngerasa menang. Gitu juga sebaliknya. Hidup ini nggak hitam putih aja. Sering kali malah abu-abu yang dominan. Kamu masih terlalu muda buat mahaminya,” kata Aris sambil meninggalkan Ijal yang merapihkan papan catur.


“Ya nggak gitu juga kali, om!” kata Ijal lagi.


“Sekarang om tanya. Kamu masuk ke sel ini ngerasa menang apa kalah?” ucap Aris.


“Ya kalahlah, om. Kalau menang, nggak mungkin Ijal disini,” sahut Ijal. Tegas. 


“Nah, itu yang salah, Jal. Kamu harusnya ngerasa menang. Karena pacar yang kamu belain, pasti bangga dengan perjuanganmu ngejaga cinta kalian, walau akhirnya kamu harus di penjara,” urai Aris. 


Ijal terdiam. Sesaat ada seulas senyum tipis di sudut bibirnya. Pemuda yang bertugas sebagai orang dapur di kamar 10 ini, memang kelihatan cerdas. Hanya jiwanya yang tengah runtuh, membuat ia kehilangan keceriaan.


“Jadi, Jal. Dalam hidup ini ada dua luka yang pasti dialami semua manusia. Pertama, luka yang menyakiti. Kedua, luka yang akan mengubah diri. Nah, kamu harus bisa nikmati luka ini di posisi kedua,” kata Aris. Bernasihat.


“Gimana Ijal mau ngerasa menang, om. Gitu Ijal ditahan, pacar Ijal malah mutusin hubungan dan sekarang pacaran sama orang yang Ijal pukul waktu itu. Yang ngebuat Ijal ditahan gini,” kata Ijal dengan suara berat. Menahan emosi dan seribu kegalauan di hati.


Aris bangkit. Dipeluknya anak muda itu. Ada keharuan mencuat kuat. Menyatunya dua jiwa yang sama-sama terkungkung dalam suasana tidak normal. Aku pun merasakan keharuan itu.


Suasana itu mencair ketika Joko mengeluarkan bawaan istrinya saat besukan. Kue apem dan pisang goreng. 


“Ini makanan ringan bawaan istri. Ayo kita nikmati dan syukuri,” kata Joko sambil menyodorkan panganan. 


Kami berebutan mengambil makanan ringan yang ditaruh di tengah-tengah kamar. 


“Jal, atur nanti untuk makan siang dan malemnya ya. Kayak biasa. Cek dulu semua bawaan kawan-kawan,” kata Edi sang kepala kamar. Ijal mengangguk.


Selepas jam besukan, masing-masing menyerahkan makanan yang diterimanya ke Ijal. Kecuali yang untuk kebutuhan pribadi. Seperti rokok, obat-obatan atau vitamin.


Dengan cekatan, Ijal langsung membagi mana makanan yang harus segera dimakan, dan mana yang bisa disisihkan. Untuk makan malam maupun untuk keesokan harinya. (bersambung)


LIPSUS