Cari Berita

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 70)

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 11 Maret 2022


Oleh, Dalem Tehang


KAMI penghuni kamar 10 baru saja merebahkan badan untuk tidur, saat seorang anggota provos tiba-tiba berdiri di depan jeruji besi.


“Di kamar ini ada yang bisa mijet nggak?” tanya petugas itu. Suaranya parau. 


Spontan, Pepen mengangkat tangannya.


“Bener kamu bisa mijet?” tanya petugas itu lagi. Pepen mengangguk, yakin.


“Pijet apa yang kamu bisa? Pijet capek aja apa yang lain-lain juga. Aku lagi masuk angin ini. Sudah kasep kayaknya,” kata petugas provos dengan wajah serius.


“Saya bisa pijet akupuntur, pak. Kalau masuk angin, nanti setelah dipijet urat-uratnya, dikerikin sebentar. Bereslah itu,” ujar Pepen dengan percaya diri.


Provos itu tampak percaya dengan promosi Pepen. Ia memanggil tamping, minta membuka pintu sel kamar 10.


“O iya, izin dulu Bos. Gimana kalau aku pijetnya disini aja. Bolehkan,” kata petugas provos itu sambil memandangku.


Tidak ada pilihan, kecuali memberi izin. Meski dengan risiko menunda waktu kami untuk bisa menikmati tidur malam ini.


Aku minta Doni bergeser dari tempatnya. Karena provos itu akan dipijat oleh Pepen di tempatnya. Yang dekat dengan jeruji besi. 


Ku minta Ijal menyiapkan teh panas. Dan aku beri satu bungkus minuman tolak angin. 


“Dan, aku izin tidur ya. Ngantuk berat ini,” kataku pada petugas itu.


Ia yang sudah merebahkan badan dan siap untuk dipijat Pepen, hanya mengacungkan jempol. 


Aku pun memaksakan diri untuk bisa tidur. Menjaga kondisi fisik di penjara sangatlah penting. Karena psikis amat sulit untuk tetap dijaga kestabilannya. 


Belajar tetap bisa memperoleh sisi positif hidup dalam penjara, memang tidaklah mudah. Namun, harus terus dilakukan. Karena semakin berat tantangannya, kian menaikkan ghirah untuk menaklukkannya.


Saat adzan Subuh menggema, aku dibangunkan oleh Aris dengan tepukan di badan yang cukup kencang.


“Alangkah nyenyaknya tidur, Be,” kata Aris, begitu aku membuka mata.


“Alhamdulillah, Ris. Masih dikasih enak tidur sama Yang Di Atas,” sahutku sambil bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Seusai mengambil air wudhu dan akan memulai solat, aku baru sadar jika yang jamaahan hanya Aris, Reza, dan Ijal.


“Kenapa yang lain-lain nggak dibangunin, Jal?” tanyaku pada Ijal.


“Mereka baru pada tidur, Be. Belum lagi 30 menit,” sahut Ijal.


“Ngapain aja semaleman?” selaku.


“Ngeladenin provos yang pijet disini itulah, Be. Kan dia abis dipijet ngajak ngobrol. Juga makan mie dulu disini,” jelas Ijal. 


“Makanya tadi aku bilang, nyenyak bener Babe tidurnya. Sebab, suara mereka ngobrol semaleman itu berisik, tapi Babe nyaman aja ngorok,” kata Aris, menimpali.


Aku hanya tersenyum. Bersyukur dalam hati. Begitu ditutupnya telingaku saat kawan-kawan berbincang riang dengan petugas provos, sehingga aku tetap bisa merasakan nikmatnya tidur. Sebuah kebutuhan fisik yang acapkali sulit untuk didapatkan.


Pintu kamar dibuka, diberi kesempatan bagi yang ingin berolahraga di depan kamar. Namun aku memilih untuk kembali rebahan. Mencoba untuk bisa melanjutkan tidur nan lelap. 


Tapi mendadak terdengar suara Rusdi. Ustad yang terjerat narkoba itu sudah duduk di dekatku.


“Oh, pak Ustad. Ngagetin aja,” kataku, dan buru-buru bangun dari rebahan.


“Nggak olahraga, Be. Lagi nggak enak badan ya?” sahut ustad Rusdi.


“Nggak sih. Alhamdulilah sehat aja, cuma pengen geletak lagi, siapa tahu bisa tidur nyenyak kayak semalem,” kataku sambil tersenyum.


“O gitu, kirain Babe lagi kurang enak badan. Jadi nggak enak aku kalau ngeganggu,” ucap Rusdi.


Ijal memberi isyarat akan membuatkan kopi. Buat Rusdi. Aku mengangguk. 


“Ada cerita apa, pagi-pagi gini,” kataku lagi. 


“Nggak ada, cuma pengen silaturahmi aja sama Babe. Kita kan nggak pernah tahu hari-hari kita disini kayak mana. Nggak ada yang pasti. Nggak terprogram. Jadi mumpung ada kesempatan, ya silaturahmi-lah,” ujar Rusdi. Enteng.


“Ya kan emang hidup ini nggak ada yang pasti, pak Ustad,” kataku, menyela.


“Jadi gini, Be. Cuma ada tiga hal yang nggak pasti dalam hidup ini. Yaitu kekayaan, kejayaan, dan mimpi. Karena itu, jangan pernah terobsesi sama ketiga hal tersebut,” kata ustad Rusdi. 


“Terus, pak Ustad?” tanyaku. Mulai tertarik dengan tausiyahnya.


“Ada tiga hal yang nggak boleh hilang dalam hidup kita, seterpuruk apapun kondisi yang dialami. Yaitu harapan, keikhlasan, dan kejujuran,” lanjutnya.


“Jadi selagi masih bernafas, tiga hal itu nggak boleh hilang dari kehidupan kita ya, pak Ustad,” ucapku, menimpali.


“O iya, Be. Nggak boleh kita kehilangan harapan, keikhlasan, dan kejujuran itu. Selama Tuhan masih kasih kita nyawa, itulah yang wajib kita lakuin dan perjuangin,” tegas ustad Rusdi.


“Gimana kalau kejujuran malahan bawa kita masuk penjara, pak Ustad?” tiba-tiba Ijal menyela, sambil menaruhkan cangkir kopi buat ustad Rusdi.


“Jangankan masuk penjara, mau ditembak mati juga jangan pernah beralih dari kejujuran, Jal. Mungkin kejujuran itu nggak diakui sama penyidik, karena mereka berpegang pada bukti fisik, tapi yakinlah Tuhan nggak tidur. Dengan kekuasaan-Nya, Dia akan bergerak sendiri. Dan entah kapan waktunya, kejujuran itu pasti akan terungkap. Dan kemenangan sesungguhnya itu, ya cuma punya orang yang jujur. Percaya itu,” jelas ustad Rusdi. Bersemangat. 


“Nah, kalau yang pasti dalam hidup ini apa, pak Ustad?” tanyaku.


“Juga ada tiga, Be. Tua, sakit, dan mati. Itu pasti kejadiannya, Be. Mau perawatan kayak mana juga, tetep jadi tua itulah nantinya kita semua. Terus ngerasain sakit-sakitan, dan ujung kehidupan itu ya kematian,” urai Ustad Rusdi.


“Maaf ini, pak Ustad. Kayaknya sampeyan ini tetep enjoy dan enteng aja jalani semua ini. Apa nggak kepikir kalau nama sampeyan sebagai penceramah jadi rusak, juga beban moril istri dan anak-anak. Apa kuncinya tetep bisa setenang ini,” kataku. Penasaran.


“Sederhana kuncinya. Nikmati aja hidup yang ada sekarang ini, dan yakini kalau Tuhan sedang tangani masalah kita. Jadi, punyai keyakinan yang cukup akan kekuatan doa. Kalau urusan nama rusak, keluarga jadi nggak karuan, itu soal duniawi. Sebentar aja itu. Semua akan normal lagi,” kata ustad Rusdi. Tetap dengan gayanya yang enjoy.


“Enak bener kamu ngomong, pak Ustad. Gara-gara masuk bui gini, belum apa-apa aku mau digugat cerai sama istri,” kata Aris, yang tiba-tiba menyela.


Ustad Rusdi tampak memperhatikan wajah Aris. Cukup lama. Dan kemudian, ia tersenyum.


“Kuncinya itu ikhlas, Aris. Istri dan keluarga besarmu itu belum ikhlas dengan takdir Tuhan ini,” kata ustad Rusdi. 


“Ya karena masuk bui gini kan ujiannya emang berat. Nggak gampang-lah buat ikhlas,” ujar Aris.


“Aku pernah bilang, jangan anggep kita di penjara ini sebagai ujian, tapi ini azab Tuhan. Cuma dengan itu kita mau total ngerubah diri. Nggak usah-lah kita buka dosa kita masing-masing, sadari aja sendiri,” lanjut Ustad Rusdi kemudian. 


“Kenapa harus dianggep azab, bukan ujian atau cobaan, pak Ustad?” kata Ijal yang duduk menimbrung.


“Kita ini manusia biasa, Jal. Gampang bener nyepelein sesuatu. Kalau kita anggep ini ujian atau cobaan, nggak bakal buat kita bener-bener taubat dan perbaiki diri dengan total. Tapi kalau kita anggep ini azab, inshaallah kita keluar dari sini bener-bener berubah. Karena selama di penjara, kita jadiin ini sebagai kawah candradimuka buat ngelupasin semua dosa-dosa kita,” Ustad Rusdi mengurai.


“Tapi faktanya, banyak yang bolak-balik masuk penjara karena kejahatan yang sama,” kata Aris.


“Jangan nyamain diri kita sama orang lain, Aris. Perbaiki aja pribadi kita. Inget ya, jangan pernah kita bandingin badan kita sama badan orang lain. Kita nggak bakal bisa jadi orang lain, dan orang lain juga nggak akan bisa kayak kita,” sahut Rusdi. Tetap bersemangat. 


Seorang tamping berdiri di pintu. Akan menggembok kamar. Karena sebentar lagi waktunya apel pagi. Ustad Rusdi buru-buru keluar. 


“Terimakasih tausiyahnya, pak Ustad,” ucapku. Ustad Rusdi hanya menganggukkan kepalanya dan memberi senyuman. (bersambung)


LIPSUS