-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 172)

INILAMPUNG
Selasa, 21 Juni 2022


Oleh, Dalem Tehang  


SETELAH kami bersalaman, Heru mengatakan, ia sebenarnya telah mengetahui siapa aku meski belum pernah secara langsung berkenalan.


“O gitu? Emang kamu tahu darimana sama bang Mario ini, Heru?” tanya Gerry. Penasaran. 


“Ya tahu aja. Mengenal yang namanya bang Mario. Dengan segala sepak terjangnya. Tapi baru disini bisa kenalan langsung,” jawab Heru sambil tersenyum.


Ku tatap pria berbadan besar dengan wajah keras yang ada di depanku ini. Namun, tidak bisa terurai dimana aku pernah mengenalnya.


“Syukurlah kalau sudah tahu sama bang Mario. Jadi kita enak berteman disini,” ujar Gerry.


Kami terus menikmati siomay sambil sesekali menyapa tahanan yang masuk kantin dan mengenal salah satu di antara kami. 


Sampai kemudian, Gerry bertanya ada keperluan apa aku di pos sel AO. Tanpa sungkan, aku ceritakan peristiwa yang baru aku jalani.  


“Emang Yan itu siapa, bang?” tanya Gerry. Aku mengangkat bahu. 


“Maksudnya?” Heru menyela.


“Jujur, sebenernya aku juga nggak kenal. Tapi karena dia bilang kenal dan berkawan, aku juga mengaku kalau kenal sama dia,” jelasku.


Gerry dan Heru tampak mengernyitkan dahi. Dan tidak lama kemudian, Gerry melepas senyumnya.


“Kenapa kamu senyum gitu, Gerry?” tanyaku, sambil terus mengunyah makanan ringan, siomay.


“Ya aneh aja abang ini. Ada orang ngaku kenal dan berkawan, walau abang ngerasa nggak kenal, diterima-terima aja. Bahkan sampai mau-maunya nganter dan ngejamin di AO,” urai Gerry, masih dengan tersenyum.


Aku terdiam. Apa yang disampaikan Gerry memang benar. Bagaimana mungkin, aku bisa begitu saja membantu orang hanya karena ia mengaku mengenalku, sementara aku sendiri sesungguhnya tidak mengenalnya.


“Aneh emang sih, Gerry. Setelah aku pikir-pikir sekarang, ya aneh dan lucu. Tapi kalau kita sama-sama sadari, kita lagi hidup di alam dunia yang tidak normal, yang aneh-aneh gini ya normal-normal aja sih,” kataku beberapa saat kemudian. Mencari pembenaran.


“Ya sudah, yang penting niat bang Mario pasti baik. Mungkin dia ngerasain gimana beratnya pas masuk sini, nggak ada kawan. Maka, begitu ada yang ngaku kawannya, dia langsung aja mau ngebantu. Nggak ada ruginya itu, bang. Yang berbuat baik pasti dibalas dengan kebaikan juga,” kata Heru, menimpali. 


Tampak Gerry masih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku. Pria muda yang sukses dalam usaha tour travelnya itu, seakan belum menemukan alasan mengapa aku bisa begitu ringannya membantu tahanan yang baru masuk. 


Memang, terkadang tidak perlu alasan untuk hati dan pikiran bergerak menuju perbuatan baik. Sebagaimana juga sikap bijak akan membantu keluar dari situasi sulit. 


Perbincangan kami diakhiri setelah terdengar suara adzan Ashar. Aku bergegas kembali ke kamar. Mengambil kain sarung dan kupluk, serta berjalan cepat menuju masjid. 


Tepat selesai solat, hujan turun dengan derasnya. Tertahanlah aku di dalam masjid. Saat itu, tampak beberapa orang sedang menyemak Alqur’an, yang diajarkan seorang pria lain. 


Tanpa sungkan, aku mendekat. Ikut semaan. Ku dengarkan pria setengah baya itu membaca kitab suci dengan penuh penghayatan, sementara para penyemaknya pun kelihatan sangat serius mengikuti bacaan sang guru. Meski tidak bisa secara langsung memahami maknanya. 


Setelah menyelesaikan bacaan satu surah, pria yang menjadi guru mengaji itu menyampaikan kisah dan pelajaran kehidupan yang terdapat di dalam surah tersebut. Begitu mendalam kajiannya. Hingga membuat diri ini merasa menjadi sangat kecil, dan dilumuri dosa pada setiap kulitnya.


Seusai menjelaskan makna yang terkandung di dalam surah yang tadi dibaca, sang guru menatapku.


“Baru ikut sekali ini ya, pak,” sapa dia dengan wajah penuh persahabatan. Ku anggukkan kepalaku.


“Kami setiap selesai solat ashar, membaca qur’an satu surah dan menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya. Silahkan ikut kajian ini setiap sorenya,” kata sang guru, dengan tersenyum.


“Inshaallah, pak. Saya seneng bisa ikut kajian ini,” kataku dan menundukkan wajah. Menghormati ajakan sang guru.


Setelah hujan agak mereda, aku berpamitan untuk kembali ke kamar. Sambil berjalan melipir di selasar mengitari kantin, pikiranku terus berputaran. Begitu banyak kegiatan keagamaan di rutan ini. Yang dimotori petugas dan ditindaklanjuti oleh para tahanan. 


Begitu akan masuk kamar, aku berhenti melangkah. Di ruang depan kamar, ada dua orang sipir yang sedang berbincang serius dengan Basri. Tidak mau mengganggu pembicaraan mereka, aku balik arah. Menuju kamar 25. Tempat seorang bupati tengah menjalani hari-harinya.


“Assalamualaikum, bos,” kataku, begitu berdiri di depan pintu kamar 25.


“Waalaikum salam. Masuk bang. Kebetulan ini, lagi makan mie rebus. Ngangetin badan. Kalau abang mau, biar dibuatin,” kata sang bupati, seraya mempersilahkan aku duduk ndeprok di sampingnya. 


“Boleh juga, bos. Pas bener ini. Hujan-hujan gini makan mie rebus,” kataku.


Sambil makan mie instan rebus dilengkapi tahu dan tempe goreng, kami berbincang banyak hal menyangkut aktivitas yang dapat mengurangi kejenuhan menjalani hari-hari di dalam rutan. 


Salah satu ide sang bupati adalah membuat open turnamen di rutan. Mulai dari sepakbola, bola volly, bulutangkis hingga ke tenis meja.


“Nanti pesertanya per-blok aja, bang. Jadi masing-masing ada tiga tim untuk sepakbola dan bola volly. Kalau tenis meja dan bulutangkis, masing-masing blok mengirim satu single, dan satu double. Soal piala atau hadiahnya, nanti kita bicarain dengan pimpinan rutan,” urai sang bupati.


“Bagus ide ini, bos. Segera aja diskusiin sama pimpinan rutan. Setelah mendapat arahan, kita bentuk kepanitiaan. Prinsipnya, semua dari kita buat kita,” jawabku, antusias.


Saat kami masih berbincang, seorang tamping tiba-iba muncul di depan pintu. Memberitahu sang bupati, bila ditunggu kepala rutan di kantornya. Dengan gerak cepat, pria gagah itu mengikuti langkah tamping.


Aku pun akhirnya menuju kamar 8. Karena di kamarku, Basri dan sipir masih terlibat pembicaraan serius. Dari balik jeruji kamar 8, aku menyapa kawan-kawan yang ada disana. Yang pernah menjadi bagian dari perjalananku di dalam rutan. (bersambung)

LIPSUS