-->
Cari Berita

adsense google

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 217)

INILAMPUNG
Jumat, 05 Agustus 2022


Oleh, Dalem Tehang


BEBERAPA penghuni Blok B yang berpakaian kemeja putih, bercelana gelap, sambil membawa kopiah, tampak sudah keluar dari selnya masing-masing. Aku dan Aris memahami bila mereka akan mengikuti persidangan juga.

“Be, aku balik ke kamar ya. Nanti dhuhuran dulu atau gimana?” kata Aris, sesaat sebelum keluar kamarku.

“Kita pakai aja langsung pakaian khas sidang itu, Ris. Nanti absen di pos dalem dulu. Begitu adzan, kita ke masjid, dhuhuran. Baru balik ke pos dan berangkat ke pengadilan,” jelasku.

Sambil menganggukkan kepalanya, Aris bergegas kembali ke kamarnya. Kamar 12 penaling. Berposisi paling ujung blok di lantai bawah. Berseberangan jauh dengan kamarku.

Setelah menggunakan pakaian khas mengikuti persidangan, dengan membawa notes kecil dan sebuah pulpen, aku keluar kamar. Tentu juga mengantongi satu bungkus rokok dan korek api. Dan tidak lupa, kacamata lipat untuk aku membaca. 

“Mau sidang, om?” tanya Ino dari kamar 19, yang sedang berdiri di balik jeruji besi.

“Iya, ini sidang pertama, Ino. Doain lancar ya,” sahutku. Pendek.

“Siap, pasti Ino doain om. Tetep tenang ya, om. Dibawa santai aja. Emang rasanya pasti nggak karuan waktu di ruang sidang, apalagi ini sidang pertama. Tapi om tetep kendaliin diri aja. Yakini, semua ini cuma proses kehidupan, bukan akhir kehidupan,” ujar Ino, menyemangati.

“Terimakasih doa dan supportnya, Ino,” sahutku, dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar Blok B untuk selanjutnya mengabsenkan diri di pos penjagaan dalam.

Setiba di pos penjagaan, seorang tamping regis langsung mendata kehadiranku. Ruangan pos jaga yang sempit terasa begitu pengap, karena banyaknya WBP yang akan mengikuti sidang, berkumpul disana. Bahkan, teras samping dan depan pos penjagaan, juga disesaki para tahanan yang akan bersidang.

Tiba-tiba Gerry menyapaku, saat melintas didekat pos penjagaan. Setelah bersalaman, ia menanyakan kesiapanku mengikuti sidang perdana ini.

“Alhamdulillah sehat, dan inshaallah tetep bisa tenang, Gerry,” kataku.

“Syukur kalau gitu, bang. Tapi kalau abang nanti ngerasa kurang sehat, waktu ditanya hakim, abang bilang aja nggak sehat. Jadi sidangnya ditunda,” ujar Gerry.

“Inshaallah abang sehat-sehat aja kok, Gerry. Nggak ada masalah ngadepin sidang ini,” kataku, tegas.

“Alhamdulillah, kalau abang tetep pede. Gerry ke kantin sebentar ya. Nanti kesini lagi,” kata Gerry, dan bergerak cepat menuju kantin.

Sepeninggal Gerry, aku menyalami beberapa orang yang juga akan mengikuti sidang. Ternyata, banyak penghuni rutan yang sangat asing wajahnya. 

Namun sebenarnya, itu sesuatu yang bisa dimaklumi. Pasalnya, rutan yang seharusnya hanya berkapasitas 800-an orang, saat ini dihuni lebih dari 1.300 orang. Dan mayoritas, memang masih dalam proses persidangan.

Saat aku masih berbincang dengan beberapa penghuni rutan yang baru berkenalan, Aris mendekat. Disampingnya ada Dika.

“Kamu sidang juga, Dika?” tanyaku, sambil kami bersalaman.

“Iya, bang. Seneng Dika bisa sidang bareng abang dan Aris. Pastinya nggak ngerasa sendirian,” kata Dika, dengan menunjukkan senyum manisnya.

“Alhamdulillah, kita bisa sama-sama ya. Ini abang baru kenalan sama kawan-kawan kita yang lain,” ujarku, dan meminta Dika juga Aris berkenalan dengan sesama penghuni rutan yang hari itu akan mengikuti persidangan. 

“Dika, kenapa kamu nggak pakai sepatu?” tanyaku, sambil menarik tangannya untuk menjauh dari kerumunan WBP lainnya.

Ku tatap kaki anak muda yang terkait kasus ganja itu, hanya bersandal. Sandal jepit pula. Sangat kotor dan sudah tipis. Pertanda tidak pernah dibersihkan dan sudah terlalu lama digunakannya.

“Justru itu, bang. Baru tadi Aris bilang, kalau harusnya kita pakai sepatu waktu sidang. Jadi ngehargai pengadilan, juga biar tampilan tetep keren. Nanti Dika sampein ke pakde kalau dia dateng ke pengadilan, minta dikirim sepatu. Biar sidang-sidang lanjutan bisa pakai sepatu kayak abang dan Aris,” tanggap Dika, dengan wajah serius.


“Ya gitulah, Dika. Walau di persidangan kita duduk di kursi pesakitan, tapi hargailah pengadilan. Pakailah sepatu. Aneh emang sih, kenapa yang diwajibin pakai baju putih, celana gelap, dan berkopiah, tapi pakai sandal rombeng kayak gini nggak dilarang,” kataku dengan tetap menatap kaki Dika.


“Siap, bang. Dika janji, sidang yang akan datang sudah pakai sepatu,” sahut Dika, dan menyalamiku dengan kedua tangannya. Bersepakat. 


Gerry mendatangi aku dan Dika yang sedang berbincang sekitar tujuh meter dari kerumunan tahanan yang akan mengikuti sidang. Ditangannya terdapat satu bungkusan berisi makanan.


“Bang, ini ada rokok, air mineral, dan gorengan. Buat bekal abang ke pengadilan,” kata Gerry, sambil menyerahkan kantong plastik hitam yang dibawanya.


“Masyalaah. Terimakasih banyak, Gerry. Alhamdulillah. Barokah rejekimu,” ujarku dan menepuk pundak pria muda berwajah tampan dengan tampilan yang selalu keren dan wangi itu.


Setelah mengamankan dua bungkus rokok, ku serahkan kantong hitam berisi makanan dan air mineral dari Gerry ke tangan Dika.


“Pegang, Dika. Bekal kita ini,” kataku. Dika menyambutnya dengan anggukan kepala. 


“Aku balik ke kamar ya, bang. Tetep tenang dan semangat ikuti sidangnya,” ujar Gerry, beberapa saat kemudian. 


Dengan langkah cepat, pengusaha tour travel itu menuju ke Blok A, untuk kembali ke kamar 12. Tempatnya selama ini tinggal bersama beberapa WBP lainnya.


Suara adzan dari masjid, terdengar. Atas izin tamping regis yang mengurus peserta sidang, aku pun menuju masjid. Diikuti Aris, Dika, dan belasan orang lainnya. Dari 58 tahanan yang akan bersidang, masih banyak yang belum mengabsenkan diri ke pos penjagaan dalam.


Seusai menjalankan ibadah jamaah Dhuhur, aku buru-buru kembali ke pos penjagaan dalam. Karena beberapa kali suara panggilan untuk tahanan yang akan bersidang melalui mike, sudah terdengar.


Begitu sampai di depan pos penjagaan dalam, aku mengikuti barisan. Setelah disebut nama oleh tamping regis. Masih terdapat delapan orang lagi yang belum berdiri di dalam barisan. Hingga beberapa kali tamping regis melakukan pemanggilan. 


Setelah 58 peserta sidang telah lengkap, kami semua diminta berdiri. Dibariskan dengan rapih. Terbagi dalam empat barisan. Tamping regis melapor kepada petugas sipir yang berada di dalam pos. 


Sipir berbadan tinggi besar itu, kembali mengabsen kami satu persatu. Setiap memanggil satu nama, ia menatap orangnya lekat-lekat. Seakan ingin mengenali benar raut wajahnya. Dan setelahnya, ia mengabadikan momen tersebut dengan memfoto melalui telepon selulernya.


Melalui anggukan sipir tersebut, barulah kami bergerak. Tetap dalam barisan masing-masing. Berjalan melewati lapangan untuk sampai ke pos penjagaan luar. Sebelum pintu gerbang penyekat dibuka, tamping regis melapor kepada komandan di pos.


Didampingi dua orang sipir, komandan pos keluar dari ruangannya. Mengabsen kami dengan lebih cermat. Memperhatikan pakaian dan apa saja yang kami bawa. Beberapa orang yang membawa kantong plastik, ditanyakan apa isinya dan keperluan dibawa ke pengadilan.  


Begitu cermatnya komandan pos luar melakukan pemeriksaan, sehingga badan kami semua basah oleh keringat akibat berdiri cukup lama dalam posisi berbaris dibawah terik matahari. 


Tiba-tiba, seorang tahanan terduduk. Hampir jatuh pingsan. Dengan isyarat tangan, komandan meminta beberapa orang mengangkat tahanan tersebut ke teras pos jaga.


“Belum sarapan ya, pak?” tanya komandan jaga kepada tahanan berusia 60-an tahun dengan badan kurus kering itu. (bersambung)

LIPSUS