Oleh, Dalem Tehang
SAAT aku masih berdiri di pintu ruang kunjungan berukuran sekitar 20 x 20 meter itu, mataku langsung terbelalak. Betapa tidak. Karena di area tersebut telah penuh sesak. Sekitar 120-an orang berkumpul disana.
Sampai kemudian, pandanganku terarah pada lambaian tangan dari sudut kanan. Ternyata istriku Laksmi dan anak gadisku, Bulan, berposisi disana.
Seorang tamping yang mengurus ruang kunjungan mendata nama dan kamarku, dan setelahnya mempersilahkan aku masuk. Dengan pesan, waktu besukan hanya 20 menit. Spontan aku menengokkan wajah. Menatap tamping yang bicara tadi. Meminta kepastian dari apa yang baru saja disampaikannya.
Sadar aku memandangnya dengan nanar, tamping itu hanya mengangkat bahunya. Dan sesaat kemudian, ia melepaskan senyuman. Aku pun memahami, itu kode perlunya “sepemahaman”.
Hidup di dalam rutan, memang harus pandai-pandai membaca kode. Karena disitulah kunci kelenturan dan terbebaskan dari praktik-praktik kekerasan.
Masih sambil menatap tamping yang mendata tahanan penerima kunjungan, ku anggukkan kepalaku, dan langsung melangkah. Memasuki ruangan. Melewati puluhan orang yang sedang bercengkrama dengan keluarga masing-masing.
Istriku langsung berdiri, begitu aku mendekat ke tempatnya duduk. Kami pun berpelukan dengan erat. Bulan menarik tanganku. Ingin langsung aku rengkuh dalam pelukan juga. Cukup lama kami bertiga berpelukan. Melepas kerinduan dalam balutan keharuan.
Akhirnya, kami bertiga duduk ndeprok di lantai keramik, dengan berhimpit-himpitan. Akibat sesaknya ruangan. Tidak kurang dari 50 tahanan saat itu tengah menerima kunjungan keluarganya. Meski telah diatur oleh tamping, namun tetap saja banyak yang melewati batas maksimal waktu besukan 20 menit perorang.
“Kenapa besukannya di ruangan ini ya, bunda?” tanyaku kepada istriku, yang tengah membuka bungkusan nasi untuk kami makan bersama.
“Ini si nduk ayah yang mauin. Katanya, biar sama kayak yang lain. Ketemu keluarganya bisa bareng-bareng, yang memang di ruangan buat besukan,” jawab istriku Laksmi, sambil tersenyum.
“Terus apa yang nduk rasain sekarang?” tanyaku pada Bulan, yang sejak tadi hanya tersenyum.
“Seneng hati mbak. Ayah sekarang sama seperti tahanan yang lain. Nggak jadi tahanan eksklusif kayak selama ini. Ketemu keluarga di ruangan bersama gini lebih asyik tahu, ayah. Ternyata banyak yang serasa sepenanggungan sama mbak dan bunda,” tutur Bulan, masih dengan tersenyum.
“Alhamdulillah, kalau nduk dapetin nilai positifnya. Ayah khawatir, kalau malah buatmu nggak nyaman,” sahutku, dan kembali memeluk anak gadisku satu-satunya itu.
“Mbak malah ngerasa lebih enak besukannya disini kok, ayah. Lebih seru, dan berbaur dengan keluarga tahanan lain pun enjoy,” lanjut Bulan. Nadanya penuh keceriaan.
“Emang lebih asyik kok, ayah. Bunda sama nduk dari tadi nikmati suasananya. Seneng, haru, dan sebagainya bercampurbaur. Banyak ekspresi nggak terduga dari keluarga yang dateng, begitu ketemu saudaranya yang lagi ditahan,” ujar istriku, menimpali.
Sambil makan bersama, aku pun mengitarkan pandangan. Suasana di ruang kunjungan umum memang penuh dengan suara riuh-rendah. Ada canda tawa, keceriaan yang lepas, namun juga banyak yang larut dalam kesedihan.
“Ibu yang duduk di kursi roda itu dari tadi nangis terus lo, ayah. Suaminya megangin dengkulnya, juga ikut nangis,” kata Bulan, sambil menengokkan wajahnya ke arah kiri.
Spontan aku dan istriku Laksmi menengok juga. Tampak seorang wanita muda duduk di kursi roda sambil menangis, dan sesekali mengusap matanya dengan kain kecil. Tangan kanannya terus mengelus kepala laki-laki yang duduk bersimpuh di depannya. Tangan laki-laki itu memegang dengkul wanita tersebut. Tak lama kemudian, ia menaruhkan kepalanya di atas dengkul wanita berkursi roda.
“Kayaknya itu si Aris lo, bunda. Berarti perempuan itu istrinya, yang beberapa bulan lalu kecelakaan dan sempet koma cukup lama di rumah sakit,” ucapku, setelah memperhatikan laki-laki yang menelungkupkan kepalanya ke bagian kaki atas wanita di atas kursi roda.
“Aris mana ya, ayah?” tanya istriku.
“Aris yang sekamar sama ayah waktu di polres, yang kasih hp-nya buat ayah pakai. Dan bilang ke bunda kalau dia jadi adik ayah itu lo. Yang ndadak cium tangan bunda, sampai bunda kaget,” kataku, mengingatkan memori istriku, Laksmi.
“O iya, bunda inget. Yang bekas anggota Dewan itu ya. Pengusaha sukses, dan masuk karena kena kasus korupsi pembangunan proyek,” tanggap istriku, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iya Aris itu, bunda. Yang habis ayah sidang kemarin, kasih pinjem kartu wartelsus buat telepon bunda,” lanjutku.
Kami bertiga terus memandang ke arah wanita berkursi roda dengan laki-laki yang duduk bersimpuh di depannya, sampai seorang tamping mendekat. Memberitahu waktu besukan sudah akan habis.
“Bolehkan aku disini sampai habisnya jam besukan,” kataku kepada tamping itu.
“Siap, om. Semua bisa diatur,” sahut tamping itu, dengan cepat.
“O iya. Itu yang sama perempuan di kursi roda, Aris bukan?” tanyaku kepada tamping pengurus ruang kunjungan.
“Iya, pak Aris yang di kamar 12, om. Satu blok dengan om,” katanya.
Tamping tersebut kembali bergerak. Memberitahu tahanan lain untuk segera menyudahi kegiatan menerima kunjungan keluarganya. Sampai kemudian ia ke tempat Aris. Tampak ada perdebatan diantara mereka.
Setelah izin dengan istri dan anak gadisku, aku mendekat ke tempat Aris. Tamping yang masih berdiri didekatnya, aku tepuk bahunya.
“Biar pak Aris sampai jam besukan selesai ya. Aku yang jamin,” kataku kepada tamping itu.
“Siap kalau gitu, om. Maaf ya, pak Aris. Maklum, tamping kan cuma jalanin aturan,” ujar tamping tersebut, dan sesaat kemudian meninggalkan tempat Aris.
“Masyaallah, babe. Mama, ini bang Mario. Kami manggilnya babe. Kakak papa sejak di polres dulu. Kok babe besukannya disini? Biasanya di ruangan kantor,” kata Aris, panjang lebar.
Aku pun menyalami istri Aris yang duduk lemah di kursi roda. Wajahnya tampak ceria, walau tetap tidak bisa dipungkiri bila menyimpan duka.
“Itu ayukmu sama anak gadis di sebelah sana. Si Bulan yang pengen besukannya disini. Biar ayahnya kayak tahanan lain katanya,” sahutku, dan menunjuk posisi istriku Laksmi serta Bulan.
Spontan Aris mendorong kursi roda istrinya dengan perlahan dan melewati beberapa tahanan yang masih bercengkrama dengan anggota keluarganya. Arahnya jelas, menuju ke tempat istriku dan Bulan, duduk.
Begitu dekat, mereka pun bersalaman. Bahkan, istri Aris langsung menarik badan istriku. Memeluknya. Terdengar suara sesenggukan. Tumpah kesedihan istri Aris dalam pelukan istriku.
“Sabar ya, mbak. Kita ini wanita terpilih, jadi harus kuat. Nggak ada ujian yang nggak berujung. Kita nikmati, syukuri, dan sabari aja semua ini,” ucap istriku dengan pelan, sambil menepuk-nepuk bahu istri Aris penuh ketulusan.
Suasana pun sontak berubah, haru. Mendadak, Bulan memelukku. Menaruhkan kepalanya di dadaku. Aku tahu, ia larut dalam situasi penuh kepiluan itu.
Dan dalam pelukankulah, ia bisa kembali cepat menguasai dirinya. Sebuah ekspresi manusiawi yang tanpa ia sadari, telah melecut semangatku sebagai seorang ayah, untuk tetap tegar dan kuat menjalani hari-hari di dalam keterpenjaraan ini. (bersambung)

