Oleh, Dalem Tehang
“BANG Aris memang pernah cerita soal Babe dan ayuk. Termasuk bagaimana setiap pulang kantor, ayuk selalu mampir ke polres. Mengantar makanan untuk Babe dan kawan-kawan sekamar, makan malem. Termasuk Aris tentunya. Terimakasih banyak ya, yuk. Aku seneng akhirnya bisa ketemu ayuk,” ucap istri Aris, dan kembali memeluk istriku.
“Alhamdulillah. Allah punya cara untuk kita bisa kenal pada situasi berat seperti ini. Yah, sabar dan syukuri aja yang ada saat ini. Kuatin hati dan tetep berdiri tegak di atas kaki sendiri,” sahut istriku, Laksmi, seraya tersenyum.
Ruang kunjungan terus penuh kesibukan. Yang keluar dan masuk, silih berganti. Waktu bertemu bagi keluarga memang hanya empat jam saja. Sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Itu juga hanya hari Senin sampai Kamis, dilanjutkan Sabtu. Khusus hari Jum’at dan Minggu, tidak ada kunjungan bagi para tahanan di rutan.
Setelah berbincang beberapa waktu, Aris mengajak istrinya pamitan. Didampingi seorang asisten rumah tangga, Aris mendorong kursi roda istrinya keluar ruang kunjungan.
“Banyak perjalanan hidup yang dialami orang lain, jauh lebih berat dari yang kita rasain, nduk. Maka, jangan sampai semua kemudahan, membuat kita lupa berdoa. Dan jangan sampai juga segala kesulitan, membuat kita lupa untuk bersyukur,” kata istriku, Laksmi, sambil memandang anak gadisku, Bulan.
“Jadi nduk. Hidup ini mesti terus diisi dengan semangat belajar. Mulai dari belajar diam dari banyaknya bicara, belajar sabar dari sebuah kemarahan, belajar kesusahan dari hidup senang, belajar menangis dari suatu kebahagiaan, belajar ikhlas dari kepedihan, belajar tawakkal dari ujian, sampai belajar ridha dari satu ketentuan,” ucapku, menambahkan pesan untuk anak gadisku satu-satunya yang telah memasuki usia remaja.
“Iya, bunda dan ayah. Inshaallah, mbak tetep bisa jadi orang yang sabar dan rendah hati. Tolong terus bimbing dan doain mbak,” sahut Bulan, suaranya bergetar. Diliputi keharuan.
Dan setelahnya, ia langsung memelukku dan istriku dengan eratnya. Anak gadisku itu menangis. Tanpa suara. Sesenggukannya saja yang mengabarkan jika ia tengah melepaskan beban batinnya.
“Nduk harus makin kuat yo. Raih mimpi-mimpimu jadi nyata. Sukses itu sederhana. Lakukan hal yang tepat, dengan cara yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Bahagia itu juga sederhana, yang rumit itu penafsirannya. Kuncinya, tetep jadilah diri sendiri dan jangan pernah memperbandingkan dengan orang lain,” kataku lagi.
“Bunda pesen yo, nduk. Jangan pernah nyalahin siapapun dalam hidupmu, karena orang baik akan memberimu kebahagiaan dan orang jahat memberimu pengalaman. Semua yang kamu temui dalam hidup ini, pasti memberimu makna. Nggak ada yang sia-sia,” istriku melanjutkan.
Situasi penuh haru yang dihiasi dengan pesan-pesan kehidupan untuk anak gadisku itu, mengakhiri pertemuan kami. Seiring terdengarnya suara adzan Dhuhur dari masjid di dalam kompleks rutan. Setelah berpelukan, kami pun berpisah.
Dari depan pos penjagaan depan, aku pandangi langkah istriku Laksmi dan anak gadisku Bulan menuju pintu gerbang untuk masuk ke ruang P-2-O, sebelum akhirnya keluar pintu gerbang utama rumah tahanan. Meski wajah kedua wanita kebanggaanku itu tampak ceria, namun aku tahu pasti; batinnya menyimpan derita.
Sambil menarik napas dalam-dalam, aku pun berucap di dalam hati: “Gusti Pengeran, kulo pasrahaken bojo lan anak kulo!” Ya, aku hanya bisa sepenuhnya memasrahkan keduanya kepada Sing Gawe Urip. Gusti Allah.
Setelah melapor ke pos penjagaan, dan meletakkan selembar uang ke dalam kotak sebagai tanda kesepahaman, aku pun masuk ke area steril. Kawasan khusus penahanan.
Sesampai di pos penjagaan dalam, kembali aku melapor. Seorang sipir mempertanyakan, mengapa aku tidak membawa kiriman dari istri dan anakku yang melakukan kunjungan. Saat itu, aku memang berjalan tanpa membawa apapun. Kecuali, satu bungkus rokok dan korek ditanganku.
“Tadi sudah dianter tamping ke kamar, pak,” jelasku kepada sipir tersebut.
“O gitu, ya sudah. Cuma tetep ada kan bagian untuk pos ini,” sahutnya dan memberi kode.
Aku pun merogoh kantong celana pendekku. Dan mengeluarkan uang Rp 5.000, menaruhkan di dalam kotak yang memang disediakan di pos tersebut.
“Terimakasih atas partisipasinya,” ujar sipir itu, sambil memandangku. Tanpa ekspresi.
Aku hanya menganggukkan kepala dan melepas senyum kecil, selanjutnya berjalan keluar pos dan menuju ke kamar.
“Om, ini bawaan tante tadi. Mau dipilah sekarang, apa nanti,” kata Rudy, begitu aku masuk kamar, sambil menunjuk dua kantong plastik berisi makanan dan pakaian.
“Ya pilah aja, Rud. Atur sama kamu. Pakaian yang baru dikirim, taruhnya di bagian bawah. Jadi muter yang om pakai,” ucapku.
Dan setelah melaksanakan solat Dhuhur di kamar, aku merebahkan badan. Sambil menulis pada buku harian. Tidak tahu kapan mulainya, ternyata aku tidur. Hingga suara adzan Ashar menggema, Rudy membangunkan.
Seusai asharan di masjid, aku ke kantin. Ingin menikmati bakso uratnya. Yang memang cukup enak. Begitu aku masuk area kantin, ternyata Aris, Dika, dan Asnawi ada disana. Aku pun bergabung dengan mereka. Duduk di bangku panjang.
“Tumben makan bakso, be?” tanya Aris.
“Kamu aja yang baru lihat, Ris. Aku sering makan bakso disini. Bakso uratnya emang enak. Wajar kalau harganya mahal,” sahutku.
“Emang mahal ya, be?” Asnawi menyela.
“Yah, lumayan mahallah. Rp 40.000 satu porsi. Mana ada diluaran bakso seharga itu dengan lima butir bakso kayak gini,” jelasku, seraya tersenyum.
Aris, Dika, dan Asnawi yang petang itu menikmati mie ayam, tampak manggut-manggut. Mengangguk-anggukkan kepalanya.
“O iya, be. Ngomong-ngomong, itu si Yan pengen bener nemuin babe. Mau minta maaf katanya,” ujar Aris, beberapa saat kemudian.
“Kasih tahu aja sama dia, aku sudah maafin. Jadi, nggak usah repot-repot mau nemuin aku,” kataku.
“Tapi kurang afdhollah bang, kalau nggak ketemu dan salaman dulu,” ucap Dika, menyela.
“Nggak usah kebanyakan basa-basi hidup di penjara ini, Dika. Yang penting itu hati kita. Bersihin aja hati kita dari berbagai penyakit. Mulai dari dendam, iri dengki, dan sebagainya itu,” sahutku, dengan cepat.
Tiba-tiba pak Hadi datang. Membawa mangkuk berisi bakso urat, pria seumuranku itu langsung duduk di tempat kami. Ia tahu persis, kami akan menyambutnya dengan baik. Karena selama ini, pria lowprofile tersebut memang dikenal sebagai orang baik.
Setelah menaruhkan mangkuknya di atas meja, ia menyalami kami satu demi satu, sambil menebar senyum ketulusannya.
“Ikutan duduk disini ya. Makan bareng kawan-kawan baik hati kayak gini, pasti lebih nikmat rasanya,” kata pak Hadi, dengan terus tersenyum.
“Kami yang seneng pak Hadi mau gabung dengan kami,” sahut Dika, juga dengan tersenyum.
“Alhamdulillah. Berarti kita sama-sama seneng ya. Inilah yang aku cari. Kehadiranku bisa buat seneng, bukan senep,” sambung pak Hadi, masih dengan menebar senyuman.
“Makan sambil ngobrol, nggak apa-apa ya, pak. Aku pengen tahu rahasianya. Kenapa pak Hadi kalau main catur kayaknya lebih ngejaga pion jangan sampai dimakan lawan, dibanding benteng atau menteri sekalipun,” kataku, beberapa saat kemudian.
“Wuih, ternyata pak Mario ini cermat ya ngelihat permainanku. Padahal baru dua kali nonton aku main catur,” jawab pak Hadi, seraya memulai menikmati bakso urat.
“Kebetulan aja ketemu sesuatu yang nurut aku agak aneh aja, pak. Makanya, pas ketemu, kepengen tanya langsung,” kataku lagi.
“Pemain catur itu punya trik-trik sendiri, pak. Dan biasanya, itu nggak lepas dari karakter pribadinya. Kalau aku emang punya prinsip, kita nggak harus sekuat menteri atau benteng. Cukup jadi pion aja, yang kecil, jalan perlahan tapi nggak pernah mundur,” pak Hadi mengurai.
Kami semua menganggukkan kepala. Mencoba memahami rahasia yang tersimpan di dalam gaya permainan catur pak Hadi. Yang dikenal sangat piawai dalam menggerakkan bidak-bidaknya.
“Penuh makna ternyata gerakan rahasia catur pak Hadi selama ini. Angkat topi aku, bos,” ujar Dika dan spontan memberi hormat kepada pak Hadi.
“Nah, pion itu emang kecil, jalannya sekotak demi sekotak, perlahan tapi nggak pernah mundur. Itu filosofi yang sangat dalem, pak,” kata Aris, menimpali.
Pak Hadi hanya tersenyum. Pria yang dikenal sebagai usahawan tanaman kopi berpengalaman ini, memang sangat kalem. Bahkan, di saat berkumpul dengan sesama tahanan yang terlibat perbincangan seseru apapun, ia lebih banyak menjadi pendengar ketimbang pembicara.
“Jadi, sebenernya, karakter pak Hadi itu sama dengan pion itu ya?” tanya Asnawi.
“Inshaallah, menuju ke sana. Justru pion itu motivatorku,” sahut pak Hadi, pendek.
“Coba pak Hadi urai sih, gimana pion bisa punya nilai buat kita-kita ini,” ujar Dika, tampak ada rasa penasaran pada diri anak muda tersebut.
“Apa ya? Sederhananya ginilah. Kita ini kan makhluk, jadi ya kecil itulah. Kita nggak ada di dunia ini kalau Sang Pencipta nggak ciptain kita. Nah, kalau kita sudah sadar diri bahwa kita ini kecil, ya jangan ngerasa besar. Jangan sombong. Karena sehebat apapun kita, tetep kecil itulah sebenernya hakekat kita ini,” tutur pak Hadi, dengan nada serius.
“Oke, terus gimana, pak?” Dika menyela.
“Dengan penyadaran kekecilan diri itu, kita harus mendekat sama yang besar. Siapa itu? Ya yang ciptain kita. Caranya gimana? Perbanyak doa, zikir, solat, merenung, muhasabah, dan tentu perbaiki hati agar kita terus sadar akan kekecilan kita itu. ya, faktanya kita ini cuma pion. Yang kecil, jalannya pelan tapi nggak kenal mundur,” lanjut pak Hadi. Kali ini, kembali senyum semringah ia tunjukkan. (bersambung)

