-->
Cari Berita

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 236)

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Rabu, 24 Agustus 2022


Oleh, Dalem Tehang


KITA yang masuk penjara gini, kan emang dianggep kecil juga sama orang-orang diluaran sana, pak,” ujar Asnawi, seraya menatap pak Hadi.


“Biar aja orang menilai apa, mereka punya hak. Kita nggak usah hirauin itu semua. Yang penting, pahami bener kalau kita disini buat ngenalin diri sendiri dan terus perbaiki diri. Juga ngenali Rabbul Izzati dengan menahan nafsu kemakhlukan,” sahut pak Hadi, tersenyum.


“Yang penting, kita tetep bisa tenang hati, gitukan, pak,” Aris menyela.


“Iya, itu yang harus bisa kita wujudin. Kalau kita jadi orang yang paling cepet bisa maafin dan lupain kesalahan orang lain, disitulah kita temuin kebahagiaan dan ketenangan hati. Tapi, kalau kita terus pelihara rasa dendam, iri, dengki, kesombongan, dan sebagainya, tinggal di istana juga, nggak bakal ketemu yang namanya ketenangan hati,” terang pak Hadi.


Pemberitahuan dari speaker pos penjagaan dalam bagi para tahanan untuk segera kembali ke kamar, terdengar dengan kencangnya. Setelah saling bersalaman, kami pun keluar kantin. Menuju sel masing-masing. 


Sesampai di kamar, aku langsung mandi sore. Memakai baju koko dan bersarung. Duduk di atas kasur. Membaca Alqur’an. Hingga suara adzan Maghrib terdengar. Rudy yang baru selesai belajar mengaji dengan pak Anas, menemaniku ke masjid. Kami bersepakat untuk meningkatkan ritme ibadah berjamaah. 


Selepas solat, aku berjalan terburu-buru kembali ke kamar. Rudy yang mengikuti langkahku dari belakang, tampak terheran.


“Kok ngebut bener jalannya, ada apa, om?” tanya Rudy.


“Nggak enak kalau sering-sering pas apel malem, kita belum di kamar, Rud,” sahutku, tetap dengan langkah cepat.


“Kan sipir juga tahu sih om, kalau kita lagi di masjid,” tanggap Rudy.


“Justru karena petugas tahu dan selama ini ngertiin kita, jangan terus buat kita keenakan dikasih pengertian, Rud. Teteplah usahain disiplin ikuti aturan, walau nggak selalu taat,” kataku.


Dan benar saja. Saat aku dan Rudy masuk ke dalam kamar, dua orang sipir didampingi seorang tamping yang bertugas melaksanakan apel malam, telah sampai di kamar 18. Dua kamar lagi sebelum giliran kamarku.


“Gimana, om. Sehat ajakan,” sapa seorang sipir begitu berdiri di depan kamarku, melaksanakan apel malam.


“Alhamdulillah sehat. Saling doa ya, pak,” jawabku, dan menyalami sipir tersebut dari balik jeruji besi.


“Syukur kalau om terus sehat. Saling doa itu satu ibadah yang mulya,” kata sipir itu, dan tersenyum.


Rudy menyiapkan makan malam. Berlaukkan buatan istriku, nikmat sekali rasa malbi, tempe dan tahu gorengnya. Ditambah sambel goreng ati ampela. Dan karena istriku melengkapinya dengan empat bungkus nasi dari rumah, makan banyaklah aku dan Rudy.


Saat kami masih makan, seorang tamping berdiri di depan kamar. Dibalik jeruji. Tatapannya terpaku pada makanan kami. Ada gerakan di tenggorokannya. Air liur melewati lehernya. Pertanda adanya keinginan untuk menikmati makanan yang dilihatnya.


“Kamu mau makan?” tanyaku.


“Kalau ayah kasih, ya maulah. Aku emang belum makan sejak kemarin,” sahut tamping itu, dengan polosnya.


“Nggak mungkin dari kemarin belum makan, ngarang aja kamu,” ucap Rudy, menyela dengan cepat.


“Maksudnya makan nasi, Rudy. Kalau makan gorengan atau mie instan, iya aku sudah makan,” sahut tamping itu, dengan cepat.


Aku meminta Rudy mengambilkan piring. Dan mempersilahkan tamping itu mengambil sendiri makanan yang ia inginkan. Dengan gerak cepat, pria berusia 30 tahunan ini, mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa lauk yang ada di meja.


Begitu lahapnya tamping tersebut menikmati makan malamnya. Sambil duduk ndeprok di sudut ruang depan kamarku, tampak keringatnya mengucur. Karena demikian asyiknya ia menyantap makanan yang ada.


“Terimakasih banyak ya, ayah. Aku doain, rejeki ayah terus ngalir,” kata dia, setelah selesai makan.


“Jangan pergi dulu. Habis makan, tolong cuci piring yang kamu pakai tadi,” kata Rudy. 


Tamping itu tampak terkaget. Spontan ia menengokkan wajahnya ke arahku. Meminta pendapat. Aku hanya tersenyum. Pria tersebut memahami isyarat dari senyumanku. Ia langsung membawa piring bekas makannya ke kamar mandi, dan mencucinya hingga bersih.


Saat ia akan keluar kamar untuk kembali menjalankan tugas sebagai tamping pendamping sipir malam itu, aku memberinya sebatang rokok.


“Alhamdulillah. Mimpi apalah aku semalem, kok malem ini dapet rejeki banyak gini. Terimakasih, ayah. Terus sehat ya. Kalau badan ngerasa nggak enak, masuk angin atau kenapa-kenapa dan pengen pijet, panggil aja aku,” tutur tamping tersebut, dan kemudian keluar kamarku.


Setelah tamping muda tersebut pergi, Rudy bercerita. Pria itu merupakan putra satu-satunya seorang pengusaha rumah makan terkenal di kota ini. Namun, karena ia tersangkut kasus pencurian dengan pemberatan, orangtuanya tidak pernah mau mengunjungi sang anak. Sejak ditahan di polres, sampai saat ini menjalani hukumannya selama sembilan bulan.


“Jadi, dia itu termasuk AI, om. Anak ilang. Kasihan sebenernya. Dia kan biasa hidup mewah. Mau makan, tinggal ambil. Mau perlu apa-apa, duit ada. Mobil pribadinya aja ada dua. Satu buat dia kerja, ngawasi cabang-cabang rumah makan orangtunya, satunya lagi buat dia jalan-jalan,” ujar Rudy.


“Kenapa orangtuanya nggak pernah mau nengok anaknya, Rud?” tanyaku.


“Cerita dia, orangtuanya nggak bakal mau tahu kalau dia kena kasus pencurian atau narkoba. Kalau kasus-kasus lain, pasti diurus sampai selesai,” jelas Rudy.


“Kenapa gitu ya, Rud. Kalau kayak gini kan, kasihan juga sama anaknya. Lagian, kita semua penuh salah dan dosa, cuma beda pilihan aja,” tanggapku.


“Rudy nggak tahu alasannya, om. Dia nggak cerita. Yang Rudy tahu, masing-masing orangtua pasti punya prinsip buat ngedidik dan jaga anaknya,” kata Rudy.


“Emang dia pernah kena kasus sebelum yang sekarang ini, Rud?” tanyaku.


“Pernah, om. Cerita dia, beberapa tahun lalu, dia tersangkut kasus perkelahian sampai lawannya ninggal, orangtuanya ngurusin semuanya. Bahkan, dia nggak sampai disidang. Selesai di kantor polisi karena ada perdamaian,” lanjut Rudy.


Aku mendengarkan cerita Rudy sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala. Mencoba menambah pengalaman pola orangtua mendidik anaknya. Karena aku juga orangtua dan memiliki anak. (bersambung)

LIPSUS