Oleh, Dalem Tehang
“ASSALAMUALAIKUM. Wah, lagi pesta donat ini ya,” mendadak seorang sipir berdiri di dekat kami berbincang. Di kamarku. Bidang untuk aku, Dino dan Basri tidur.
“Malem, pak. Alhamdulillah, dapet rejeki dari bos. Duduk sini, pak. Ngopi sambil makan donat,” kataku, dan mempersilahkannya duduk di kasurku. Yang memang lebar dan besar.
Setelah melepas sepatu larasnya, sipir bernama Irfan itu, duduk di kasurku. Pun sang bupati, bergeser dari tepian lantai, naik ke kasurku. Rudy bergerak. Memanaskan air untuk membuat kopi bagi sipir Irfan, juga bos besar.
“Jadi, dalam rangka apa ini syukuran makan donatnya?” tanya sipir Irfan, sambil mengunyah makanan ringan dengan khas berlubang ditengahnya itu.
“Ini bos, kan sudah vonis. Dari semula yang infonya bakal kena sembilan tahun, jadi enam tahun. Wujud rasa syukurnya, kirim donat ke semua kamar,” jelasku.
“Alhamdulillah. Selamat ya, bos. Jarang-jarang terjadi ada pengurangan vonis sampai sepertiga begitu. Pengacara bos pasti jago mainnya,” tanggap sipir Irfan.
“Memang pengacaraku jago. Bahkan dikenal sebagai pengacara tanpa sidang. Nyelesaiin perkara tanpa dia pernah dateng ke persidangan. Cukup kirim timnya aja buat ikuti prosesnya. Dia main dibalik layar,” ujar sang bupati, apa adanya.
“Itu yang bener, bos. Nggak salah pilih pengacara berarti bos selama ini. Karena kasus yang sudah masuk pengadilan, ditentuin oleh dua hal aja. Uang atau kekuasaan. Ini bukan rahasia lagi, tapi emang begitulah penegakan dan keputusan hukum di negeri kita,” tutur sipir Irfan.
“Jadi, kalau nggak pakai uang atau kekuasaan, bakal nyungsep itulah ya, pak,” kataku, menyela.
“Iya, bakal kena vonis maksimal dari ancaman hukuman kasusnya itulah, om. Apa yang selama ini disebut sebagai penegakan hukum, telah bergeser ke industri hukum. Harus jelas timbal-baliknya. Kalau kasus sudah di persidangan, dan kosong-kosong aja, pasti kena vonis tinggi itulah,” lanjut sipir Irfan dengan bersemangat.
“Kan ada pembelaan juga dari terdakwa maupun pengacara, pak? Apa itu nggak jadi pertimbangan hakim,” kataku lagi. Penasaran.
“Kalau itu, emang sudah ada aturannya, om. Tata-titih formalnya ya harus dijalanin. Tapi, pembelaan apapun itu, nggak bawa pengaruh apa-apa kalau kosong-kosong aja. Intinya, ya hanya dua tadi; uang atau kekuasaan,” jelas sipir Irfan.
“Jadi, kalau main uang atau gunakan kekuasaan, baru kita bisa berharap dapet vonis yang ringan, gitu ya, pak,” kata Rudy, menimpali.
“Iya, gitulah kenyataannya. Jadi, nggak usah ribet-ribet siapin pengacara hebat atau sejago apapun. Kalau nggak dibekali uang atau gunakan kekuasaan yang bisa mem-pressure majelis hakim, bakal nggak berguna juga,” sambung sipir Irfan.
“Tapi, nggak semua hakim bermain kasar gitu juga kan, pak,” kataku, menimpali.
“Memang nggak semualah, om. Tapi kebanyakan, dan itu juga satu gerakan. Mulai dari jaksa sampai ke hakim. Jadi dua lubang itu satu siraman,” tambah sipir Irfan.
Seorang sipir lain, masuk ke kamarku. Tanpa basa-basi, pria berusia sekitar 50 tahun itu, langsung menggerakkan tangannya, mengambil kue donat yang ada di piring, di tengah-tengah kami duduk melingkar di atas kasurku. Dan, memakannya dengan lahap.
Aku melihat wajah Bos berubah. Memerah. Menggelegak amarahnya. Ekspresi tidak menyukai perilaku sipir yang baru saja masuk ke kamarku. Tidak mengenal unggah-ungguh.
“Mau donat?” tanya bos, sambil menatap wajah sipir tersebut dengan penuh amarah terpendam.
“Ya maulah. Enak gini,” sahut sipir itu, enteng.
Bos memerintahkan Rudy ke kamarnya. Kamar 25. Mengambil satu kotak kue donat yang ada di lemari makannya. Tidak berselang lama, Rudy kembali ke kamar. Membawa satu kotak berisi 12 potong donat.
“Ini donatnya. Dengan hormat, aku minta Anda langsung keluar. Silahkan makan diluar atau dimana saja,” kata sang bupati, sambil memberikan satu kotak berisi kue donat ke tangan sipir yang baru datang tersebut.
Dengan gaya cuek, sipir itu menerima kotak donat, dan tanpa bicara apapun langsung keluar kamarku. Setelah ia pergi, tampak Bos menarik napasnya dalam-dalam. Kembali menetralkan darahnya yang sontak menaik karena perilaku sipir setengah baya itu.
“Maaf, bos. Kawan satu itu emang cuek gitu. Semaunya kesannya,” ujar sipir Irfan, mencoba mengembalikan suasana perbincangan kami dengan baik.
“Kalau itu bukan cuek, pak. Tapi nggak beradab. Nggak punya sopan santun. Orang kayak gitu, nggak pantes jadi sipir. Pantesnya bersihin gorong-gorong depan rutan yang selalu mampet itu,” tanggap bos dengan nada tinggi.
Sipir Irfan, aku, dan Rudy hanya diam. Kami sangat memahami kemarahan sang bupati. Aku pun sebenarnya tersinggung berat dengan cara sipir setengah baya itu. Namun, sebagai penghuni rutan, kami tidak mungkin melakukan perlawanan secara terbuka.
“Gimana, bang. Kita diem aja dengan perbuatan nggak beradab sipir tadi, atau lakuin sesuatu,” sang bos mendadak bicara sambil menatapku dengan tajam.
“Nanti kita lakuin sesuatu, bos. Sabar aja, nunggu waktu yang pas,” sahutku, menenangkan bos.
“Aku inget omongan begini: kalau singa nggak keluar dari sarangnya, jangan salahin penduduk hutan ngangkat monyet jadi rajanya, dan kalau rajawali nggak mau kepakin sayapnya di udara, jangan salahin cakrawala nganggep gagak sebagai penguasanya. Bang Mario pahamkan maksudnya,” lanjut bos, masih dengan kegeraman.
“Paham, bos. Nanti kita cari waktu yang pas buat kasih pelajarannya,” tanggapku dengan nada santai.
Melihat situasi sudah tidak bisa kembali seperti semula, sipir Irfan berpamitan. Ia merasa risih sendiri. Dan ia tahu persis, kami tersinggung dengan cara sipir kawannya tadi.
Setelah sipir Irfan pergi, bos mengajakku duduk di taman depan kamar. Rudy mengangkat piring berisi kue donat dan minuman kopi kami. Menaruhkan di meja taman.
“Maaf, kalau caraku nggak pas sama gaya abang. Jujur, aku tersinggung berat sama bawaan sipir tadi. Ngomong nggak, apa-apa nggak, main ambil aja donat di depan kita ngobrol. Kayak nggak ada orang aja di mata dia,” ujar bos, setelah kami duduk santai di taman depan kamarku.
“Aku paham kok, bos. Aku juga tersinggung sama sipir tadi. Kalau nggak pakaian dinas, pasti aku tampar,” kataku.
“Bener juga ya, bang. Sebenernya, kita masih ngehargai laku dia tadi, karena dia lagi dinas dan pakai baju dinas aja ya,” lanjut bos, sambil tersenyum kecut.
“Tenggang rasa kita disini, lebih karena ngehargai formalitas posisi aja, bos. Bisa dihitung sama jari, siapa sipir yang tetep nempatin kita sebagai manusia seperti mereka. Kan gitu faktanya. Tapi, ya inilah lelakon hidup yang mesti kita tapaki saat ini, bos. Dibawa sabar, tenang, dan ikhlas ajalah,” ucapku, menyahuti perkataan sang bupati.
“Sampai kapan kita bisa sabar, kalau ngadepin perilaku kayak sipir tadi, bang,” kata bos, menyela dengan cepat.
“Kata orang, sabar kan nggak ada batasnya, bos. Jadi, ya jalan-jalani ajalah. Kalau kata anak gadisku, Bulan: sabar itu subur, subur itu makmur,” kataku lagi, dan tersenyum.
Sang bupati pun tersenyum. Perlahan, kegeramannya meredup. Berganti dengan keceriaan kembali. Begitu cepatnya guliran keadaan. Suka dan duka, legowo dan emosi, taat dan alpa, bergantian tanpa terpaku pada ketetapan waktu. (bersambung)
