-->
Cari Berita

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 269)

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Senin, 26 September 2022


Oleh, Dalem Tehang


TIDAK berselang lama, telepon berpindah lagi ke istriku. Banyak hal yang ia ceritakan. Meski mayoritas menyingkap masalah, namun ia mengemasnya dengan ringan. Sehingga tidak menambah beban pikiranku. 


“Ayah nggak usah khawatirin kami. Yakin aja, kami kuat jalani apapun kondisi hidup ini. Ada Allah yang terus jagain kami,” ucap istriku Laksmi, dengan tenang.


“Terimakasih ya, bunda. Emang berat ngadepin kenyataan ini, tapi ya inilah hidup kita sekarang. Beruntung Allah sayang sama kita. Hidayah-Nya hadir di saat kita memang bener-bener butuhinnya,” tanggapku.


Setelah sekitar satu jam, kami pun mengakhiri perbincangan ringan malam itu. Selanjutnya, aku mematikan telepon seluler, dan menyimpannya kembali di balik rak kecil memanjang yang menempel pada dinding kamar. 


“Terimakasih, Rud. Sekarang kamu istirahat aja. Sudah minum obat malemnya kan,” kataku kepada Rudy yang masih duduk anteng di kursi ruang depan, memantau situasi selama aku teleponan.


“Oke, om. Obatnya tadi sudah Rudy minum kok. Om jangan tidur malem-malem juga, besok kan mau sidang,” ujar Rudy, dan bergerak. Menyiapkan kasur tipisnya, beberapa saat kemudian merebahkan badannya.


Aku keluar kamar. Duduk di kursi taman. Terdengar suara denting gitar dari kamar 18. Juga suara yang menyertainya. Begitu merdu. Aku sangat mengenal suara itu. Suara Heru. Tergerak hatiku untuk melihat langsung acara hiburan tersebut.


Aku berdiri di balik jeruji depan kamar 18. Menikmati musik dan nyanyian merdu Heru. Beberapa penghuni kamar yang melihatku, menyapa dengan menganggukkan kepalanya. 


Sementara, Heru yang duduk membelakangi jeruji besi, tidak mengetahui bila aku ikut mendengarkan ia bersenandung. Sampai kemudian, salah seorang penghuni kamar 18 memberi isyarat kepada napi kasus penipuan elektronik tersebut.


“Wuih, bang Mario mah diem-diem aja disitu. Kalau pengen dengerin kami nyanyi, masuk aja. Kalau nggak, ya keluarin kami dari kamar. Puluhan lagu juga siap kami nyanyiin. Asal ada isinya,” kata Heru, dengan panjang lebar.


“Enak dengerin kamu nyanyi dari sini aja, Ru. Lebih seru,” jawabku, sambil mengacungkan jempol buat Heru dan pemain gitarnya.


“Abang mau pesen lagu apa. Bilang aja. Tapi, empat lagu sebungkus rokok,” ujar Heru, seraya tersenyum lebar.


Tiba-tiba, semua penghuni kamar 18 bertepuk tangan dengan ceria. Memintaku memesan lagu, dengan harapan mendapat satu bungkus rokok. Yang bisa dinikmati bersama-sama. 


“Ya sudah, aku pesen lagu. Tapi satu aja. Tetep nanti ada rokoknya, sebungkus. Tiga lagu lainnya, terserah Heru,” kataku.


“Siap kalau gitu, bang. Apa lagu pesenan abang?” tanya Heru, dengan cepat.


“Tuhan jagakan dia,” ucapku, dengan tegas.


“Nah, dalem lagu pesenan abang ini. Oke, ayo kita nyanyi bareng-bareng. Kawan-kawan kan banyak yang hapal syairnya juga,” sahut Heru.


Dan beberapa saat kemudian, tembang bertajuk “Tuhan Jagakan Dia” pun, mengalun merdu. Heru dan kawan-kawannya begitu piawai masuk dalam uraian syairnya. Menjadikan lagu tersebut kian indah dan penuh ekspresi suara hati.


Aku terus tersenyum dan menggerak-gerakkan kepala selama lagu itu dinyanyikan. Bahagia, haru, dan optimisme menyatu di khalwat batinku yang terdalam. 


“Mantap kan, bang. Heru juga sebenernya suka sama lagu itu, cuma jarang dinyanyiin. Tapi pas abang pesen, baru Heru sadari, gitu dalem makna di balik syair-syairnya. Nggak nyangka, ternyata abang ini orangnya romantis dan melankolis,” ujar Heru, seusai menyanyikan lagu “Tuhan Jagakan Dia” dengan apiknya.


“Ah, banyak omong kamu, Heru. Itu emang lagu favoritku. Ada kenangan indah tersendiri buatku dan keluarga. Masih tiga lagi lagunya ya. Terserah pilih aja,” tanggapku.


“Gimana kalau lagu selanjutnya Pergi Pagi Pulang Pagi, Jangan Sampai Tiga kali, dan Jangan Simpan Tangismu, bang,” ujar Heru, setelah berpikir beberapa saat.


“Kan emang sudah ku serahin sama kamu, terserah nyanyi apa aja. Yang penting, kita semua terhibur,” tanggapku. 


Dengan tetap menyandarkan badan di jeruji besi bagian depan kamar 18, aku menikmati lagu demi lagu yang dinyanyikan Heru dan kawan-kawannya. Meski hanya ditemani petikan gitar, namun kesyahduannya cukup maksimal. Ditambah sesekali ditingkahi dengan tepukan dari galon air mineral yang dijadikan gendang.  


Tiba-tiba bahuku ada yang menepuk. Spontan aku menengok. Ternyata sipir Almika.


“Serius amat dengerin musiknya, om,” ujar Almika, dan langsung berdiri di sampingku. Juga ikut mendengarkan nyanyian Heru.


“Cari hiburan aja, Mika. Nggak nyangka, Heru sama kawan-kawan disini rupanya jago nyanyi,” kataku.


Almika membuka kantong baju dinasnya. Ia memberikan dua bungkus rokok ke tanganku.


“Masyaallah. Kamu ini terus-terusan kasih om rokok lo, Mika. Kok jadi kayak setoran aja,” kataku, sambil tersenyum.


“Tadi dikasih kepala kamar di Blok C, om. Dia kasih empat bungkus, ya kita berbagi aja. Kan soal rejeki, kata om, emang sudah ada yang ngatur,” sahut Almika, juga sambil tersenyum.


“Inilah hebatnya Allah ngatur urusan dunia ini ya, Mika. Om kan pesen empat lagu sama Heru dan kawan-kawan. Bayarannya, sebungkus rokok. Eh, pas lagu keempat mau berakhir, kamu dateng kasih rokok. Jadi izin ini, yang sebungkus om kasih ke Heru dan kawan-kawan,” ujarku, mengurai.


“O gitu. Ya sudah, om. Kasih aja ke mereka. Emang sudah gitu alur rokok ini berarti. Kita tetep syukuri aja,” jawab Almika, dengan santai.


Setelah lagu terakhir dinyanyikan, Heru berdiri dari tempat duduknya. Ia tampak terkejut saat melihat sipir Almika ada di depan kamar bersamaku.


“Maaf, dan. Kami nyanyi agak banyak dan kenceng, karena pesenan bang Mario,” kata Heru, yang spontan berjalan ke jeruji besi dan menyalami Almika dengan kedua tangannya. Penuh hormat.


“Nggak apa-apa. Aku juga seneng dengernya kok. Yang penting, kalau kawan-kawan kamar lain sudah pada tidur, jangan teriak-teriak aja nyanyinya. Tetep jaga ketenangan blok ini,” tanggap sipir Almika, dengan bijak.


“Siap, dan. Habis ini juga kami istirahat kok. Paling yang belum bisa tidur ngelanjut main catur atau kartu,” ujar Heru.


Sebungkus rokok dari pemberian Almika, aku serahkan ke tangan Heru. Wajah pria berbadan subur ini pun sontak penuh kebahagiaan.


“Alhamdulillah. Kami semua ada 12 orang, sebungkus rokok ini isinya 12 juga. Jadi pas berbaginya. Semua kebagian. Terimakasih ya, bang. Kapan aja abang pengen denger lagu-lagu kenangan, bilang aja. Kami siap ngehibur abang,” urai Heru, seraya tersenyum lepas.   


Sambil mengacungkan jempol, aku bergerak meninggalkan kamar 18. Bersama sipir Almika. Sesampai di depan kamarku, Almika mengajak duduk di kursi taman. 


“Infonya, besok om sidang lagi ya?” tanya Almika setelah kami duduk berhadapan di taman depan kamar. 


“Iya, besok lawyer om sampein eksepsi. Doain aja semuanya lancar ya, Mika,” jawabku.


“Om main nggak?” tanya dia lagi.


“Maksudnya?” kataku, balik bertanya.


“Ada pendekatan ke jaksa atau hakim misalnya,” lanjut Almika.


“Nggak, Mika. Emang sih, ada jaksa yang deketin tantenya. Ngajak ketemulah, inilah, itulah. Bahkan, ada suatu pertemuan yang direkam sama adek Laksa. Tapi, setelah om pikir-pikir, baikan ikutin alurnya ajalah,” jelasku, dengan santai.


“Kalau ada peluang buat main, sebaiknya dimanfaatin, om. Ini saran aja,” tanggap Almika dengan serius.


“Terimakasih sarannya ya, Mika. Nanti om obrolin dulu sama tantenya. Tapi kalau om pribadi, milih ikuti alurnya aja. Sebab, mau dibolak-balik kayak mana juga, kalau Allah berkehendak, apalah daya seorang makhluk. Jadi, om pasrahin sama takdir aja,” uraiku, tetap dengan santai. 


“Apapun keputusan om sama tante nantinya, Mika dukung. Cuma Mika pesen, jadiin ujian ini sebagai anugerah buat om, yang bisa merubah ruang gelap jadi indah,” ucap sipir muda itu, penuh dengan ketulusan.


Spontan, ku pegang erat tangan Almika. Mengekspresikan besarnya dukungan batin yang aku rasakan dari perkataannya. Yang tampak sederhana, namun menyimpan kedalaman makna. (bersambung)

LIPSUS