-->
Cari Berita

Breaking News

Balada Seorang Narapidana (Bagian 298)

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Selasa, 25 Oktober 2022


Oleh, Dalem Tehang


TELAPAK kakiku ditepuk pelan oleh Rudy. Aku pun terbangun dari tidur lelap. Yang tetap tanpa mimpi. 


“Sudah subuh, om. Ayo, kita ke masjid,” kata Rudy, yang telah memakai kain sarung dan kopiah.


Seusai berwudhu dan mengambil kain sarung serta kupluk, aku keluar kamar. Berjalan bersama Rudy menuju masjid. Bersamaan dengan itu, tampak Bos Besar alias sang bupati, juga sedang melangkahkan kakinya dengan pelan ke rumah Allah.


“Assalamualaikum, bos,” kataku, menyapa Bos Besar Blok B.


“Waalaikum salam. Abang sudah sehat ya. Alhamdulillah. Semalem ada hiburan, kok nggak ngajak-ngajak sih, bang. Lain kali, mbok ya aku diajak. Pengen jugalah nikmati suasana malem mingguan kayak gitu,” ucap sang bupati berusia 40 tahunan itu, saat kami bersalaman.


“Alhamdulillah, aku sudah sehat, bos. Iya, semalem kok nggak kepikir ngajak bos ya. Maaf ya, bos. Inshaallah, kalau lain kali ada acara hiburan, aku ajak bos,” sahutku, seraya menundukkan wajah. Mengaku salah.


Selepas melaksanakan solat sunah qobla subuh, ustadz Umar langsung mengimami solat wajib. Kali ini suaranya tampak beda. Penuh dengan kesedihan. Ayat yang dibacanya pun relatif panjang. Surah Ar-Rahman, pada rokaat pertama, dilanjutkan pada rokaat kedua, hingga selesai.


Bahkan, saat membaca qunut, ada tangisan di sela-sela suara sedihnya. Beberapa kali ia terbata-bata. Ketika sujud terakhir pun, cukup lama ia baru mengangkat kepalanya untuk kemudian takhiyat akhir.


Dan seperti biasa, selepas memimpin doa, ustadz Umar berdiri, menyampaikan tausiyahnya. Tampak wajah pria yang berprofesi sebagai dosen itu diliputi kemuraman. Sangat berbeda dari biasanya, yang selalu memancarkan sinar keceriaan. 


Ia memulai kultum dengan terus mengingatkan perlunya melaksanakan ibadah solat. Karena bersujud kepada Allah itu, merupakan amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti.


“Mari kita sama-sama muhasabah. Dalam sehari semalam, ada kewajiban kita solat sebanyak 17 rokaat. Dalam seminggu, ada 199 rokaat yang jadi kewajiban kita, dalam sebulan ada 510 rokaat. Dan setahun, kita wajib solat sebanyak 6.205 rokaat. Sudahkah semua itu kita lakukan? Jawab dengan hati nurani masing-masing,” tutur ustadz Umar dengan suara bergetar.


Dikatakan, bila ada seorang pendosa yang menasihati untuk menjadi lebih baik, bukan berarti dia tidak tahu diri. Melainkan dia tidak ingin orang lain berada di titik penyesalan seperti yang pernah dia alami.


“Sebaliknya, jangan pernah kita merasa lebih mulia, lebih penting, lebih berjasa maupun lebih baik. Karena semua itu merupakan amalan hati yang paling agung,” lanjut ustadz Umar.


Ia menambahkan, Buya Hamka pernah mengemukakan, jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang takut jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah melangkah.


“Karenanya, teruslah melangkah ke arah kebaikan dengan meninggalkan semua rasa takut. Meski kita tahu persis, dunia akan terlihat keras dan kejam di saat kita tidak punya apa-apa, apalagi terkungkung di dalam penjara seperti sekarang ini,” ustadz Umar melanjutkan.


Mengakhiri tausiyahnya, ustadz Umar menyatakan, semua orang bisa berkata sabar, namun tidak semua bisa merasakan sakitnya di dalam kesabaran. Karena luka itu tidak bersuara dan mengalir bersama air mata yang jatuh tanpa berbicara.


Bersamaan dengan ia menutup tausiyahnya, mendadak ustadz Umar jatuh. Pingsan. Puluhan anggota majelis taklim bergerak cepat mengangkat badan koordinator majelis taklim tersebut. Membawa ke teras samping masjid. 


Seorang anggota majelis taklim minta diambilkan air di dalam gelas. Dan setelah mendapatkan, ia tampak membaca sesuatu dan meniupkan ke air di dalam gelas yang ada di tangannya. Perlahan, ia masukkan air doa tersebut ke mulut ustadz Umar memakai sendok kecil. 


Beberapa saat kemudian, mata ustadz Umar terbuka. Ia tampak heran melihat ada banyak orang berkumpul di dekatnya.


“Maaf, ustadz. Tadi ustadz mendadak pingsan, jadi kami bawa ke teras ini. Alhamdulillah, sekarang sudah siuman,” ucap pria yang tadi memberikan air doa ke mulut ustadz Umar.


“Subhanallah. Kenapa bisa jadi gini ya. Baru sekali ini dalam hidup, aku pingsan,” kata ustadz Umar, sambil duduk dengan perlahan.


“Alhamdulillah, Allah melengkapi kehidupan ustadz dengan mengalami pingsan. Hal yang banyak dialami oleh orang lain,” sahut pria berpenampilan sederhana yang memberi air doa kepada ustadz Umar, dengan suara santai.


Mata ustadz Umar berkeliling. Memandangi puluhan anggota majelis taklim yang menjadi pasukannya. Seulas senyum ia tunjukkan. Untuk menenangkan. Dan tanpa dikomando, satu demi satu anggota majelis taklim itu menjauh dari posisi ustadz Umar.


Melihat ustadz Umar telah siuman, aku mengajak Rudy meninggalkan masjid. Sambil berjalan menuju kamar, Rudy menyampaikan berbagai dugaan mengenai penyebab jatuh pingsannya imam masjid rutan tersebut.


“Nggak usah ngeduga-duga, Rud. Nggak semua yang kita lihat, seterkejut apapun kita sama kejadiannya, perlu dikomentari,” kataku, mengingatkan Rudy.


“Iya juga ya, om. Malahan bisa-bisa Rudy ngeghibah nanti,” sahut Rudy, seraya tersenyum cengengesan.


“Nah, itu kamu tahu. Emang nggak mudah ngebuang kebiasaan yang nggak baik itu, Rud. Tapi, ya harus terus dilakuin. Nggak boleh nyerah. Apalagi, ustadz Umar itu imam masjid kita, sekaligus guru kita. Kalau pun ada aibnya, kewajiban kita buat nutupnya,” kataku lagi.


“Sepakat, om. Rudy pernah baca di sebuah buku, sebaiknya berteman itu sama orang yang jaga rahasia kita, nutup aib kita, nyebarin kebaikan kita, dan mau ngoreksi kesalahan kita,” tutur Rudy.


“Kalau kita nggak ketemu orang dengan kriteria semacam itu kayak mana, Rud? Apa iya, kita nggak berteman sama siapa pun,” tanggapku dengan cepat.


“Di buku itu ditulis, kalau kamu nggak dapet teman seperti itu, ya nggak usah berteman, kecuali sama diri kita sendiri,” terang Rudy, dengan wajah serius. 


Mendengar penjelasan Rudy, aku hanya terdiam. Begitu penuh pesan perkataan yang ia sampaikan hasil dari keaktifannya membaca berbagai buku selama ini. Benarlah kata banyak orang, buku adalah jendela dunia. 


“Om sudah mau minum kopi pahit apa belum?” tanya Rudy, setelah kami sampai di kamar.


“Boleh juga dibuatin, Rud. Tapi setengah cangkir aja ya. Buatin juga bubur instan, ditambah mie goreng. Biar sekalian sarapan, lanjut minum obat,” kataku.


“Kalau sudah banyak pesenan gini, berarti om mulai bener-bener sehat. Seneng Rudy,” sahut Rudy, seraya tertawa.


Dan setelah menikmati sarapan serta meminum obat, aku keluar kamar. Berjalan ke pos penjagaan dalam. Setibanya di sana, komandan pengamanan rutan tengah duduk santai sambil menikmati segelas kopi ditemani beberapa panganan gorengan. (bersambung)

LIPSUS