Oleh, Dalem Tehang
“SEHAT terus ya, pak. Jangan sakit dong. Prihatin saya begitu denger pak Mario kena sakit,” ujar komandan pengamanan, sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, sudah sehat, dan. Sakit itu kan bagian lain dari sehat, jadi ya harus tetep dinikmati,” kataku, juga sambil tersenyum.
“O iya, tadi pak Mario ikut jamaah solat subuh kan. Tahu ya, waktu ustadz Umar pingsan,” ucap komandan pengamanan.
“Iya, tahu, dan. Kaget aja begitu ngelihat beliau mendadak jatuh setelah taruh mike. Untung ada anggota majelis taklim yang bisa ngobati dengan cepat,” jawabku.
“Kasihan dan prihatin saya dengan nasib ustadz Umar. Beliau itu sebenernya orang baik. Cuma lagi dapet ujian aja, makanya ada disini. Tapi memang nggak nyangka juga, kalau beliau langsung drop berat begitu dapet kabar nggak enak soal profesinya,” komandan pengamanan rutan membeberkan.
“Memangnya kenapa dengan beliau, dan?” tanyaku, penasaran.
“Tadi malam, istrinya telepon ke hp saya. Dia ingin bicara dengan ustadz Umar. Ngobrollah mereka, sekitar 20 menit. Setelah itu, beliau kelihatan menangis. Bahkan, badannya bergetar seperti kena demam gitu,” kata komandan pengamanan rutan.
“Ada apa ya, dan?” tanyaku lagi. Semakin penasaran.
“Istrinya menyampaikan kalau sore kemarin, datang surat pemberhentian beliau sebagai dosen. Itulah yang akhirnya membuat beliau drop berat hingga pingsan tadi, pak,” jelas dia.
“Subhanallah. Seberat itu ya ujian yang dialami ustadz Umar. Wajar kalau beliau kelihatan sangat sedih, dan akhirnya pingsan karena tak kuat kendaliin dirinya,” ucapku, dengan nada prihatin.
“Yah, masing-masing kita memang punya ujian ya, pak. Dan kadarnya sesuai dengan tingkat keimanan kita. Karena ustadz Umar seorang yang taat beribadah, ujiannya juga nggak tanggung-tanggung. Di saat masih menjalani hukuman di penjara begini, malah dipecat dari pekerjaannya,” tutur komandan pengamanan rutan.
“Kalau kita yang ngalami ujian seperti itu, bisa-bisa pingsan dan nggak sadar-sadar lagi ya, dan,” ucapku, menyela.
“Ya, bisa kejadian seperti itu, pak. Walau memang dikatakan kalau Tuhan nggak bakal kasih ujian di atas kemampuan kita ngatasinya, tapi kenyataannya tetep aja bakal buat kita kelimpungan nggak karuan. Benerlah kata orang bijak, teteplah bersyukur dalam kondisi apapun, karena dengan itu kita akan terus dientengkan jalani kehidupan yang memang ditakdirkan penuh dengan ujian,” lanjut komandan pengamanan rutan.
Setelah berbincang beberapa saat, aku meminta izin untuk melakukan jogging. Mengitari lapangan sepakbola yang ada di samping pos penjagaan dalam.
“Silakan, pak. Tapi karena baru sehat, sebaiknya ya jalan pelan aja dan nggak usah banyak-banyak pula kelilingi lapangan. Beda kalau nanti sudah bener-bener fit lagi,” ucap komandan pengamanan, seraya tersenyum.
“Siap, dan. Sekadar panasin badan aja kok,” sahutku, dan memulai langkah memasuki kawasan tepian lapangan sepakbola.
Pagi itu, matahari begitu ceria dengan sorotnya. Memercikkan sinar ke semua sudut dunia. Namun, suasana di lapangan sepi dari tahanan yang biasa melakukan jogging. Bahkan, aku hanya berolahraga sendirian.
Tersadarlah aku ketika telah tiga kali mengelilingi lapangan. Jika hari Minggu, memang baru menjelang tengah hari, kamar-kamar dibuka. Pada setiap blok, hanya beberapa kamar yang berkriteria “sel terbuka” saja yang tetap bebas bagi penghuninya keluar-masuk. Itu pun dibatasi dengan digemboknya pintu keluar blok. Sehingga, meski bisa keluar kamar, namun tetap berada di seputaran blok masing-masing untuk beraktivitas.
Setelah lima kali putaran, aku menghentikan kegiatan jogging. Kembali ke kamar. Mengambil air mineral botol dan duduk ngaso di taman depan kamar. Rudy menaruhkan roti di atas meja.
“Om, infonya ustadz Umar sampai pingsan itu, karena dia dipecat dari dosen di tempat kerjanya selama ini,” kata Rudy dengan suara pelan, seraya duduk di kursi taman tepat di sampingku.
“Kamu kata siapa, Rud?” tanyaku, dengan nada terkejut. Tidak menduga bila cerita mengenai ustadz Umar telah menyebar.
“Kata tamping jaga malam, om. Dia bilang, semalem istri ustadz Umar telepon dan kasih tahu kalau ustadz sudah diberhentiin sebagai dosen di perguruan tinggi tempatnya ngajar,” lanjut Rudy.
Apa yang disampaikan Rudy, yang ia dapat dari tamping jaga malam, sama persis dengan yang diceritakan komandan pengamanan kepadaku, beberapa saat yang lalu.
“Banyak yang denger ya waktu tamping itu cerita?” tanyaku lagi.
“Banyaklah, om. Dia kan ngomongnya pas kawan-kawan tamping kebersihan lagi istirahat, sambil ngopi bareng tadi disini,” jawab Rudy.
“Ya sudah kalau kamu sudah tahu, Rud. Nggak perlu kamu ceritain lagi soal ustadz Umar ini ke orang lain. Cukup tahu dan simpen aja buatmu dan aku,” ucapku kemudian.
“Siap, om. Tapi biasanya, jarum jatuh aja, semua penghuni rutan pasti tahu lo, om,” kata Rudy, menyela.
“Ya biar aja, yang penting jangan dari mulut kamu, Rud,” kataku, tegas.
“Iyalah, om. Nggak mungkin juga Rudy comel, cerita sana-sini. Seperti kata om, ustadz Umar itu guru kita, jadi harus kita jaga apapun yang jadi aibnya,” tanggap Rudy, sambil tersenyum.
Tiba-tiba datang Danil. Menyelempangkan kain sarung di pundaknya, dan berkopiah dengan posisi miring, pria yang telah beberapa kali keluar-masuk bui itu, langsung menyalamiku dan Rudy. Setelahnya, duduk di depanku. Wajahnya kaku. Ada kegalauan pada jiwanya.
“Kamu kenapa tegang gitu, Danil? Coba dulu Rud, buatin om Danil ini kopi manis. Kayaknya karena belum ngopi, maka mukanya kusut gini,” kataku, dengan nada santai.
“Bener itu, bang. Ngopi dulu baru bisa cerita-cerita. Sekalian minta rokoknya ya, bang. Aku bener-bener lagi krisis, rokok aja sudah nggak kebeli lagi,” ujar Danil. Kali ini ada senyum yang ia paksakan untuk ditunjukkan.
Beberapa saat kemudian, sambil menghisap rokok di tangannya, Danil meniup-niup minuman kopi manis yang masih kedul-kedul di cangkir. Tampak sekali ia ingin segera meneguknya dan mendapat suplemen percaya diri untuk memulai cerita.
“Nggak boleh niup-niup minuman atau makanan yang masih panas dari tempatnya itu, om. Itu ajaran Kanjeng Nabi,” kata Rudy, menegur Danil.
“Oh, gitu, Rud. Kalau gitu, pinjem satu cangkir lagi. Buat om bolak-balikin kopi ini dari satu cangkir ke cangkir lain. Jadi bisa cepet dingin dan nggak ngelanggar ajaran Nabi,” sahut Danil.
Rudy segera masuk kamar dan mengambil sebuah cangkir lagi. Dengan gerakan terlatih, Danil melakukan upaya mempercepat mendinginkan kopi manisnya. Ia tuangkan minuman dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Berkali-kali. Sampai akhirnya, dengan tersenyum, ia mulai menyeruput minuman hangat tersebut.
“Alhamdulillah. Ini baru pas panasnya, Rud. Nggak ngebuat lidah jadi keluar putih-putih karena nelen minuman yang ekstra panasnya,” ucap Danil, dan kembali tersenyum.
“Canggih juga cara om Danil ini ngebuat minuman cepet dingin. Boleh ditiru ini,” kata Rudy, menimpali.
“Ini mah bukan canggih, Rud. Ini kebiasaan para leluhur kita dulu. Mereka nggak mau ngelanggar ajaran Nabi, tapi keinginan untuk cepet nikmati makanan atau minuman panas, tetep bisa terwujud. Ya gitu tadi caranya,” sahut Danil, dan tertawa ngakak.
Setelah Rudy kembali masuk kamar untuk melaksanakan tugasnya, barulah Danil memulai ceritanya. Tentang ustadz Umar juga. Kisahnya pun sama.
Hanya bedanya, Danil tampak ikut merasakan derita yang tengah dialami imam masjid rutan tersebut. Ada kedekatan batin yang terbangun antara dirinya dengan ustadz Umar.
Sesuatu hal yang sesungguhnya sangat wajar. Karena ustadz Umar merupakan koordinator majelis taklim, dan Danil satu dari sekian puluh anggota majelis taklim. (bersambung)
