Cari Berita

Breaking News

Penyesalan Bung Karno dan Ekspresi Puisi Esai

Dibaca : 0
 
Senin, 10 Juni 2024

⁃ 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗕𝘂𝗸𝘂 “𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝗰𝗲𝗰𝗲𝗿 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗺𝗲𝗿𝗱𝗲𝗸𝗮𝗮𝗻” (𝟮𝟬𝟮𝟰)

Oleh 𝗗𝗲𝗻𝗻𝘆 𝗝𝗔

Kata-kata sedih itu diekspresikan Bung Karno. 

“Hati di dalam seperti diremuk-remuk. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Aku mengirim mereka kerja paksa.”

“Aku membuat pernyataan menyokong pengerahan Romusha. Di dekat Bogor, aku bergambar dengan topi di kepala. Dengan cangkul di tangan. Betapa mudahnya, betapa enaknya menjadi Romusha.”

Kata-kata ini, saya susun ulang, direkam dalam buku biografi 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams (1965).

 Ini momen ketika Bung Karno melakukan refleksi atas perannya memobilisasi rakyat ikut dalam kerja Romusha, di era penjajahan Jepang (1942-1945).

Tak diduga Bung Karno. Rakyat yang ia anjurkan membantu Jepang dalam kerja paksa ternyata menjadi sejenis budak.

Sebagian mereka ikhlas kerja paksa karena mencintai Bung Karno, menuruti ajakannya.
Tapi ternyata mereka mati merana. Tersiksa. Disiksa.

Kurang istirahat. Kurang makan. Berjejal ditumpuk di kereta ketika dikirim ke luar Jawa. Atau berdesakan di kapal laut ketika dikirim ke luar negeri.

Banyak dari mereka mati di jalan. Mayatnya dibuang ke laut, dibiarkan membusuk di jalan, atau dikubur masal. Dipancung kepalanya. 

Sebagian mati karena penyakit, terkena malaria, disentri. Sebagian mati karena kelelahan dan kelaparan. Sebagian mati karena disiksa. Yang tetap hidup, banyak yang badannya tinggal tulang dibalut kulit.

Foto aneka pekerja Romusha ini, yang seperti tengkorak berjalan, masih banyak yang dapat kita lihat di Google.

Bung Karno, sebagai pemimpin, saat itu berada pada posisi sulit. Ia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Jepang sudah mengalahkan Belanda.

Di tahun 1942, Jepang membangun PUTERA (Pusat Tenaga Kerja) yang diketuai oleh Soekarno, dan dibantu oleh Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur.

Saat itu memang ada pilihan revolusioner melawan Jepang (non-kooperatif). Ada pula pilihan bekerjasama dengan Jepang (kooperatif). Pejuang Indonesia terbelah saat itu.

Bung Karno dan Hatta memilih jalan kooperatif, bekerja sama dengan Jepang. Dengan harapan, Jepang akan membantu kemerdekaan Indonesia.

Sementara politisi lain memilih jalan non-kooperatif, termasuk Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, Armunanto, A.A. Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Bung Karno bersedia menjadi pemimpin untuk memobilisasi tenaga rakyat dengan harapan mendapatkan simpati Jepang. Tapi derita tenaga kerja itu tak lagi bisa ditoleransi, bahkan oleh Bung Karno sendiri.

Jumlah romusha yang dipaksa bekerja oleh Jepang di Indonesia berkisar antara 4 hingga 10 juta orang.

Dari jumlah ini, sekitar 270.000 romusha dikirim ke luar Jawa. Ada pula yang dikirim ke Thailand dan Burma. Mereka bekerja di proyek-proyek seperti Jalur Kereta Api Burma-Thailand yang terkenal kejam.

-000-

Romusha hanyalah salah satu saja kisah rakyat banyak yang tercecer, dan tersisih, di era kemerdekaan. Kisah derita lainnya soal para gadis pribumi yang dipaksa menjadi perempuan penghibur tentara Jepang.

Mardiyem dapat bercerita banyak. Ia seorang gadis muda dari Yogyakarta. Pada tahun 1942, Mardiyem tertipu dengan janji menjadi penyanyi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pada saat itu, ia baru berusia 13 tahun. Ia berharap dapat menggapai mimpinya di dunia hiburan. Namun, setibanya di Banjarmasin, Mardiyem dibawa ke sebuah tempat yang disebut "comfort station.”

Astaga. Mardiyem kaget. Ia dipaksa menjadi budak seks bagi tentara Jepang.

Pada hari pertama, Mardiyem sudah diperkosa berulang kali oleh tentara Jepang. Sehari ia harus melayani 10-15 tentara Jepang. Ini sebuah pengalaman traumatis yang berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun.

Kisah Mardiyem salah satu saja dari banyak kisah tragis yang dialami oleh perempuan di seluruh Asia selama Perang Dunia II. Ada sekitar 200.000 wanita yang dipaksa menjadi gadis penghibur bagi tentara Jepang.

Para wanita ini berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, dan Cina.

Di Korea Selatan, mereka dikenal sebagai "comfort women" atau wanita penghibur. Banyak dari mereka dipaksa dengan cara yang sama seperti Mardiyem.

Trauma fisik dan emosional yang mereka alami sangat mendalam. Itu menyebabkan banyak dari mereka mengalami gangguan kesehatan jangka panjang, depresi, dan stigma sosial.

Banyak dari mereka yang tidak pernah pulih sepenuhnya dari pengalaman mengerikan itu.

Ketika Jepang akhirnya kalah dalam Perang Dunia II pada tahun 1945, tentara Jepang meninggalkan pos mereka. Ditinggal pula para wanita penghibur ini tanpa perlindungan. Mereka dalam kondisi yang sangat rentan.

Bagi mereka, pulang ke kampung halaman bukanlah pilihan yang mudah. Mereka menghadapi stigma sosial yang berat. Seringkali mereka dicap sebagai pelacur bagi penjajah.

-000-

Isu lain yang juga tercecer di era kemerdekaan kisah gadis pribumi yang dipaksa menjadi simpanan, gundik, atau istri yang tak pernah dinikahi secara resmi oleh para tuan Belanda.

Satu contoh dari kisah nyai atau gundik itu adalah Nyai Ontosoroh. Itu karakter fiksi yang  terkenal dari novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.

Nyai Ontosoroh yang sebenarnya adalah Sanikem. Ia seorang wanita pribumi yang dipaksa menjadi gundik seorang Belanda bernama Herman Mellema.

Meskipun fiksi, kisahnya merefleksikan banyak realitas yang dihadapi oleh wanita pribumi pada masa kolonial. Sanikem dipaksa menjalani kehidupan sebagai gundik tanpa status pernikahan resmi, mengalami penderitaan dan perlakuan yang tidak adil dari masyarakat sekitar.

Selama masa kolonial Belanda, praktek concubinage atau nyai cukup umum. Diperkirakan puluhan ribu wanita pribumi menjadi nyai bagi pria-pria Belanda.

Para nyai ini secara resmi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tetapi sering kali juga menjadi pasangan seksual majikan mereka.

Mereka memiliki hak yang sangat terbatas dan sering kali dianggap sebagai "furniture pribumi.” Sebagaimana properti, mereka juga bisa dijual atau dipindahkan, bersama rumah yang mereka tempati.

Ketika Jepang menginvasi Indonesia pada tahun 1942, banyak pria Belanda yang ditangkap dan dimasukkan ke kamp interniran. Para nyai dan anak-anak mereka sering kali ditinggalkan tanpa perlindungan.

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka pada tahun 1945, situasi para nyai dan anak-anak mereka berubah drastis. Banyak dari nyai ini ditinggalkan oleh pasangan Belanda mereka yang kembali ke Eropa. Anak- anak mereka dibawa ke Belanda, dipisahkan dari Nyai, ibu kandung mereka.

Para nyai sering kali harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sulit.

Anak-anak hasil hubungan antara pria Belanda dan nyai pribumi dikenal sebagai Indo-Eropa. Mereka memiliki nasib yang beragam.

Beberapa dari mereka menghadapi diskriminasi dan perjuangan untuk beradaptasi dengan budaya baru.

Namun, banyak dari mereka yang akhirnya berhasil dan membentuk komunitas Indo di Belanda. Mereka beranak pinak dan menjadi bagian dari masyarakat Belanda.

Kisah para nyai bagian penting dari sejarah kolonial Indonesia yang sering kali terlupakan. Mereka bagian dari orang-orang tersisih. Yang tercecer. Yang menderita.

-000-

Para pekerja paksa Romusha. Gadis pribumi yang dipaksa menjadi penghibur tentara Jepang. Perempuan yang dijadikan gundik tuan Belanda, dan dipisahkan dari anak-anaknya. Kisah hidup mereka digali dan diekspresikan melalui puisi esai.

Kumpulan puisi esai di buku ini sejenis album foto untuk kembali melihat kenangan pahit di era seputar kemerdekaan Indonesia era tahun 1945. Ini bagian dari pertumbuhan kita sebagai bangsa, di masa yang sangat sulit.

Tapi apa itu puisi esai? Itu bentuk puisi yang menggabungkan aspek naratif dan esai dalam satu karya. Puisi esai tidak hanya mengekspresikan emosi dan perasaan, tetapi juga menyajikan fakta-fakta historis dan sosial yang mendasari cerita dalam puisi itu.

Ini elemen dasar yang membentuk puisi esai:

Pertama: penggabungan fakta dan fiksi. Puisi esai menggabungkan elemen-elemen naratif yang bersifat fiksi dengan fakta-fakta historis atau sosial yang nyata.

Kedua: hadirnya catatan kaki. Puisi esai dilengkapi dengan catatan kaki yang menjadi ibu kandung puisi. Kisah sebenarnya yang difiksikan dalam puisi esai diwakili beritanya dalam catatan kaki itu.

Ketiga: narasi yang kuat. Puisi esai memiliki sebuah kisah, yang jelas dan kuat, mirip dengan esai, atau cerpen, atau novel. Tapi kisah itu disajikan dalam bentuk puisi yang mengedepankan keindahan bahasa dan ritme.

-000-

Dalam buku ini, saya, Denny JA memperkenalkan jenis lain dari puisi esai. Yang di buku ini dirancang khusus untuk versi pendek saja. Jika dibacakan di panggung, atau di YouTube, hanya butuh waktu sekitar lima menit.

Meskipun lebih pendek, puisi ini tetap mengandung elemen-elemen puisi esai yang sama, seperti di atas. Ini hanya varian puisi esai saja.

Kini pertemuan komunitas puisi esai mulai rutin. Ada Festival Komunitas Puisi Esai Nasional. Ada Festival Puisi Esai ASEAN. Dua festival ini berlangsung setiap tahun.

Ada pula pertemuan para aktivis kemanusiaan, keragaman agama, dan hak asasi. Pertemuan itu tak jarang juga dimulai dengan pembacaan puisi.

Saya bayangkan akan lebih menyentuh pertemuan komunitas yang dilezatkan oleh puisi. Jika puisi esai yang kita dengar, kita bukan saja meresapi keindahan puisi. Tapi kita juga mendengar sepotong sejarah, atau kisah true story yang difiksikan.

Kisah yang terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia sudah saya rekam dalam tiga buku puisi esai. Katakanlah ini semacam TRILOGI Puisi Esai.

Buku pertama, “Atas Nama Cinta” (2012). Ini buku puisi esai pertama, yang memperkenalkan genre puisi baru. Ia merekam aneka diskriminasi yang masih terjadi, walau Indonesia beranjak ke era reformasi.

Buku kedua: “Jeritan Setelah Kebebasan” (2022). Puisi esai ini merekam konflik berdarah primordial yang terjadi di Indonesia, tak lama setelah reformasi. Yaitu konflik Islam vs Kristen di Maluku, konflik suku Madura vs Dayak di Sampit, kerusuhan atas etnik Cina di Jakarta, suku Bali versus penduduk asli di Lampung Selatan, dan pengusiran komunitas Ahmadiyah di NTB.

Buku ketiga: “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan” (2024). Puisi esai ini merekam derita para pekerja Romusha, gadis pribumi yang dipaksa menjadi penghibur tentara Jepang, dan perempuan Indonesia yang dijadikan gundik, para Nyai, bagi tuan Belanda.

Apa beda tiga buku itu? Perbedaannya hanya dalam panjang dan pendek saja. Puisi esai dalam “Atas Nama Cinta” (2012) pernah dibacakan oleh Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Ina Febrianti, Niniek L Karim, Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama, memakan waktu sekitar 30 - 40 menit.

Puisi esai dalam “Jeritan Setelah Kebebasan” (2020), dibacakan oleh tim seniman dari Bali, dalam aneka video animasi, memerlukan waktu sekitar 15 menit.

Sementara puisi esai “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan” (2024) jika dibacakan memerlukan waktu 5-7 menit. Ini waktu yang tak terlalu lama untuk dibacakan di panggung.

Kisah sejarah, dan peristiwa sebenarnya yang menyentak, yang menyebabkan banyak air mata, ataupun yang menimbulkan keriangan, akan lebih mudah diingat dan menyentuh hati, jika disampaikan lewat puisi. 
***
Jakarta, 10 Juni 2024.


𝗖𝗔𝗧𝗔𝗧𝗔𝗡

(1) Penyesalan Bung Karno soal Romusha juga diberitakan di banyak media, antara lain di:
https://shorturl.at/AFFrz

LIPSUS