-->
Cari Berita

Breaking News

Resensi Film: Kekerasan atas Yahudi dan Psikologi Never Again

Dibaca : 0
 
Rabu, 27 Agustus 2025


Inspirasi dari Film The World Will Tremble (2025)


Oleh Denny JA

Bangsa Yahudi mengalami derita luar biasa di era Hitler berkuasa (1940-an). Namun mengapa kini mereka (Pemerintah Israel) bisa melakukan kekejaman yang sama di Gaza (2020-an)?

Renungan ini berulang-ulang muncul seketika sepanjang saya menonton kisah tragis tersebut.

Ada film yang datang seperti bisikan nurani, menggedor hati, dan memaksa kita menoleh pada sejarah yang ingin kita lupakan.

Film itu berjudul The World Will Tremble (2025). Bukan sekadar tontonan, melainkan kisah tragis, ziarah batin pada sebuah luka purba: Holocaust.

Film ini mengisahkan dua tahanan Yahudi—Michał Podchlebnik dan Solomon Wiener—yang berhasil melarikan diri dari kamp pemusnahan Chełmno pada awal 1942.

Mereka berlari, bersembunyi, membawa satu-satunya senjata yang mereka punya: kesaksian tentang kengerian yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.

Mereka ingin dunia mendengar: manusia sedang dimusnahkan secara sistematis di jantung Eropa. Ribuan orang Yahudi digiring masuk ke truk gas, lalu tubuh mereka dibuang seperti sampah.

Kamp Chełmno adalah pabrik kematian pertama Nazi, mesin industri yang melumat manusia.

Namun ketika dua saksi ini menyampaikan berita itu, dunia justru menutup telinga. Kantor berita, lembaga politik, bahkan intelijen Amerika menolak percaya.

Dunia belum siap menghadapi kenyataan bahwa peradaban yang katanya modern justru memelihara barbarisme paling purba. Dunia tidak bergetar. Dunia memilih diam.

-000-

Apa yang membuat The World Will Tremble istimewa bukan hanya karena ia mengangkat kisah nyata, tetapi karena ia memotret paradoks kemanusiaan.

Betapa mudahnya dunia menyangkal kebenaran yang terlalu gelap. Film ini diriset selama bertahun-tahun, bekerja sama dengan arsip Yad Vashem, menyajikan potret yang setia pada sejarah.

Yang paling menggugah justru bukan adegan pembantaian itu sendiri, melainkan keheningan dunia. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi korban selain menyadari bahwa penderitaan mereka tidak dianggap nyata.

Bahwa teriakan mereka lenyap di udara, tanpa gema.

Film ini adalah cermin bagi kita semua: berapa kali kita membiarkan penderitaan orang lain berlalu, hanya karena kita tak ingin terguncang?

-000-

Holocaust menjadi luka terdalam abad ke-20. Enam juta Yahudi dimusnahkan: lelaki, perempuan, anak-anak, bayi yang masih menyusu. Mereka bukan korban perang dalam arti klasik.

Mereka korban ideologi kebencian yang percaya bahwa sebuah bangsa lebih berhak hidup dibanding bangsa lain.

Yahudi di Eropa kala itu kehilangan hak paling elementer: hak untuk sekadar ada. Mereka dipaksa hidup di ghetto, dirampas harta bendanya, lalu dikirim ke kamp konsentrasi yang sejatinya adalah pabrik kematian.

Auschwitz, Treblinka, Sobibor—nama-nama itu kini jadi monumen kengerian.

Dari penderitaan itu lahirlah sumpah kolektif bangsa Yahudi: “Never Again.” Tidak boleh ada lagi Holocaust, tidak boleh ada lagi bangsa yang dilenyapkan hanya karena identitasnya.

-000-

Namun sejarah sering memainkan ironi yang pahit.

Kini, delapan dekade setelah Holocaust, dunia melihat Gaza. Wilayah kecil yang dijejali lebih dari dua juta manusia, terkepung, diblokade, dan dibombardir.

Rumah-rumah runtuh, rumah sakit lumpuh, anak-anak kehilangan masa depan. Dunia menyaksikan gambar-gambar itu setiap hari, dan banyak yang berbisik: bukankah ini cermin terbalik dari apa yang dulu menimpa Yahudi?

Mengapa bangsa yang pernah jadi korban kini melakukan kekerasan pada bangsa lain?

Ada tiga alasan yang bisa menjelaskan paradoks itu:

1. Trauma Eksistensial. 

Holocaust menciptakan rasa takut permanen.
Bagi Israel, ancaman sekecil apa pun dipandang sebagai potensi Holocaust kedua. 

Dari trauma ini lahir logika: “lebih baik menindas daripada ditindas kembali.”

2. Nasionalisme Eksklusif.

Israel didirikan sebagai “negara Yahudi.” Dalam logika itu, warga Palestina dipandang sebagai penghalang demografis. 

Untuk menjaga identitas etnonasionalis, penindasan dianggap sah.

3. Agama dan Geopolitik.

Narasi “tanah yang dijanjikan” dan dukungan besar Amerika Serikat memberi legitimasi. 


Di mata dunia, penderitaan Palestina sering tenggelam karena setiap kritik pada Israel mudah dituding sebagai antisemitisme.

Ironi yang lahir: trauma masa lalu bukannya melahirkan empati, tetapi berubah jadi justifikasi kekerasan baru.

-000-

Film The World Will Tremble memberi kita kaca untuk bercermin. Apa arti “Never Again”?

• Bagi korban Holocaust, itu berarti jangan sampai Yahudi dimusnahkan lagi.

• Namun bagi nurani universal, seharusnya “Never Again” berarti jangan sampai siapa pun dimusnahkan lagi. Apapun sukunya, agamanya, bangsanya.

Di sinilah tragedi moral terjadi. Never Again menyempit. Dari semboyan universal, ia mengecil jadi semboyan eksklusif.

Dan ketika semboyan itu berubah arah, korban bisa menjelma pelaku.

Di sini, ujian psikologi “Never Again' menggantung. Ia seharusnya menjaga nyawa tapi tanpa mematikan pelita bangsa lain."

-000-

Ketika saya selesai menonton The World Will Tremble, yang membekas justru bukan adegan kekerasan. Yang menyentuh adalah wajah manusia yang putus asa karena dunia tak percaya.

Hari ini, wajah itu bisa jadi wajah seorang anak di Gaza, yang terjepit di antara puing rumah dan kehilangan keluarga.

Pertanyaan film itu kembali menghantui: Apakah dunia kali ini akan bergetar? Ataukah lagi-lagi kita memilih diam, membiarkan siklus korban-penindas terus berulang, dan sejarah kembali menuliskan ironi paling pahit?

Meski Israel berdalih bertindak demi keamanan dari roket Hamas dan ancaman militan, fakta bahwa serangan berulang menghantam warga sipil Gaza menimbulkan pertanyaan etis. 

Di titik inilah tragedi politik berubah menjadi tragedi kemanusiaan, melampaui klaim pertahanan diri.

Di balik retorika "Never Again" tersembunyi pertanyaan filosofis: apakah penderitaan manusia hanya bermakna jika dikenang sebagai monumen statis, atau justru harus jadi kompas etis yang dinamis? 

Ketika trauma kolektif diabadikan sebagai alat legitimasi kekuasaan, ia berisiko mengkristal menjadi mitos yang membenarkan penindasan baru.

Ini sebuah ironi yang mengubah korban menjadi tiran dalam narasi yang sama.


Kekerasan atas Yahudi adalah tragedi yang mengguncang abad lalu. Namun kekerasan Israel atas Palestina adalah tragedi yang mengguncang abad ini.

Dari keduanya kita belajar: trauma masa lalu bisa jadi pedang bermata dua—membawa empati yang menyembuhkan, atau melahirkan siklus kebencian yang menghancurkan.

“Never Again” seharusnya bukan hanya milik satu bangsa. Ia milik seluruh umat manusia.***

Jakarta, 27 Agustus 2025


Referensi

• Primo Levi, If This Is a Man, Abacus, 2019 (edisi ulang; pertama kali terbit 1947).

• Hannah Arendt, Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, Penguin Books, 2006 (edisi ulang; pertama kali terbit 1963).



LIPSUS