Acara yang difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII ini dipimpin oleh ketua panitia Risca Dwi Novitasari, dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Kiki Rahmatika Syaher, M.Sn serta Gianti Giadi, BA (Hons). Keduanya membagikan pengalaman sekaligus membuka ruang eksplorasi bagi peserta untuk memahami bagaimana tari tradisional dapat menjadi sumber ide kreatif yang segar dan relevan dengan zaman.
Selama dua hari, peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga mendalami filosofi gerak, komposisi, serta cara mengolah tradisi menjadi kreasi baru. Workshop ini menjadi ajang penting untuk mengembangkan kreativitas, memperkuat kecintaan pada budaya Lampung, serta menjaga kelestarian seni tari tradisional.
“Melalui workshop ini kami berharap muncul generasi seniman tari yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga berani memberi napas baru agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Risca Dwi Novitasari, ketua panitia kegiatan.
Selain ilmu dan pengalaman berharga, para peserta juga menerima sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Energi positif yang tercipta dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa tari tradisi masih memiliki ruang besar untuk tumbuh bersama generasi muda.
Dengan berakhirnya workshop ini, diharapkan akan lahir karya-karya tari yang tidak hanya mengakar pada tradisi, tetapi juga mencerminkan semangat zaman.(bd/inilampung)
