INILAMPUNGCOM - Meski sejak awal terungkapnya kucuran dana hibah sebesar Rp60 miliar dari Pemkot Bandarlampung (Balam) ke Kejati Lampung selama dua tahun anggaran -2025 Rp15 miliar dan 2026 Rp45 miliar- banyak menuai kritik, namun Walikota Eva Dwiana tiada gentar.
Ia dikenal pemegang teguh ajaran: "Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu".
Ia sosok pemimpin yang paham betul fatsun: "Kalau takut, jangan berani-berani. Kalau berani, jangan takut-takut."
Apalagi pertanggungjawaban kepemimpinan tiada mengandung konsekuensi apapun dan pasti diterima oleh lembaga Dewan.
Maka, ia tidak pernah ragu dalam mengambil langkah. Termasuk "menyikat" sisa dana pusat yang sudah ditentukan peruntukannya sekali pun. Meski data menunjukkan sejak tahun 2020 hingga 2024 kemarin, sedikitnya sisa dana pusat yang "dicatut" Pemkot Balam tidak kurang dari Rp437 miliar.
Walikota juga tidak musingin soal ketidakcukupan dana untuk belanja daerah alias defisit senilai ratusan miliar setiap tahunnya. Misalnya di tahun 2022 ketidakcukupan dana itu di posisi Rp342.089.873.154,58, lalu di 2023 Rp267.426.698.983,08, pun di 2024 sebesar Rp245.919.016.700,77.
Jadi, jika masih ada yang menyoal hibah Rp60 miliar ke Kejati saat ini, sama sekali tidak akan merubah apapun. Apalagi membagi-bagi dana hibah memang sudah kebiasaan Walikota Eva Dwiana.
Tahun 2023 lalu dana hibah dikucurin Eva di angka Rp104.622.124.811. Dan pada tahun 2024 kemarin, dana hibah yang digelontorkan mencapai Rp133.987.364.557.
Padahal PAD yang didapat hanya Rp716.588.145.697,18 saja atau 66,16% dari target Rp1.083.177.509.051,42.
Di penghujung anggaran 2024 atau per 31 Desember 2024, ada kewajiban yang harus diselesaikan sebanyak Rp393.597.478.936,10.
Terdiri dari kewajiban jangka pendek Rp327.923.279.425,95, dan jangka panjang Rp65.674.199.510,15.
Data diatas, diungkap sendiri oleh Walikota Eva Dwiana dalam LKPD Pemkot Bandarlampung Tahun 2024 yang ditandatanganinya 23 Mei 2025 silam.
Lalu apa pesan dari analisis berita ini: Fakta remuk redamnya keuangan Pemkot Bandarlampung selama ini -termasuk ribuan ASN hanya menerima tukin hingga bulan September alias tiga bulan akhir 2025 tiada tukin lagi- bukan hal penting bagi Walikota Eva Dwiana.
Baginya yang prioritas adalah "menanam budi" lewat dana hibah ke APH. Karena ia menyadari, dalam kehidupan ini pasti ada saatnya "kesialan" itu datang. Dan untuk mengantisipasinya ia rutin kucurkan dana hibah, yang notabene uangnya rakyat Bandarlampung. (kgm-1/inilampung)


