-->
Cari Berita

Breaking News

Iblis menggugat Tuhan?

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 28 November 2025

ilustrasi (net)


Oleh: Henki Eral


BANYAK orang yang bisa bercerita, menulis kata-kata dan ada yang lebih lucunya lagi, ada yang tidak bisa bercerita dan tidak bisa pula menulis tentang kebahagiaan dunia dan akherat, cerita tentang surga dan neraka. Bisanya hanya marah-marah dan gampang sekali menuduh orang yang berbeda sesat. Tapi, ketika aku ingin ikut bercerita dan menulis tentang neraka, surga, pahala dan dosa, aku rasanya masih malu karena aku masih seperti orang munafik...!!

Hengki Eral


Di Negeri yang ramai doa dan zikir berjamaah tapi miskin logika. Berpikir agak berbeda dikira durhaka?

Manusia bilang kakek mereka Adam dan anak keturunannya berdosa gara-gara hasutan Iblis dan setan dan para keturunan Iblis ? Kalau begitu atas hasutan siapa aku melakukan dosa? kata Iblis dan keturunannya kepada manusia.

Jika manusia saat terjatuh dalam dosa selalu menuduh karena bujukan Iblis dan keturunannya, lantas siapakah yang membujuk Iblis untuk berbuat dosa?

Apakah dosa lahir dari kebebasan memilih, ataukah dari takdir yang sudah ditentukan?

Mungkin yang paling berbahaya bukanlah hasutan Iblis, melainkan kecenderungan manusia (dan bahkan makhluk yang disebut durhaka) untuk selalu mencari kambing hitam di luar dirinya dengan selalu menyalahkan orang lain.

Manusia masih sering menyalahkan godaan, keadaan, bahkan Tuhan pun masih sering disalahkan oleh manusia, agar terbebas dari beban tanggung jawab. Padahal inti keberadaan kita justru diuji pada titik itu: sanggupkah kita mengakui bahwa pilihan kita betapapun pahitnya, adalah pilihan kita sendiri dan kita harus siap mempertanggung jawabkannya?

Pada akhirnya, yang membuat manusia jatuh bukan bisikan dari luar, melainkan keputusan di dalam diri. Dosa sejati lahir bukan dari hasutan, melainkan dari keberanian manusia menolak atau menerima kebenaran.

Apakah engkau masih yakin bahwa yang membuatmu salah adalah “orang lain atau masihkan kau menuduh dan memfitnah Iblis terus”? 

Ataukah sebenarnya engkaulah sumbernya segala dosa itu sendiri?

Mereka para politikus, para penjual ayat-ayat Tuhan dan para penyelenggara Negara berkata, jika kamu melihat seorang budak tidur, jangan bangunkan dia supaya dia cukup bermimpi saja tentang kebebasan, dan saya berkata kepada mereka bahwa jika kamu melihat seorang budak tidur, seharusnya bangunkanlah dan ceritakanlah kepada mereka tentang kebebasan itu bagaimana caranya untuk bisa bebas.

Kemenangan atau keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh jumlah yang besar, melainkan oleh kualitas cara berpikir yg berbeda dari yang kebanyakan, ketepatan, kemampuan nyata dan keberanian mengambil resiko.

Pasukan dalam jumlah besar melambangkan kekuatan kuantitas, sedangkan “mereka yg menembak paling baik walaupun hanya berjumlah sedikit” melambangkan keahlian dan efektivitas. 

Tuhan atau takdir, keberuntungan, atau hasil akhir, berpihak pada mereka yang benar-benar kompeten dan berani mengambil resiko. Bukan sekadar pada mereka yang merasa telah memiliki kekuatan besar, fasilitas lengkap atau yang banyak jumlahnya. 

Mengikuti cara berpikir yang banyak atau mengikuti kebanyakan pendapat yang banyak, belum tentu itu benar?

Allah SWT berfirman:  Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.(Al-Quran 6; 116).

Impian tanpa tindakan, apalagi selalu memilih zona nyaman adalah candu yang membuat seseorang merasa produktif meski sebenarnya tidak bergerak. Keberhasilan yang besar tidak dibangun oleh harapan, melainkan oleh keberanian dan cara berpikir yang berbeda dalam melihat dan menilai sesuatu.

Salam sehat selalu untuk semuanya dimanapun berada. (*)


Hengki Eral 
Pebisnis, dan pemerhati sosial budaya. Tinggal di Lampung 

LIPSUS