INILAMPUNGCOM - Lingkungan Kampus Universitas Lampung (Unila) di Gedongmeneng, Labuhan Ratu, Bandarlampung, dari hari ke hari makin menunjukkan sebagai kawasan rawan tindak kejahatan.
Karenanya, Rektor Prof. Lusmeilia Afriani sudah seharusnya melakukan evaluasi total atas kinerja jajaran petugas keamanan kampus yang dipimpinnya.
Rawannya Kampus Unila dari aksi kejahatan, bukan karangan. Namun fakta yang memang mesti diungkapkan. Contoh teranyar dialami Tondi Satria Muhammad Nurul.
Sepeda motornya -Honda Vario 125- hilang dicuri di area parkir Kolam Renang Unila, Sabtu (22/11/2025) siang.
Atas kasus ini, Tondi telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kedaton dengan nomor laporan LP/B/964/XI/2025/LPG/RESTA BALAM/SEKTOR KDT.
Dalam laporannya, Tondi -berstatus pelajar- mengatakan, motornya bernomor polisi BE 2749 AGT digasak pelaku sekitar pukul 12.00 Wib.
Pelaku diduga merusak rumah kunci menggunakan kunci palsu sebelum membawa kabur motor tanpa menimbulkan keributan.
“Motor terparkir dalam keadaan terkunci stang. Saat selesai berenang, motor sudah tidak ada,” ujar Tondi.
Polisi menduga, pencurian dilakukan oleh pelaku profesional, mengingat motor dapat dibawa keluar dari area parkir yang ramai tanpa menarik perhatian.
Kerugian yang dialami Tondi ditaksir mencapai Rp16,5 juta.
Kanit SPKT Regu III Polsek Kedaton, Aiptu Zainal Fanany, membenarkan laporan tersebut dan menyebut penyelidikan masih berlangsung.
Aparat kini menelusuri jejak kendaraan berdasarkan nomor rangka MH1JMC117NK017766 dan nomor mesin JMC1E1107794.
Sementara keluarga korban, Ulil Fitriah, mengungkapkan bahwa hilangnya motor Tondi bukan satu-satunya kasus pada hari itu.
“Per hari ini sudah tiga motor yang hilang di Unila,” kata Ulil.
Dua motor lainnya dilaporkan hilang di pelataran Rektorat Unila.
Informasi yang diterima keluarga juga dikuatkan oleh Polsek Kedaton yang mencatat tiga laporan kehilangan dari mahasiswa Unila dalam waktu berdekatan.
Ulil menyorot minimnya respons pihak kampus.
“Unila hanya memberikan rekaman CCTV dari kolam renang. Tidak ada tindaklanjut lainnya,” ujar dia.
Ulil menyayangkan tidak adanya petugas keamanan yang berjaga di sekitar kolam renang, padahal pengunjung dikenai biaya masuk sebesar Rp20 ribu per orang.
“Petugas keamanan tidak ada yang jaga, padahal area kolam ramai dan menjadi tempat publik,” katanya lagi.
Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan dan meminta warga kampus meningkatkan kewaspadaan, terutama di area parkir yang terbuka.
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani menjawab datar saat dikonfirmasi mengenai banyaknya kasus curanmor di kampus yang dipimpinnya.
"Saya koordinasi dulu ya. Terima kasih atas laporannya," tulis Rektor Unila melalui pesan WhatsApp, Sabtu (22/11/2025) malam. (zal/inilampung)



