-->
Cari Berita

Breaking News

Perenungan Menyambut Pergantian Tahun

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 31 Desember 2025



Oleh: Junaidi Jamsari 


Saat ini kita telah berada di penghujung tahun 2025. Hitungan jam, kita akan memasuki tahun baru, tahun 2026 Masehi. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka, tetapi dapat menjadi peringatan kepada kita bahwa ada yang telah pergi hilang. Setiap yang telah pergi tiada dan hilang baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga dalam hidup kita. Ungkapan syukur adalah representasi atas rezeki dan anugerah Tuhan yang memberikan umur sampai dapat bertemu dengan tahun 2026.


Berbagai aktivitas dilakukan oleh keluarga, masyarakat, organisasi sebagai simbol rasa syukur atas kehidupan, kesehatan, dan penghidupan yang telah dijalani sepanjang tahun yang akan berakhir.


Berjalannya waktu erat kaitannya dengan waktu umur kita yang semakin berkurang. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Untuk itu, baiknya peristiwa ini kita jadikan sebagai evaluasi, sekaligus harapan dan tantangan ke depan dan yang paling penting mensyukuri semua yang telah terjadi, berdo’a kehidupan ke depan akan lebih baik dari tahun sebelumnya.


Prinsip ini bukan hanya sekadar motivasi, tetapi juga merupakan ajaran yang sangat mendalam pada agama Islam. Prinsip ini merupakan inti dari hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW berikut ini:


Artinya: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka."


Hadits di atas kemudian melahirkan suatu konsep perbaikan diri dan peningkatan kualitas hidup untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, karena itu Islam mengajarkan akan pentingnya introspeksi dan evaluasi diri. 


Dalam Surah Al-Hashr ayat 18, Allah berfirman: Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."


Ayat ini menekankan pentingnya setiap individu untuk merenungkan tindakan mereka dan berusaha untuk memperbaiki diri. Konsep ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. Dalam konteks ini, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa setiap tindakan baik yang dilakukan hari ini akan berkontribusi pada kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.


Bersyukur karena kita masih diberi umur, kesehatan, rezeki, keluarga, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya. Banyak saudara yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah.


Nikmat Allah sungguh tidak terhitung jumlahnya. Allah SWT berfirman:


“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).


Syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Syukur harus diwujudkan dalam ketaatan. Bersyukur berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bersyukur juga berarti memanfaatkan nikmat sesuai kehendak Pemberinya: harta digunakan untuk membantu sesama, jabatan dijalankan sebagai amanah, kekuasaan tidak disalahgunakan, dan ilmu diamalkan untuk kemaslahatan.


Allah SWT menjanjikan bahwa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat. Firman-Nya:


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, maka sungguh azab-Ku sangat berat.”(QS. Ibrahim: 7).


Pergantian tahun bukan untuk membuat kita kecewa melihat keberhasilan orang lain, tetapi jadikan sebagai evaluasi diri. Bukan untuk menilai dan mengevaluasi orang lain, tetapi untuk bercermin pada diri sendiri. Allah SWT berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).


Ayat ini mengajarkan kita agar jujur menilai amal perbuatan kita. Bagaimana kualitas hidup kita? Apakah amal perbuatan kita yang berhubungan dengan Allah dan manusia, apakah amanah yang kita lakukan sudah berkualitas dan baik. 


Pergantian tahun juga mengingatkan kita untuk merenung tentang pertanggungjawaban kelak. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang tubuhnya untuk apa digunakan, tentang ilmunya bagaimana diamalkan, dan tentang hartanya dari mana diperoleh serta ke mana dibelanjakan.”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Jiwa yang tentram aman damai adalah wilayah (safe zone) tentu menjadi impian harapan kita untuk menggambarkan bahwa kita berada pada kehidupan yang dianggap aman dari berbagai konflik atau bahaya. Yakni hidup fokus pada aspek hukum dan keamanan, aspek spiritual dan keselamatan. Umur yang dihabiskan untuk kelalaian akan rugi tanpa diisi dengan amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:


“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.”(HR. Tirmidzi). 


Kita jalani hidup ini dengan sebaik-baiknya karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, pergantian tahun ini -dari 2025 ke 2026- hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki arah hidup kita. Umur kita niatkan untuk kebaikan, tubuh kita jaga dan gunakan untuk ketaatan, ilmu kita amalkan dengan penuh keikhlasan, dan harta kita kelola sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Jadikan syukur sebagai sikap hidup, evaluasi diri sebagai kebiasaan, motivasi dan semangat untuk menggapai kebahagiaan, renungan sebagai pengingat agar langkah kita selalu berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Aamiin. *Penulis tinggal di Lampung Barat.

LIPSUS