-->
Cari Berita

Breaking News

Tragedi Kades Braja Asri: TNWK Idealnya Hanya Dihuni 8 Ekor Gajah

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 31 Desember 2025

Maruf Abidin


INILAMPUNGCOM - Tragedi kemanusiaan akibat ulah hewan dilindungi, kembali terjadi di Lampung. Kali ini Darusman, Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, menjadi korbannya. Berniat mengusir puluhan gajah yang merangsek ke perkebunan warganya, Selasa (30/12/2025) malam, ia justru mengalami naas.


Dikabarkan warga yang bersama sang kepala desa mengusir gajah -sekitar 80 ekor-, badan Darusman terinjak kaki hewan berbelalai panjang tersebut.


Darusman sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Namun Tuhan berkehendak lain. Rabu (31/12/2025) sekira pukul 11.00 WIB, Kepala Desa Braja Asri itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Tragedi tewasnya Kades Braja Asri, Darusman, akibat ulah gajah ini spontan memunculkan keprihatinan mendalam di hati warga Provinsi Lampung.


Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, yang melepas almarhum Darusman dari rumah duka menuju pemakaman, tampak sangat terpukul. Suaranya terbata penuh haru saat menyampaikan sambutan.


Bupati Ela menjanjikan segera mencari formula terbaik bersama Forkopimda agar peristiwa yang dialami Darusman, tidak berulang.


Ia pun paham betul keresahan warga Braja Asri. Pasalnya, posisi desa tersebut memang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), tempat gajah hidup dan mencari penghidupan. 


Karenanyabisa dipahami kekhawatiran bakal kembali terjadinya tragedi seperti yang dialami Darusman pun mengemuka. 


Bagaimana sebenarnya karakter gajah dan apakah masih layak TNWK dihuni puluhan hewan dilindungi itu? H. Ma'ruf Abidin, MSi, seorang PNS yang tinggal di Tegal Yoso, Purbolinggo, Lamtim, saat menyelesaikan tesis S2 di ITB Prodi Biologi beberapa tahun lalu pernah secara khusus melakukan penelitian terkait hal tersebut.


Lalu apa pendapat pria kelahiran Tanggamus 22 Januari 1968 itu? Berikut petikan wawancara khusus inilampung.com dengan H. Ma'ruf Abidin, MSi, Rabu (31/12/2025) petang:


Anda tentu sudah mendengar musibah yang dialami Kades Braja Asri akibat terinjak gajah, komentar Anda?

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kita sama-sama mendoakan almarhum husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Tentu saya sangat prihatin atas terjadinya musibah ini. Hendaknya semua pihak introspeksi, melakukan evaluasi dan menemukan langkah nyata agar tragedi semacam ini tidak berulang.


Benarkah Anda pernah melakukan penelitian mengenai gajah untuk tesis S2?

Iya benar. Tesis saya waktu S2 di ITB membahas tentang "Konflik Gajah dan Manusia di TNWK" Lampung Timur. 


Apa yang bisa Anda bagikan pengalaman yang didapat melalui penelitian terhadap gajah bagi masyarakat?

Jadi begini. Dari disiplin ekoetologi, saya memahami bahwa gajah setidaknya mempunyai dua karakteristik yang sangat khas.


Apa itu..?

Pertama: Gajah punya home range atau daerah jelajah kisaran 100 KM setiap gajah. Yang kedua: Daya ingat gajah sangat kuat.


Yang harus kita pahami dari dua kekhasan gajah itu apa?

Dari dua hal itu, yang harus kita pahami setidaknya ada dua juga. 


Bisa dijelaskan?

Pertama: Manusia sudah sangat jauh menjelajahi dan masuk areal home range gajah. Dan kedua: Ini catatan penelitian saya ya, menemukan kasus bahwa gajah akan membalas dendam siapapun yang sudah pernah menyakitinya walau waktunya sudah puluhan tahun.


Jadi, gajah itu hewan pendendam, begitu?

Catatan dari penelitian saya tahun 2008 ya begitu adanya. 


Bisa Anda ceritakan kisahnya?

Waktu itu tahun 2008, ada dua orang yang mati diinjak-injak gajah di kampung saya. Di Tegal Yoso, Purbolinggo. Nah, saat saya cross check, mereka yang mati itu salah satu kerjaannya adalah mengusir gajah dengan menggunakan mercon dan lain-lain.


Kalau dikaitkan dengan kejadian yang dialami Kades Braja Asri hari ini?

Atas dasar catatan penelitian saya waktu itu maka pertanyaannya, apakah pak Kades tersebut juga bagian dari mereka yang sering mengusir gajah? Karena gajah itu hewan pendendam.


Bisa dijelaskan catatan lain dari penelitian Anda saat itu?

Catatan lainnya bahwa ada Full Faktor dan Push Faktor kenapa gajah masuk ke wilayah -yang diklaim- manusia?


Maksudnya..?

Begini. Full Faktor adalah daya tarik dimana gajah tertarik makanan siap saji, berupa tanaman yang ada diluar. Seperti tanaman jagung, padi, dan lain-lain. Sedangka Push Faktor karena didalam TNWK kebutuhan akan pakan sangat minim.


Bagaimana Anda menilai TNWK, masih layakkah dihuni puluhan gajah?

Dengan luas yang ada dan tutupan hutan TNWK yang sudah rusak, menurut penilaian saya, idealnya hanya cukup dihuni maksimal delapan ekor gajah saja.


Hanya delapan ekor gajah saja idealnya TNWK, benar begitu?

Menurut saya, berdasarkan suasana lingkungan yang ada di TNWK, ya begitu. Tapi kalau mau dimaksimalkan atau dipaksakan, bisalah 15 ekor gajah.


Darimana Anda bisa menilai demikian, apa rumusnya?

Sederhana saja. Rumusnya dari berat gajah/kebutuhan makan gajah plus dan ketersediaan jumlah pakan.


Dengan kata lain; karena keterbatasan ketersediaan pakan maka gajah kabur dari TNWK, begitu?  

Iya memang begitu. Meskipun TNWK dikasih pembatas berupa pagar kawat dengan aliran listrik tinggi, atau di tanggul atau dibuat siring, gajah tetap akan bisa melewati dengan naluri strugle for live-nya yang tinggi.


Menurut Anda, apa solusinya?

Tanami kembali hutan yang sudah terbuka dan kurangi jumlah gajahnya, maksimal 15 ekor. Syukur kalau bisa delapan sampai 10 saja.


Selain itu..?

Hindari menanam jagung, padi dan tanaman sejenisnya yang disukai gajah di daerah penyangga TNWK. (kgm-1/inilampung)

LIPSUS