INILAMPUNG.COM, Bandar Lampung -- Satu hari satu panggung digelar peluncuran antologi puisi “Kota Kelabu” dan Pembacaan Puisi dari “Kenduri Sumatera” oleh Isbedy Stiawan ZS di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (GTT TBL), Kamis 15 Januari 2026 pukul 13.00 sd selesai.
Kedua acara ini dihelat Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML) dan Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.
Menurut Anggi Farhans, pelaksana acara, menjelaskan bahwa peluncuran antologi puisi ‘Kota Kelabu” sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi bagi para anggota Generasi 6 Komunitas Penulis Muda Lampung.
“Ini juga sebagai bukti pertumbuhan sastra di kalangan generasi muda,” ujarnya, Sabtu 10 Januari 2026.
Anggi yang juga bertindak sebagai editor antologi tersebut menjelaskan, pada acara peluncuran nanti akan ada pembacaan puisi oleh para anggota Generasi 6.
“Diharapkan kehadiran para penyair muda ini akan menambah ‘barisan’ penyair Lampung di khasanah sastra Indonesia. Mereka adalah kader generasi baru sastra di Lampung,* harap Anggi.
Dikatakan Anggi, diketahui bahwa regenerasi penyair di Lampung sempat terjadi stagnan. Padahal daerah ini sempat dijuluki Nirwan Dewanto sebagai Lumbung Penyair. “Semoga generasi 6 KPML dalam ‘Kota Kelabu’ menjadi harapan bersama, yakni menumbuhkan kepenyairan di Lampung. Tentu yang subur dan semarak,” katanya.
Antologi Puisi “Kota Kelabu” ini diberi pengantar oleh Isbedy Stiawan ZS. Dia juga akan hadir sebagai pemantik diskusi. Selain itu penyair Lampung yang dijuluki oleh H.B. Jassin sebagai Paus Sastra Lampung akan tampil baca puisi dari buku puisi terbarunya, *Kenduri Sumatera” (Siger Publisher, 2026).
Sejumlah nama dalam antologi “Kota Kelabu” yang diharapkan kelak menjadi generasi baru di khasanah kepenyairan Lampung dan Indonesia, seperti Nada Ayunda Safira dan Qv (Cykal Qv Ichiya Putri), Salwa Pramesti Maharani Tauqan Kiram Jaya Prawira, Fitria Novita Rahma, Nurul Arifah, Kansa Maida, Reni Jayanti, Lutfi Maulidia, Vira A. Safitri, Kyra Nura.
Kemudian, Holiq Bae, Siti Dewi N.W., Siti Hardila, Nurfa, Any, Zii, Boemi Nala, dan Anggi Farhans.
Terpisah, Isbedy Stiawan ZS mengatakan, puisi-puisi yang akan dibacakan dalam “Kenduri Sumatera” merupakan karyanya bertema bencana, khususnya Sumatera. Sebanyak 29 puisi dan diterbitkan Siger Publisher. Buku ini akan dijual di acara tersebut.
Isbedy menjelaskan buku puisinya ini karena Lukman Hakim Daldiri yang menyarankan agar menerbitkan buku puisi bertema bencana seperti “Negeri Sepatu” yang bertema Orde Baru jelang Reformasi dulu.
“Kebetulan sudah banyak saya punya puisi tema bencana. Saya pikir kenapa tidak saya sepakati saran Lukman itu, jadilah buku ini,” ujar Isbedy yang juga bersamaan menerbitkan kumpulan esai “Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain”. Esai-esai tersebut telah ditayangkan di Lontar.Co sebagai Catatan Isbedy selama 5 bulan, dan terhimpun 20 esai.
Isbedy menambahkan, dalam pembacaan puisi “Kenduri Sumatera” menampilkan Dzafira Adelia Putri Isbedy untuk membuka pembacaan. Selanjutnya, Paus Sastra Lampung itu akan membaca sekira 7 puisi, di antaranya “Halo”, *Pesan Singkat”, “Perjalanan Pulang”.
“Puisi lainnya yang saya bacakan, saksikan saja di TBL,” imbuhnya singkat.(zal/inilampung)
