Oleh: Junaidi Jamsari
Mengetahui tanggal dan hari menjadi penting dan kebutuhan pokok manusia. Waktu ini dapat memberikan pertanda atau pengingat pada hal-hal yang besar, sakral, dan istimewa. Misalnya perayaan hari besar suatu agama. Hari libur dan hari aktif kantor ataupun sekolah menganut aturan penanggalan kalender masehi. Kemudian, hari-hari besar suatu agama dengan penanggalan tersendiri akan dicantumkan pula dalam kalender masehi sebagai penanda libur atau cuti bersama agar serempak.
Dalam agama Islam, menggunakan kalender hijriah dalam menentukan hari-hari besar atau menandai pergantian bulan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kalender dimaknai sebagai daftar hari dan bulan dalam setahun; penanggalan; almanac; takwim; jadwal kegiatan di suatu perguruan atau lembaga. Kalender menjadi penanda tanggal dan hari-hari penting.
Bukan sekadar pergantian waktu dan angka, melainkan ada nilai-nilai semangat perjuangan, pengorbanan, dan kemenangan.
Fungsi sebagai pengingat, media promosi dan dapat berfungsi pula sebagai dekorasi.
Meskipun tidak ada pesan spesifik tentang "tahun baru", secara umum awal tahun adalah: Pentingnya Introspeksi Diri (Muhasabah): Meskipun tidak terkait langsung dengan tahun baru, prinsip introspeksi adalah landasan dalam Islam. Umar bin Khattab pernah berwasiat: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (di hari akhir), dan timbanglah perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang" (sebuah nasihat umum yang sering dikutip dalam konteks pergantian waktu). Lalu Ketakwaan dan Keadilan: Kita senantiasa menasihati untuk bertakwa kepada Allah SWT, baik dalam urusan individu maupun dalam kepemimpinan, serta menegakkan keadilan tanpa memandang bulu. Perubahan Menuju Kebaikan: Semangat yang menjadi dasar kalender adalah hijrah ke arah perubahan dari kondisi yang buruk menuju yang lebih baik. Hal ini menginspirasi umat Muslim untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak bermanfaat dan memperbaiki diri di tahun yang baru.
Memanfaatkan Waktu: Umar bin Khattab menekankan untuk menggunakan setiap waktu dalam ketaatan kepada Allah, karena waktu yang berlalu tidak dapat kembali lagi.
Secara ringkas, "pesan" utama dari tahun baru dalam konteks ini adalah momen untuk merefleksikan hijrah (perubahan) diri menuju kondisi yang lebih baik, bertakwa, dan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan perbuatan baik.
Oleh karenanya, pesan di atas kemudian melahirkan suatu konsep perbaikan diri dan peningkatan kualitas hidup untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, karena itu Islam mengajarkan akan pentingnya introspeksi dan evaluasi diri.
Dalam Surah Al-Hashr ayat 18, Allah berfirman:
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."
Ayat ini menekankan pentingnya setiap individu untuk merenungkan tindakan mereka dan berusaha untuk memperbaiki diri. Konsep ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. Dalam konteks ini, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa setiap tindakan baik yang dilakukan hari ini akan berkontribusi pada kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.
Muhasabah bermakna melakukan perbaikan terhadap perbuatan, sikap dalam bentuk kelemahan, kesalahan, dan mempertahankan kebaikan diri sendiri, kelompok dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Allah SWT memberikan kelebihan kepada manusia untuk menentukan masa depan yang lebih baik sebagaimana perintah Allah SWT dalam Surat Ar-Ra'd, ayat 11: Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri agar lebih baik pada masa depan.” Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menentukan arah tujuan hidup yang lebih baik agar memiliki masa depan yang lebih baik. Dalam hal ini, untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, maka kita memerlukan ikhtiar yang matang dalam diri kita.
Mengubah masa depan yang lebih baik diperlukan tiga hal yaitu pertama, ikhtiar yang terencana, terarah, dan terukur agar kehidupan manusia lebih baik. Kedua, ikhtiar yang baik didasarkan atas doa yang memotivasi masa depan. Ketiga, kemampuan manusia melakukan ikhtiar dan doa akhirnya bertawakkal kepada Allah SWT, dan meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pencipta Allah SWT.
Salah satu kunci untuk mencapai perbaikan diri adalah dengan membangun kebiasaan baik. Kebiasaan baik ini tidak hanya mempengaruhi aspek fisik dan mental seseorang, tetapi juga dapat berdampak pada hubungan sosial dan profesional. Dalam konteks ini, kebiasaan baik dapat mencakup berbagai praktik yang salah satunya ialah melakukan manajemen waktu yang efektif.
Manajemen waktu yang baik merupakan aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim, karena waktu adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Dalam Islam, setiap detik yang berlalu memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tidak hanya untuk kepentingan spiritual, tetapi juga untuk kepentingan duniawi, termasuk kepentingan di dunia pekerjaan.
Kebiasaan baik sangat berperan penting dalam membentuk karakter dan disiplin diri. Ketika seseorang secara konsisten melatih diri untuk melakukan hal-hal positif, sejatinya mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan dalam mencapai tujuan pribadi, tetapi juga membangun rasa percaya diri yang kuat. Karena itulah, konsistensi dalam bertindak merupakan salah satu ajaran dari agama Islam sebagaimana yang diterangkan dalam Surat Huud ayat 112, yang artinya: “Maka beristiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Banyak manfaat dari terus melakukan kebiasaan baik, misalnya, seseorang yang meluangkan waktu untuk belajar sesuatu yang baru, maka ia akan merasakan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, yang pada akhirnya dapat membuka peluang baru dalam karier dan jabatan mereka. Hal itu menunjukkan bahwa investasi dalam melakukan kebiasaan baik dapat memberikan hasil yang signifikan dalam jangka panjang untuk setiap aspek kehidupan.
Lebih jauh lagi, dampak dari kebiasaan baik ini tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga meluas ke lingkungan sosial mereka. Ketika seseorang mengadopsi kebiasaan positif, mereka sering kali menjadi panutan bagi orang lain di sekitarnya. Itulah kenapa Rasulullah senantiasa menjadi panutan (uswatun hasanah) bagi seluruh alam, karena tingkah laku Rasulullah seluruhnya adalah kebaikan, bahkan setiap ucapannya adalah kebenaran yang menjadi hukum bagi segenap umat Muslim. Karena itu, kebiasaan baik memiliki potensi untuk menciptakan efek domino yang positif dalam komunitas.
Namun, penting untuk diingat bahwa membangun kebiasaan baik tidak selalu mudah. Proses ini memerlukan komitmen dan konsistensi, serta kesadaran akan tantangan yang mungkin dihadapi. Banyak orang mengalami kesulitan dalam mempertahankan kebiasaan baik karena godaan untuk kembali ke kebiasaan lama yang lebih nyaman. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan tujuan yang realistis dan menciptakan sistem dukungan yang dapat membantu mempertahankan motivasi. Dalam hal ini, dukungan dari rekan kerja, keluarga, atau pun orang terdekat dapat menjadi faktor kunci dalam kesuksesan seseorang dalam membangun kebiasaan baik.
Secara keseluruhan, membangun kebiasaan baik merupakan langkah penting dalam perjalanan menuju perbaikan diri. Kebiasaan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi individu secara pribadi, tetapi juga dapat memperkuat hubungan sosial dan profesional mereka. Dengan memahami pentingnya kebiasaan baik dan berkomitmen untuk mengadopsinya, setiap individu memiliki potensi untuk mencapai tujuan mereka dan menciptakan dampak positif dalam kehidupan mereka dan orang lain di sekitar mereka. Langkah awal untuk perbaikan diri yang berkelanjutan adalah dengan mengenali dan mengembangkan kebiasaan baik yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
*Penulis tinggal di Lampung Barat.


